Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cirebon Bidik Cuan dari Limbah Kerang Hijau untuk Industri Pangan
ilustrasi kerang hijau (vecteezy.com/117783397668548175419)
  • Disperdagin Cirebon mengembangkan pemanfaatan limbah kerang hijau menjadi tepung kalsium karbonat bernilai ekonomi tinggi untuk industri pangan, sekaligus mengurangi pencemaran dan membuka peluang usaha pesisir.
  • Program ini dikembangkan bersama organisasi GIZ dari Jerman dan kini memasuki tahap uji coba lapangan guna menilai efektivitas produksi serta kesiapan pelaku usaha lokal.
  • Limbah kerang juga dipertimbangkan untuk material pemadatan jalan, sementara sektor kerajinan masih menghadapi kendala bahan baku sehingga fokus diarahkan pada pengolahan yang cepat diimplementasikan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Cirebon, IDN Times - Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Cirebon mengajukan pemanfaatan limbah kerang hijau sebagai bahan baku tepung kalsium karbonat untuk kebutuhan industri, khususnya sektor pangan.

Inisiatif ini muncul dari hasil kajian teknis yang melibatkan mitra pengembangan, dengan fokus pada peningkatan nilai tambah limbah sekaligus pengurangan beban lingkungan.

Kepala Disperdagin Kabupaten Cirebon, Suhartono mengatakan, potensi limbah kerang cukup besar dan selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Kandungan kalsium karbonat di dalamnya dinilai layak diolah menjadi bahan pengawet makanan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding sekadar limbah.

“Kerang hijau mengandung kalsium karbonat yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pengawet makanan,” ujar Suhartono, Minggu (2/5/2026).

1. Potensi produksi dan nilai tambah

ilustrasi kerang hijau segar (vecteezy.com/banprik)

Disperdagin mencatat volume limbah kerang hijau di wilayah tersebut mencapai puluhan ton. Dari sekitar 25 ton limbah, proses pengolahan dapat menghasilkan kurang lebih lima ton tepung kalsium karbonat.

Produk ini dinilai memiliki peluang pasar yang terbuka, terutama untuk industri pangan dan pengolahan bahan tambahan.

Transformasi limbah menjadi produk turunan dinilai mampu menciptakan rantai ekonomi baru. Selain mengurangi pencemaran, pengolahan ini juga membuka peluang usaha bagi pelaku industri kecil dan menengah di daerah pesisir.

Suhartono menilai pendekatan ini lebih realistis untuk dikembangkan dalam waktu dekat dibandingkan sektor lain yang masih membutuhkan kesiapan bahan baku dan teknologi lebih kompleks.

"Ini lebih memungkinkan untuk segera dijalankan dalam skala industri,” katanya.

2. Masih dalam tahap ujicoba

ilustrasi kerang hijau (vecteezy.com/adi657010679396)

Suhartono mengatakan, pengembangan program ini tidak berjalan sendiri. Disperdagin menggandeng diaspora Jerman melalui organisasi GIZ dalam proses kajian dan perencanaan teknis.

Kolaborasi tersebut bertujuan memastikan metode pengolahan sesuai standar dan memiliki kelayakan ekonomi.

Hasil kajian kini memasuki fase implementasi terbatas. Tahapan ini difokuskan pada uji coba langsung di lapangan guna melihat efektivitas produksi serta potensi pasar dari produk tepung kalsium karbonat.

“Dalam waktu dekat sudah bisa dieksekusi untuk tahap awal, supaya bisa diuji langsung di Kabupaten Cirebon,” ujar Suhartono.

Uji coba ini juga menjadi langkah penting untuk mengukur kesiapan pelaku usaha lokal dalam mengadopsi teknologi pengolahan limbah tersebut.

3. Alternatif pemanfaatan hingga dan tantangan industri

ilustrasi kerang hijau (freepik.com/freepik)

Selain sebagai bahan pengawet, limbah kerang juga dipertimbangkan untuk digunakan sebagai material pemadatan jalan. Opsi ini dinilai mampu menjadi solusi cepat dalam mengatasi penumpukan limbah di kawasan pesisir.

Di sisi lain, pemanfaatan kerang sebagai bahan baku industri kerajinan masih menghadapi sejumlah kendala. Sebagian pelaku usaha di Cirebon masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, sehingga pengembangan berbasis bahan baku lokal belum menjadi prioritas utama.

Suhartono menilai penguatan sektor kerajinan berbasis kerang membutuhkan waktu lebih panjang, termasuk dari sisi ketersediaan bahan, kualitas, serta konsistensi produksi.

Oleh sebab itu, fokus utama saat ini diarahkan pada pengolahan limbah menjadi produk yang lebih cepat diimplementasikan.

“Maka ke depan perlu ditindaklanjuti agar bisa masuk tahap pemanfaatan yang lebih luas,” tuturnya.

Topics

Editorial Team