Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG-20260214-WA0019.jpg
IDN Times/Komdigi

Intinya sih...

  • Budaya bersih tak boleh bergantung pada OBMeutya Hafid menekankan pentingnya setiap pegawai bertanggung jawab terhadap kebersihan ruang kerjanya. Budaya korve rutin harus menjadi bagian dari etos kerja ASN.

  • Rutin setiap Jumat jelang Ramadan dan ImlekMomentum menjelang Ramadan dan Imlek dimanfaatkan sebagai titik awal pembiasaan gerakan bersih ini. Kegiatan korve dilakukan setiap Jumat pagi untuk menyambut bulan ibadah dan hari besar keagamaan.

  • Fondasi tata kelola profesionalGerakan ASRI diposisikan sebagai fondasi membangun tata kelola pemerintahan yang profesional, aman, dan sehat. Kebersihan dipandang sebagai refleksi tanggung

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tak hanya dimaknai sebagai kegiatan bersih-bersih rutin. Lebih dari itu, gerakan ini diarahkan menjadi fondasi pembangunan budaya kerja ramah lingkungan di lingkungan birokrasi.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan, gerakan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto agar kementerian dan lembaga menghadirkan lingkungan kerja yang tertib, sehat, dan aman sebagai bagian dari tata kelola pemerintahan profesional.

Namun, dalam perspektif yang lebih luas, kebersihan juga dipandang sebagai pintu masuk menuju praktik perkantoran yang berkelanjutan.

1. Kebersihan sebagai kesadaran ekologis

IDN Times/Komdigi

Meutya menegaskan, budaya bersih tidak boleh hanya bersifat seremonial. Setiap pegawai harus memiliki kesadaran ekologis terhadap ruang kerja dan lingkungan sekitarnya.

“Hari ini kita sebarkan kegiatan ASRI sampai ke ruang kerja. Kita tidak hanya mengandalkan OB. Kebiasaan ini harus kita lakukan terus,” ujarnya.

Pendekatan ini menekankan tanggung jawab individu dalam pengelolaan sampah, efisiensi ruang, hingga penggunaan fasilitas kantor secara bijak. Disiplin sederhana seperti memilah sampah dan menjaga kerapian dinilai menjadi dasar transformasi menuju green office.

2. Korve rutin dorong perubahan perilaku

IDN Times/Komdigi

Komdigi menetapkan kegiatan korve setiap Jumat pagi, khususnya menjelang Ramadan dan Imlek. Kebijakan ini bukan semata persiapan simbolik, tetapi upaya membangun perubahan perilaku yang konsisten.

Budaya bersih yang dilakukan bersama diharapkan memperkuat rasa kepemilikan terhadap lingkungan kerja. Ketika aparatur negara terlibat langsung, nilai keberlanjutan tidak berhenti pada slogan, melainkan menjadi praktik harian.

Langkah ini juga sejalan dengan tren global di mana institusi publik mulai menerapkan standar operasional berbasis lingkungan, termasuk efisiensi energi dan pengurangan limbah.

3. Tata kelola hijau sebagai wajah birokrasi modern

IDN Times/Komdigi

Gerakan ASRI menjadi sinyal bahwa reformasi birokrasi tidak hanya menyentuh aspek digital dan layanan, tetapi juga tata kelola lingkungan.

Dengan melibatkan pejabat tinggi hingga staf, Komdigi ingin menanamkan disiplin kolektif yang berkelanjutan. Lingkungan kerja yang bersih dan sehat dipandang sebagai refleksi profesionalisme serta kredibilitas institusi.

Melalui pendekatan ini, Komdigi mendorong perubahan paradigma: kebersihan bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari strategi membangun birokrasi modern yang adaptif, bertanggung jawab, dan berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.

Editorial Team