Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bisnis Garam di Cirebon Mati Suri, sampai Mei 2026 Belum Ada Produksi
Kondisi tambak garam yang tersebar di pesisir Jawa. (IDN Times/Dok KPPMPI)
  • Produksi garam rakyat di Cirebon belum dimulai hingga Mei 2026 karena curah hujan tinggi membuat tambak tetap basah dan proses kristalisasi garam tertunda.
  • Sebagian petani mulai gunakan geomembran dan tunnel tambak untuk atasi cuaca ekstrem, tapi penerapan teknologi modern masih terbatas akibat biaya operasional tinggi.
  • Harga garam turun sekitar 33% sementara target produksi 76 ribu ton terancam mundur jika musim kemarau tidak segera stabil dalam waktu dekat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Cirebon, IDN Times - Produksi garam rakyat di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, belum berjalan sepanjang tahun 2026 hingga pertengahan Mei. Curah hujan yang masih turun pada masa peralihan musim membuat tambak garam belum cukup kering untuk memulai proses produksi.

Kondisi tersebut memaksa petani menunda pengolahan pada Mei hingga Juni. Akibatnya, target produksi garam tahun ini berpotensi kembali terganggu apabila musim kemarau tidak berlangsung stabil dalam beberapa pekan ke depan.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap, Pengolahan dan Pengawasan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Cirebon, Teguh Budiman, mengatakan hujan yang masih terjadi membuat dasar tambak tetap basah sehingga proses kristalisasi garam belum dapat dilakukan.

"Normalnya produksi mulai berjalan Mei sampai Juni. Tetapi sampai sekarang belum ada produksi karena tambak belum kering," katanya, Jumat (22/5/2026).

Menurut Teguh, kondisi cuaca menjadi faktor paling menentukan dalam produksi garam rakyat di Cirebon yang mayoritas masih menggunakan metode tradisional. Ketergantungan terhadap panas matahari membuat produksi sangat rentan terganggu ketika musim kemarau datang terlambat atau disertai hujan.

1. Teknologi tambak belum maksimal digunakan

Tambak garam yang ada di pesisir Jawa. (IDN Times/Dok KPPMPI)

Selain menghambat proses penguapan air laut, kondisi tambak yang masih basah juga membuat petani belum dapat memasang geomembran. Teknologi tersebut berupa lapisan plastik khusus yang digunakan untuk mempercepat kristalisasi garam sekaligus meningkatkan kualitas hasil panen.

Penggunaan geomembran selama ini dinilai mampu mempercepat waktu panen dan menjaga kebersihan garam. Namun teknologi tersebut baru bisa dipasang ketika dasar tambak benar-benar kering.

Di sejumlah wilayah produksi seperti Kecamatan Suranenggala, kata Teguh, sebagian petani juga mulai memanfaatkan tunnel tambak untuk melindungi area produksi dari hujan. Teknologi penutup tambak itu dipakai untuk menjaga kestabilan produksi di tengah cuaca ekstrem.

"Masalahnya, penggunaan teknologi modern tersebut belum merata karena sebagian besar petani garam di Cirebon masih mengandalkan pola produksi tradisional dengan biaya operasional terbatas," uajr Teguh.

2. Harga turun di tengah produksi yang belum stabil

Proses pengeringan garam pasca dipanen petambak Kabupaten Pati dikerjakan menggunakan mesin di dalam gudang. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)

Teguh menuturkan, harga garam rakyat di tingkat petani mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Pada Januari 2026 harga garam masih berada di kisaran Rp2.700 per kilogram, tetapi pada Mei turun menjadi sekitar Rp1.800 per kilogram.

Penurunan harga sekitar Rp900 per kilogram atau hampir 33% tersebut terjadi ketika produksi lokal belum sepenuhnya berjalan. Kondisi itu dikhawatirkan menekan pendapatan petani saat musim panen nanti mulai berlangsung.

Teguh mengatakan kebutuhan garam industri sebenarnya masih cukup tinggi, terutama untuk sektor pupuk, semen, dan kosmetik. Namun ketidakstabilan cuaca membuat pasokan garam rakyat belum mampu bergerak normal.

"Permintaan industri tetap ada. Harapannya Juni nanti produksi sudah mulai berjalan jika cuaca mendukung," ujarnya.

3. Target produksi 76 ribu ton terancam mundur

Proses penyortiran garam hasil panen petambak Kabupaten Pati. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)

Pemerintah Kabupaten Cirebon menargetkan produksi garam rakyat pada 2026 mencapai sekitar 76.000 ton. Namun target tersebut berpotensi sulit tercapai apabila musim produksi kembali mundur seperti tahun lalu.

Pada 2025, produksi garam di Cirebon juga sempat terganggu akibat fenomena kemarau basah. Saat itu musim produksi baru berjalan pada Agustus hingga September setelah hujan berlangsung lebih panjang dibanding pola normal.

Menurutnya, keterlambatan produksi tahun ini dinilai dapat memicu risiko defisit pasokan garam rakyat, terutama jika durasi musim kemarau berlangsung lebih pendek. Selain berdampak terhadap petani pesisir, kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi pasokan bahan baku untuk kebutuhan industri.

"Kami kini masih menunggu kondisi cuaca lebih stabil agar aktivitas produksi garam rakyat dapat segera dimulai dalam beberapa pekan mendatang," tutupnya.

Editorial Team