Bandung, IDN Times - Dari dapur sederhana di sebuah ruko di kawasan Pasir Kaliki, Bandung, perjalanan Rasa Juara dimulai tanpa banyak rencana besar. Tahun 2015, Christ Abraham memanfaatkan lantai satu ruko yang sebelumnya tak terpakai. Di atasnya, bisnis software house berjalan seperti biasa. Sementara di bawah, dapur kecil mulai mengepul, menyajikan nasi goreng seharga Rp15 ribu untuk para pekerja kantoran di sekitar.
Konsep awalnya pun sederhana, menghadirkan berbagai jajanan khas seperti cireng rujak hingga nasi goreng dalam format food court. Bahkan, ide seblak yang kini jadi produk andalan sempat dipandang sebelah mata. Istrinya yang pertama kali mengenalkan makanan itu menyebutnya “makanan campur-campur”, membuat Christ sempat ragu.
“Kebetulan istri saya kenal seblak. Dia bilang, “Ini ada makanan ini sampah,” karena semua dicampur. Saya pertama lihat bingung ini makanan apa, kerupuk dibasahin. Ternyata setelah dicoba rasanya very rich. Dari situ kita coba masukin ke menu,” kata Christ ditemui di kantornya, Rabu (22/4/2206).
Perjalanan bisnis ini kemudian berlanjut saat Christ mengikuti program food startup di Surabaya pada 2018. Dari situ muncul ide membuat produk kemasan. Awalnya, kemasan sederhana dengan stiker seadanya justru menuai banyak kritik. Tapi dari fase itu, Rasa Juara mulai belajar bahwa membangun jenama industri barang kebutuhan sehari-hari bukan sekadar jualan, melainkan soal kualitas, rasa, hingga komunikasi produk.
