Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG_0612.jpeg
Puskesmas Simpenan (IDN Times/Siti Fatimah)

Intinya sih...

  • Dinkes fokus tangani korban keracunan tahu berjamur MBG

  • Prioritaskan penyelamatan pasien dengan triase di puskesmas dan rujukan ke RSUD Palabuhanratu

  • Belum ditetapkan sebagai KLB, Dinkes siagakan RSUD dan koordinasi dengan Kodim dan Basarnas

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kabupaten Sukabumi, IDN Times – Kasus dugaan keracunan makanan akibat konsumsi tahu berjamur dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sukabumi terus menjadi perhatian. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi menyatakan saat ini fokus utama adalah penanganan medis korban, bukan penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB).

Berdasarkan data terbaru, jumlah warga yang mengalami gejala keracunan mencapai 22 orang. Dari jumlah tersebut, enam orang dirujuk ke RSUD Palabuhanratu, satu orang masih dalam observasi di puskesmas, dan 15 orang lainnya telah diperbolehkan pulang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi, mengatakan penanganan korban dilakukan secara bertahap melalui fasilitas kesehatan terdekat, dimulai dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan.

1. Dinkes prioritaskan penyelamatan pasien

Suasana Puskesmas Simpenan saat tangani korban keracunan MBG (dok IDN Times)

Masykur menjelaskan, setiap laporan keracunan makanan langsung ditindaklanjuti oleh puskesmas dengan prinsip utama life saving atau penyelamatan nyawa.

“Ketika ada kejadian seperti keracunan makanan, tugas kami melalui puskesmas adalah penanganan pasien. Pasien yang datang langsung dilakukan triase, kemudian dipilah sesuai kondisi kesehatannya,” kata Masykur, Kamis (29/1/2026).

Ia menambahkan, pasien yang masih bisa ditangani akan distabilkan di puskesmas. Namun, jika membutuhkan penanganan lanjutan, korban langsung dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan.

2. RSUD Palabuhanratu disiagakan

Ilustrasi RSUD dr Moewarni. (IDN Times/Larasati Rey)

Dinkes Kabupaten Sukabumi juga telah berkoordinasi dengan rumah sakit rujukan untuk mengantisipasi lonjakan pasien. “Saya sudah koordinasi dengan fasilitas rujukan, salah satunya RSUD Palabuhanratu. Direkturnya sudah siap siaga jika ada pasien tambahan,” ujarnya.

Bahkan, Dinkes menyiapkan langkah antisipatif jika jumlah korban terus bertambah, termasuk menyiapkan tempat perawatan tambahan.

“Kalau skenario terburuk terjadi dan tempat tidak mencukupi, kami juga sudah berkoordinasi dengan Kodim dan Basarnas untuk kemungkinan peminjaman tempat tidur,” katanya.

3. Belum ditetapkan sebagai KLB

Siswa Cianjur dilarikan ke IGD usai keracunan MBG (IDN Times/Istimewa)

Terkait status KLB, Masykur menegaskan ia belum membahas ke arah tersebut. Menurutnya, saat ini yang terpenting adalah memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan optimal.

“Kami belum bicara dulu KLB atau bukan. Intinya tugas kesehatan adalah bergerak cepat menangani pasien dan bersikap antisipatif,” tuturnya.

Masykur memastikan bahwa program MBG yang telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) secara otomatis berada dalam pengawasan Dinkes.

“Ketika MBG sudah mendapatkan SLHS, itu sudah menjadi kewajiban Dinas Kesehatan untuk melakukan monitoring dan evaluasi. Rekomendasi SLHS juga berasal dari kami,” katanya.

“Kalau penyebab utamanya, kami belum bisa memastikan. Dugaan sementara memang dari makanan,” ujar dia.

Editorial Team