ilustrasi pengangguran (unsplash.com/Tom Morel)
Kepala BPS Jawa Barat, Darwis Sitorus mengatakan, tingginya angka pengangguran di Ciayumajakuning sebagian besar disebabkan oleh belum optimalnya pengembangan sumber daya manusia.
Ia menyebut, banyak pencari kerja tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.
“Banyak yang menganggur itu sebenarnya sudah pernah bekerja, artinya mereka kehilangan pekerjaan namun belum terserap kembali. Di sisi lain, kelompok yang belum pernah bekerja juga menunjukkan kalau transisi dari pendidikan ke dunia kerja belum berjalan mulus,” kata Darwis, Jumat (27/6/2025).
Ia menambahkan, transformasi ekonomi digital dan industri berbasis teknologi juga menuntut kompetensi yang lebih spesifik, yang belum banyak dimiliki oleh para pencari kerja di wilayah-wilayah ini.
Darwis juga menyoroti perbedaan karakteristik antar daerah di Ciayumajakuning. Kabupaten Cirebon dan Indramayu misalnya, memiliki populasi penduduk usia produktif yang besar, namun infrastruktur ekonomi belum cukup kuat untuk menampung seluruh angkatan kerja.
Sebaliknya, Kota Cirebon sebagai wilayah perkotaan memiliki peluang kerja lebih beragam di sektor jasa, perdagangan, dan pariwisata, meski dengan kapasitas lebih kecil.
Kabupaten Kuningan dan Majalengka relatif mengandalkan sektor pertanian dan pariwisata yang juga sangat bergantung pada musim dan kondisi pasar.
"Kabupaten Cirebon memang menjadi wilayah dengan populasi besar, tetapi laju pertumbuhan sektor industrinya belum mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja baru,” ujarnya.