Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dampak Pandemi COVID-19 Global, Ekspor Produk Lokal Cirebon Merosot
Proses produksi jaring nelayan di PT Arida Kota Cirebon. (IDN Times/Wildan Ibnu)

Cirebon, IDN Times - Wabah virus corona atau COVID-19 yang sudah merambah di semua provinsi di Indonesia berdampak bagi kegiatan ekonomi di segala sisi. Tak terkecuali bagi industri produsen jaring ikan milik PT Arteria Daya Mulia (Arida) di Kota Cirebon, Jawa Barat.

Pangsa pasar ekspor terbesar mereka seperti di Singapura, Iran dan Maroko juga mengalami krisis akibat dampak masa pandemi global COVID-19. Kegiatan produksi perusahaan padat karya tersebut turun drastis hingga 50 persen.

1. Produksi disesuaikan permintaan pasar

Proses produksi jaring nelayan di PT Arida Kota Cirebon. (IDN Times/Wildan Ibnu)

General Manager PT Arida Arif Yudi Santoso mengatakan, hasil produksi jaring baik persediaan pasar lokal maupun ekspor menurun drastis selama masa pandemi COVID-19. Banyak daerah yang memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat permintaan jaring di berbagai daerah turun.

Kondisi itu membuat laba bersih pendapatan perusahaan menurun hingga hampir mencapai 50 persen. Arif mengatakan, penurunan tersebut seiring dengan adanya penambahan daerah yang memberlakukan PSBB. Akibatnya, para agen langganannya mengurangi aktivitas. Kondisi tersebut pun berujung turunnya tingkat permintaan dan berujung pada neraca keuangan perusahaan.

"Karena daerah yang memberlakukan PSBB bertambah, membuat agen-agen kami mengurangi aktivitas. Terakhir di Surabaya. Di sana penjualan berkurang, aktivitas berkurang, larinya pasti ke pendapatan yang berkurang," ujarnya kepada IDN Times, Selasa (19/5).

2. Permintaan menurun akibat pandemi

Proses produksi jaring nelayan di PT Arida Kota Cirebon. (IDN Times/Wildan Ibnu)

Pandemi COVID-19 secara global pun membuat kegiatan ini ekspor jaring menurun. Arif mengutarakan, pasar jaring buatan PT Arida ini merambah ke hampir semua negara di benua Eropa, Asia dan Afrika. Pasar ekspor terbesar dikirim ke Singapura, Iran dan Maroko. Ia menjelaskan, komposisi distribusi jaring di PT Arida yaitu 60 persen peruntukan lokal dan 40 persen untuk kebutuhan ekspor.

"Industri jaring ini jelas terdampak. Karena bergantung supply and demand. Kalau kegiatan nelayan berkurang, tentu permintaan jaring berkurang. Kami ekspor hampir ke seluruh dunia, kecuali benua Australia dan Amerika," katanya.

3. Pasar lokal sudah habis

Proses produksi jaring nelayan di PT Arida Kota Cirebon. (IDN Times/Wildan Ibnu)

Sejauh ini, ekspor dengan tujuan ketiga negara utama itu masih berlanjut hingga saat ini. Akan tetapi jumlah permintaan mengalami penurunan yang signifikan. Seperti untuk ke Singapura, pengiriman jaring paling tinggi hanya 40 persen saja dari biasanya.

Untuk bulan ini, kebutuhan ekspor jaring hanya 5 persen dari produksi. Sementara itu untuk kebutuhan di tingkat lokal, Arif memastikan tidak ada kegiatan produksi untuk pasar lokal, mengingat sebagian besar daerah memberlakukan PSBB.

"Bulan ini untuk ekspor hanya 5 persen. Sedangkan kalau lokal sudah terjun bebas," ujar Arif.

4. Menjamin hak dasar karyawan tetap diberi

Proses produksi jaring nelayan di PT Arida Kota Cirebon. (IDN Times/Wildan Ibnu)

Arif mengaku pandemi COVID-19 membuat kondisi perusahaan sedang bertahan dengan sekuat tenaga. Situasi seperti ini pun berimbas kepada 2.900 karyawan PT Arida. Menurutnya, perusahaan berupaya mengeluarkan kebijakan agar hak dasar karyawan tetap diberikan meskipun perusahaan dalam kondisi lesu.

PT Arida tetap memberi gaji normal kepada semua karyawan dan jumlah tunjangan hari raya yang diberikan secara utuh. Hanya saja THR diberikan separuh, dan sisanya akan dibayarkan di lain waktu. Arif menegaskan, di luar kebutuhan dasar, seperti premi khusus, paket wisata, lembur kerja dan lain-lain, akan dibicarakan lebih lanjut dengan karyawan.

"Ada beberapa yang tidak diberikan di luar kebutuhan basic seperti premi khusus, wisata, kita bicarakan dengan karyawan, termasuk juga lembur. Karena pendapatan perusahaan berkurang, kami berembuk, solusinya yaitu ada yang dikurangi. Kenaikan jabatan golongan pun ditunda" tutupnya.

Editorial Team