Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cirebon Butuh Akselerasi, Investasi Industri Masih Moderat
ilustrasi industri nuklir di Pakistan (pexels.com/Pixabay)
  • Investasi industri Cirebon naik dari Rp543,9 miliar pada 2021 menjadi Rp607,9 miliar pada 2025, namun pertumbuhannya masih moderat dan belum mengubah struktur industri secara signifikan.
  • Industri rotan dan meubel tetap mendominasi investasi daerah, sementara sektor makanan ringan dan konveksi mulai tumbuh cepat meski kontribusinya belum mampu menyaingi sektor tradisional.
  • BPS menilai pertumbuhan industri belum merata antar sektor; dibutuhkan akselerasi investasi dan diversifikasi agar potensi sektor baru bisa memperkuat ekonomi Cirebon ke depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Cirebon, IDN Times - Investasi pada sektor industri unggulan di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menunjukkan tren meningkat dalam lima tahun terakhir. Namun, kenaikan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mendorong perubahan signifikan dalam struktur industri daerah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total nilai investasi industri meningkat dari Rp543,9 miliar pada 2021 menjadi Rp607,9 miliar pada 2025. Pertumbuhan ini terjadi secara konsisten setiap tahun, meski dengan laju yang relatif moderat.

Kepala BPS Kabupaten Cirebon, Januarto Wibowo, mengatakan tren tersebut mencerminkan adanya aktivitas industri yang terus berjalan, tetapi belum memasuki fase ekspansi besar.

“Secara tren memang meningkat setiap tahun, tetapi kenaikannya masih bertahap. Ini menunjukkan aktivitas industri berjalan, namun belum pada fase ekspansi besar,” ujar Januarto, Senin (27/4/2026).

1. Industri tradisional masih dominan

Ilustrasi Industri garmen (pexels.com/Ivan Samkov)

Deni mengatakan, sejumlah sektor tradisional masih menjadi penopang utama investasi industri di Kabupaten Cirebon. Industri meubel dan kerajinan rotan, misalnya, mencatat nilai investasi terbesar, meningkat dari Rp338,3 miliar pada 2021 menjadi Rp359,0 miliar pada 2025.

Dominasi sektor rotan juga terlihat dari kontribusinya terhadap nilai produksi. Pada 2025, nilai produksi industri rotan mencapai lebih dari Rp2,5 triliun, menjadikannya tulang punggung industri lokal.

Selain itu, sektor lain seperti batu alam, emping melinjo, dan kerajinan kulit kerang cenderung stagnan. Baik dari sisi investasi maupun tenaga kerja, sektor-sektor ini belum menunjukkan pertumbuhan berarti dalam beberapa tahun terakhir.

"Kondisi tersebut menandakan struktur industri daerah masih bertumpu pada sektor lama, dengan diversifikasi yang relatif terbatas," katanya.

2. Sektor baru mulai tumbuh lebih cepat

ilustrasi industri di Indonesia yang masih memakai bahan bakar fosil (unsplash.com/Chris LeBoutillier)

Di tengah dominasi industri tradisional, kata Deni, beberapa sektor mulai menunjukkan pertumbuhan lebih cepat. Industri konveksi mencatat peningkatan investasi dari Rp49,1 miliar pada 2021 menjadi Rp71,6 miliar pada 2025.

Sementara itu, industri roti dan makanan ringan mengalami lonjakan signifikan, baik dari sisi tenaga kerja maupun nilai produksi. Jumlah tenaga kerja di sektor ini meningkat dari 12.266 orang pada 2021 menjadi 22.318 orang pada 2025. Nilai produksinya juga naik dari Rp414,8 miliar menjadi Rp667,6 miliar.

Menurut Januarto, perkembangan sektor makanan dan konveksi menjadi indikasi adanya dinamika baru dalam industri lokal. Namun, kontribusinya masih belum cukup besar untuk menggeser dominasi sektor lama.

“Memang ada sektor yang tumbuh lebih cepat, seperti makanan dan konveksi. Tapi secara keseluruhan, struktur industrinya masih relatif sama, belum berubah signifikan,” katanya.

3. Pertumbuhan belum merata dan tantangan ke depan

ilustrasi industri (pixabay.com/wal_172619)

Selain investasi, indikator lain juga menunjukkan tren peningkatan. Jumlah tenaga kerja industri naik dari 110.895 orang pada 2021 menjadi 128.444 orang pada 2025. Nilai produksi industri turut meningkat dari Rp3,49 triliun menjadi Rp3,95 triliun dalam periode yang sama.

Meski demikian, pertumbuhan tersebut dinilai belum merata antar sektor. Kenaikan investasi masih terkonsentrasi pada beberapa komoditas tertentu, sehingga dampaknya terhadap produktivitas industri secara keseluruhan masih terbatas.

“Kalau kita lihat, kenaikan investasi ini belum merata di semua sektor. Jadi dampaknya terhadap pertumbuhan industri secara agregat juga masih terbatas,” ujar Januarto.

BPS menilai sektor industri di Kabupaten Cirebon saat ini masih berada pada fase konsolidasi. Untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi, diperlukan peningkatan investasi yang lebih besar serta penguatan sektor-sektor baru yang memiliki potensi berkembang lebih cepat.

“Ke depan, tantangannya bagaimana investasi tidak hanya meningkat, tetapi juga mampu mendorong diversifikasi dan peningkatan nilai tambah industri,” kata Januarto.

Topics

Editorial Team