Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
CKG Kalah dari Jatim, Dinkes Jabar Jemput Bola ke Pabrik-pabrik
Kepala Dinkes Provinsi Jawa Barat, Raden Vini Adiani Dewi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

  • Tingkat partisipasi CKG di Jawa Barat masih kalah dibandingkan dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur.

  • Dinkes Provinsi Jawa Barat akan menjemput bola ke pabrik-pabrik yang rendah partisipasinya dalam program CKG.

  • Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan terlebih dahulu menjemput bola ke komunitas-komunitas yang ada, mulai dari ibu-ibu pengajian dan organisasi Islam agar dapat memanfaatkan program CKG.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Tingkat partisipasi masyarakat Jawa Barat dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) masih kalah dibandingkan dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan tingkat partisipasi masyarakat Jabar kini berada di urutan keenam di level nasional.

Untuk menggenjot kembali tingkat partisipasi dari program Presiden Prabowo Subianto ini, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat akan turun langsung menjemput bola ke pekerja pabrik-pabrik yang dirasa sangat rendah dalam memanfaatkan CKG di Puskesmas.

"Nanti kami akan merambah ke pabrik. Jadi rata-rata pekerja kita tuh sama nih sibuk tidak ada waktu gitu ya. Ada rencana ke situ karena tadi kan pabrik itu kan ada ribuan ya," ujar Kepala Dinkes Provinsi Jawa Barat, Vini Adiani Dewi saat ditemui setelah pengecekan CKG di SMPN 5 Bandung bersama Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, Senin (4/8/2025).

1. Akan terlebih dahulu jemput bola ke komunitas-komunitas pengajian

Kepala Dinkes Provinsi Jawa Barat, Raden Vini Adiani Dewi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Untuk sementara ini, Vini mengatakan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan terlebih dahulu menjemput bola ke komunitas-komunitas yang ada, mulai dari ibu-ibu pengajian dan organisasi Islam agar dapat memanfaatkan program CKG.

Beberapa organisasi yang sudah melakukan perjanjian kerja sama yaitu Muslimat NU, Fatayat NU, Aisyiyah Muhamadiyah, dan Salimah.

"Nah, untuk sementara ini kami ke komunitas dulu gitu. Nanti kalau udah mulai lenggang masyarakat. Seperti sebetulnya ya, Pak Gubernur itu sudah mengeluarkan surat edaran OPD (organisasi perangkat daerah) wajib CKG," katanya.

2. CKG di komunitas tidak kumplit seperti di Puskesmas

(IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Menurutnya, setiap OPD Provinsi Jawa Barat memang akan diwajibkan melakukan CKG di puskesmas yang sudah ada di wilayah masing-masing. Hanya saja, saat ini akan diprioritaskan untuk masyarakat terlebih dahulu.

"Cuma Puskesmas sekarang masih agak sibuk nih. Nah, nanti, seperti kalau kami nih di Dinkes 100 persen harus CKG. Makanya kalau teman-teman di Dinkes rata-rata udah pada CKG," tuturnya.

Meski demikian, untuk CKG di komunitas ini memiliki kekurangan dibandingkan langsung ke puskesmas. Proses cek kesehatan di sana tidak dilakukan secara menyeluruh.

"Tapi jeleknya kalau CKG komunitas enggak kumplit, kayak kalau di puskesmas gitu. Kalau di puskesmas sampai ada pemeriksaan IVA. IVA itu untuk anti-kanker serviks, itu diperiksa," kata dia.

3. CKG Jabar baru capai capai 2,4 juta orang

Salah satu siswa SMPN 5 Kota Bandung saat mengikuti CKG (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Sebelumnya, Menkes Budi Gunadi Sadikin menyatakan, program CKG ini tergolong banyak dimanfaatkan oleh masyarakat di daerah-daerah Indonesia, dan jumlah per harinya pun mengalami peningkatan dari awal program ini diterapkan di Puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya.

"Sekarang, per kemarin sudah 16 juta orang. Jadi mulanya kan 10 Februari 2025, per kemarin sudah 16 juta, dan per harinya saya sudah lihat 250-280 ribu per hari. Jadi kalau sebulan 25 kali itu sepuluh ribu, lima setengah juta sebulan," ujar Budi saat memantau langsung CKG untuk murid sekolah di SMPN 5 Kota Bandung, Senin (4/8/2025).

Dalam perjalanannya, Jawa Barat mengalami peningkatan partisipasi CKG dari sebelumnya yang sempat tertinggal dari beberapa provinsi lainnya. Budi mengatakan, kini sudah 2,4 juta masyarakat Jabar yang memanfaatkan program ini.

"Jawa Barat sudah 2,4 juta. Jawa Barat dulu di bawah. Dulu paling banyak nomor satu Jawa Timur. Jawa Barat nomor enam. Sekarang naik," ucapnya.

Editorial Team