Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cirebon Siap Jadi Markas Benih Tebu Unggul Nasional
ilustrasi tebu (freepik.com/bdspn)
  • Pemerintah menyiapkan Kebun Benih Datar di Cirebon sebagai pusat pengembangan benih tebu unggul nasional untuk memperbaiki produktivitas dan mendukung target swasembada gula.
  • Program KBD menitikberatkan pada peningkatan kualitas benih agar efisien, menekan biaya produksi, serta menjadi investasi jangka panjang bagi industri gula nasional.
  • Petani berharap dukungan modernisasi alat pertanian dan pendampingan teknis agar benih unggul dapat meningkatkan rendemen gula serta menarik minat generasi muda ke sektor pertanian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Cirebon, IDN Times- Pemerintah mulai menyiapkan Kebun Benih Datar (KBD) di Kabupaten Cirebon sebagai pusat pengembangan benih tebu unggul nasional.

Program ini diproyeksikan menjadi fondasi perbaikan produktivitas tebu rakyat sekaligus menopang target swasembada gula melalui pembenahan sektor hulu pertanian.

Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Hermansyah, mengatakan pembangunan KBD diarahkan untuk memastikan petani memperoleh benih tebu berkualitas, seragam, dan sesuai karakter lahan setempat.

Menurut dia, persoalan utama produktivitas tebu selama ini berulang pada kualitas benih yang terus menurun akibat penggunaan bibit turun-temurun.

"Jika benih diperbaiki dari sumbernya melalui KBD, dampaknya akan berantai terhadap produksi, kualitas gula, dan pendapatan petani," kata Hermansyah, Jumat (15/5/2026).

Ia menilai Cirebon memiliki agroklimat yang mendukung untuk menjadi pusat perbenihan tebu di Jawa Barat karena selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah sentra tebu rakyat.

1. Fokus perbaikan dari hulu produksi

Pemerintah mulai menyiapkan Kebun Benih Datar (KBD) di Kabupaten Cirebon sebagai pusat pengembangan benih tebu unggul nasional. (Istimewa)

Skema KBD menempatkan sektor perbenihan sebagai titik awal pembenahan rantai produksi gula. Pemerintah ingin meningkatkan produktivitas tanpa membuka lahan baru dengan menitikberatkan pada kualitas input pertanian.

Hermansyah menjelaskan, pendekatan tersebut berbeda dengan pola intensifikasi konvensional yang selama ini lebih fokus pada penambahan pupuk atau perluasan area tanam.

Melalui KBD, benih unggul diproduksi dan diseleksi langsung berdasarkan kondisi wilayah sehingga risiko ketidaksesuaian varietas dapat ditekan.

Menurut dia, penggunaan benih sehat juga diharapkan menurunkan biaya produksi petani. Selama ini, banyak kebun tebu rakyat menghadapi tingginya biaya pemupukan dan perawatan akibat kualitas benih yang terus menurun.

"Benih yang baik akan membuat kebutuhan input lebih efisien dan produktivitas meningkat," ujarnya.

Program hilirisasi melalui penguatan perbenihan itu juga dipandang sebagai investasi jangka panjang. Pemerintah menilai hasilnya mungkin tidak langsung terlihat dalam satu musim tanam, tetapi berdampak berkelanjutan terhadap industri gula nasional.

2. Petani dorong modernisasi alat pertanian

Rasa manis es tebu yang memberikan rasa bahagia (freepik.com)

Di tingkat petani, kebutuhan benih unggul dinilai harus berjalan seiring dengan modernisasi alat pertanian. Ketua Koperasi Semangat Masyarakat (SEMAR), Rahmat, mengatakan produktivitas tebu sulit meningkat signifikan jika proses budidaya masih mengandalkan pola kerja manual.

"Kami membutuhkan traktor, sugar cane harvester, dan drone pertanian. Tanpa dukungan alat modern, benih unggul tidak akan optimal di lapangan," katanya.

Rahmat menyebut keterbatasan tenaga kerja menjadi tantangan utama sektor tebu rakyat. Di sisi lain, minat generasi muda untuk bekerja di sektor pertanian juga terus menurun karena proses budidaya dianggap berat dan kurang efisien.

Menurut dia, mekanisasi dapat mempercepat proses tanam hingga panen sekaligus meningkatkan daya tarik sektor pertanian bagi kalangan muda.

"Kalau prosesnya cepat dan efisien, hasilnya terlihat. Itu yang bisa mengubah cara pandang generasi muda terhadap pertanian," ujarnya.

3. Dorong rendemen dan produksi gula

ilustrasi tebu (freepik.com/bdspn)

Petani berharap keberadaan KBD di Cirebon tidak hanya meningkatkan tonase tebu, tetapi juga mendongkrak rendemen gula yang selama ini menjadi persoalan di tingkat pabrik gula maupun petani.

Rahmat mengatakan, selama ini produktivitas kebun rakyat kerap stagnan akibat penggunaan varietas yang tidak lagi optimal. Dengan sistem perbenihan berbasis wilayah, kualitas tebu diharapkan lebih stabil dan sesuai kebutuhan industri gula.

Hermansyah menambahkan, keberhasilan program tersebut bergantung pada konsistensi pendampingan teknis, distribusi benih yang tepat sasaran, serta dukungan alat pertanian modern agar program tidak berhenti pada tahap percontohan.

"Perbenihan adalah investasi jangka panjang. Dampaknya memang tidak instan, tetapi akan menentukan keberlanjutan produksi gula nasional," katanya.

Editorial Team