Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BMKG Soal 7 Kali Rentetan Gempa Guncang Sukabumi-Bogor, 34 Rumah Rusak
Analisis BMKG soal gempa Sukabumi-Bogor (IDN Times/dok BMKG)
  • BMKG mencatat tujuh gempa dangkal berkekuatan M1,6 hingga M4,1 mengguncang perbatasan Sukabumi-Bogor pada 15 Oktober 2026, dengan lima gempa susulan hingga dini hari.
  • Gempa dipicu aktivitas struktur geologi atau sesar lokal, sementara BMKG masih menganalisis hiposenter dan mekanisme sumber untuk memastikan jalur sesar pemicunya.
  • Sebanyak 34 rumah rusak ringan di Bogor dan Sukabumi; BMKG meminta warga tidak panik, menghindari hoaks, serta memantau informasi resmi dan tetap siaga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Tujuh gempa menggoyang Bogor dan Sukabumi pada Kamis sore. Gempa paling besar M 4,1. Ada 34 rumah yang rusak ringan, 15 di Bogor dan 19 di Sukabumi. BMKG bilang gempa terjadi karena tanah bergerak di bawah. BMKG masih memeriksa dan meminta orang tidak panik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Respons BMKG yang cepat dalam mencatat rangkaian gempa, memetakan kerusakan ringan, dan terus mengkaji sumber aktivitasnya memberi warga informasi yang lebih jelas di tengah situasi mengkhawatirkan. Penegasan bahwa gempa susulan bukan kepastian bencana lebih besar juga membantu meredakan kepanikan, sambil menjaga perhatian masyarakat pada pembaruan resmi dan kesiapsiagaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sukabumi, IDN Times - Wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi diguncang serangkaian gempa bumi pada Kamis (15/10/2026) sore. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat terjadi tujuh kali gempa bumi di area tersebut dengan magnitudo bervariasi mulai dari M 1,6 hingga M 4,1.

Guncangan utama diawali gempa M 3,5 pada pukul 17.49 WIB, lalu disusul gempa M 4,1 pada pukul 17.58 WIB yang dirasakan warga pada skala II hingga IV MMI. BMKG mencatat setidaknya lima kali gempa susulan (aftershock) terjadi hingga Jumat (16/10/2026) dini hari pukul 01.00 WIB.

1. Dipicu aktivitas struktur geologi dan sesar lokal

Ilustrasi Gempa Bumi. (IDN Times/Anjani Asra)

Berdasarkan analisis BMKG, aktivitas kegempaan yang melanda perbatasan Bogor dan Sukabumi ini tergolong gempa dangkal. Gempa tersebut dipicu oleh pergerakan struktur geologi atau aktivitas sesar lokal yang berada di wilayah tersebut.

Meski demikian, BMKG masih terus melakukan pengkajian mendalam untuk mengidentifikasi secara pasti nama dan jalur sesar yang menjadi pemicu utama gempa.

"Secara tektonik, gempa-gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas sesar atau struktur geologi lokal. Namun untuk memastikan sesar mana yang menjadi sumbernya, diperlukan analisis lokasi hiposenter dan mekanisme sumber secara lebih detail," kata Kepala Stasiun Geofisika Bandung, Suaidi Ahadi.

2. Puluhan bangunan di Bogor dan Sukabumi mengalami kerusakan

ilustrasi gempa bumi (freepik.com/user189

Rangkaian guncangan gempa bumi tersebut berdampak pada pemukiman warga di dua kabupaten. Berdasarkan laporan masyarakat yang dihimpun BMKG, belasan bangunan rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan ringan di bagian dinding dan struktur bangunan.

Di Kabupaten Bogor, dampak kerusakan terkonsentrasi di Desa Purwabakti, Kecamatan Pamijahan dengan total 15 bangunan rusak ringan. Sementara di Kabupaten Sukabumi, kerusakan melanda Desa Tugu Bandung dan Desa Kabandungan di Kecamatan Kabandungan dengan total 19 bangunan rusak ringan.

"Berdasarkan laporan masyarakat, rangkaian gempa bumi ini mengakibatkan dampak kerusakan bangunan rusak ringan di Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor dan Kecamatan Kabandungan Kabupaten Sukabumi," ujar Suaidi.

3. BMKG tegaskan gempa susulan bukan pertanda bencana lebih besar

ilustrasi gempa bumi (freepik.com/user189

Merespons kekhawatiran warga terkait potensi gempa susulan, BMKG menegaskan bahwa rentetan gempa ini tidak serta-merta menjadi petunjuk akan datangnya gempa dengan magnitudo yang jauh lebih besar. Hingga saat ini, belum ada teknologi yang mampu memprediksi waktu, lokasi, dan besaran gempa secara pasti.

BMKG mengimbau masyarakat agar tidak panik dan tidak mudah terpengaruh oleh isu atau hoaks yang beredar di media sosial. Masyarakat diminta untuk selalu memantau pembaruan informasi resmi melalui kanal terverifikasi BMKG.

"Rangkaian gempa tersebut tidak dapat langsung diartikan sebagai pertanda akan terjadi gempa bumi yang lebih besar. Memang secara statistik suatu gempa dapat diikuti oleh gempa yang lebih besar, tetapi kemungkinan tersebut tidak berarti gempa besar pasti akan terjadi. Karena itu, masyarakat tidak perlu panik, namun tetap perlu meningkatkan kesiapsiagaan," tutur Suaidi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article