Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bencana Bogor Beruntun, Dedi Mulyadi Sebut Dampak Alih Fungsi Lahan
Ilustrasi atap rumah ambruk akibat cuaca ekstrem. BPBD Kota Bogor
  • Sebanyak 26 bencana terjadi di Kota Bogor akibat cuaca ekstrem, meliputi banjir, tanah longsor, dan atap rumah ambruk, dengan wilayah Bogor Barat dan Selatan paling terdampak.
  • Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menilai bencana diperparah oleh alih fungsi lahan hijau menjadi permukiman yang merusak tata ruang dan berdampak hingga ke wilayah hilir seperti Jakarta.
  • Pemerintah Provinsi Jawa Barat berupaya memulihkan tata ruang Bogor agar fungsi gunung, sungai, dan danau kembali seimbang demi mencegah bencana berulang di kawasan aglomerasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
4/5/2026

Bencana alam melanda Kota Bogor akibat cuaca ekstrem, menyebabkan 26 kejadian banjir, tanah longsor, dan atap rumah ambruk.

4/5/2026 malam

BPBD Kota Bogor melaporkan pembaruan data bencana dengan total 26 kejadian. Tim telah menangani 18 titik dan sisanya masih dalam proses pemantauan.

5/5/2026

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai bencana di Bogor disebabkan juga oleh kerusakan tata ruang dan alih fungsi lahan hijau. Ia menegaskan pentingnya pemulihan tata ruang untuk mencegah bencana berulang.

kini

Pemerintah Provinsi Jawa Barat berupaya mengembalikan fungsi tata ruang di Bogor agar keseimbangan lingkungan dapat pulih dan risiko bencana berkurang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Terjadi rangkaian bencana alam di Kota Bogor berupa banjir, tanah longsor, dan atap rumah ambruk akibat cuaca ekstrem serta dugaan kerusakan tata ruang wilayah.
  • Who?
    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor melaporkan kejadian tersebut, sementara Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan tanggapan terkait penyebab dan langkah penanganan.
  • Where?
    Bencana terjadi di berbagai titik di Kota Bogor, terutama wilayah Bogor Barat, Bogor Selatan, dan Sukasari di Bogor Timur yang mengalami dampak paling parah.
  • When?
    Kejadian berlangsung pada Senin, 4 Mei 2026, dengan laporan penanganan dan pernyataan resmi disampaikan pada Selasa, 5 Mei 2026.
  • Why?
    Dugaan penyebab utama adalah curah hujan tinggi disertai alih fungsi lahan hijau menjadi kawasan permukiman yang mengurangi daya resapan air dan meningkatkan risiko longsor.
  • How?
    Pemerintah Provinsi Jawa Barat berupaya memulihkan tata ruang di Bogor agar fungsi lingkungan kembali seimbang. Tim BPBD telah menangani sebagian besar titik terdampak dan masih memantau beberapa lokasi lainnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di Bogor banyak hujan besar, tanah longsor, dan rumah rusak. Ada 26 tempat kena bencana. Pak Dedi bilang itu bukan cuma karena hujan, tapi juga karena hutan dan tanah hijau sudah jadi rumah-rumah. Sekarang pemerintah mau betulin lagi supaya air bisa masuk tanah dan gunung gak gampang longsor biar orang aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di tengah rangkaian bencana di Bogor, tampak adanya kesigapan dan arah perbaikan yang jelas dari berbagai pihak. BPBD berhasil menangani sebagian besar titik terdampak dengan cepat, sementara pemerintah provinsi menunjukkan komitmen kuat untuk memulihkan tata ruang agar keseimbangan alam terjaga. Upaya ini mencerminkan kesadaran kolektif terhadap pentingnya kelestarian lingkungan bagi wilayah yang lebih luas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Bencana alam yang terjadi di wilayah Kota Bogor pada Senin (4/5/2026) diduga karena cuaca ekstrem. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor melaporkan ada sebanyak 26 kejadian bencana banjir, tanah longsor, hingga atap rumah ambruk.

Merespons hal ini, Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi menilai peristiwa bencana alam ini bukan hanya dipicu oleh cuaca ekstrem saja, melainkan adanya kerusakan tata ruang di wilayah Bogor. Hal itu pun turut membuat dampak signifikan di wilayah Jakarta.

"Saya sangat memahami berbagai problem kerusakan alam di Kabupaten Bogor. Banyak banjir dan longsor itu disebabkan perubahan tata ruang," ujar Dedi, Selasa (5/5/2026).

1. Bogor penyangga daerah lainnya

Ilustrasi luapan sungai akibat cuaca ekstrem. BPBD Kota Bogor

Menurut Dedi, lahan hijau yang seharusnya berfungsi sebagai resapan air dan penahan longsor kini banyak dialihfungsikan, termasuk menjadi kawasan permukiman.

Perubahan tersebut terjadi dalam skala luas sejak kebijakan tata ruang sebelumnya. Dampaknya, kata Dedi, tidak hanya dirasakan di Bogor, tetapi merambat ke wilayah lain di hilir.

"Bogor itu bukan hanya untuk masyarakat Bogor. Bogor menjaga Bekasi, Karawang, hingga Jakarta," tegasnya.

2. Pemprov Jabar berusaha menjaga kembali tata ruang Bogor

Kondisi tanah longsor dari tebing yang menimpa sekitar 5 rumah. BPBD Kota Bogor

Lebih lanjut, Dedi turut menyoroti kawasan Sukamakmur yang dinilai mengalami perubahan signifikan. Perbukitan di wilayah tersebut banyak berubah menjadi perumahan, sehingga memperbesar risiko longsor dan meluapnya aliran sungai yang berdampak hingga ke daerah bawah.

Sebagai langkah penanganan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah berupaya mengembalikan fungsi tata ruang di Bogor agar keseimbangan lingkungan dapat dipulihkan.

"Kami berusaha mengembalikan tata ruang Bogor agar gunung, aliran sungai, dan danau tetap terjaga, sehingga bencana tidak datang setiap waktu," katanya.

3. Jaga Bogor berarti menjaga Jakarta

Struktur tanah yang labil dan cuaca ekstrem akibatkan longsor. BPBD Kota Bogor

Dedi menegaskan, pemulihan tata ruang menjadi kunci untuk melindungi kawasan aglomerasi yang lebih luas, termasuk Jakarta, dari ancaman banjir berulang.

Dengan begitu, Dedi mengajak seluruh pihak untuk menghentikan eksploitasi ruang yang mengabaikan aspek keselamatan dan kelestarian lingkungan.

"Kalau ingin Bogor, Bekasi, Karawang sampai Jakarta terbebas dari bencana, mari kita jaga Bogor agar tidak hanya menjadi pusat eksploitasi, tetapi tetap mempertahankan keasrian alamnya," jelasnya.

Sebelumnya, Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko Prahadisasongko, mengungkapkan bahwa laporan bencana terus bertambah secara signifikan sejak siang hari seiring dengan tingginya intensitas curah hujan.

"Laporan yang masuk ke kami terus berkembang. Hingga pembaruan terakhir, tercatat ada 26 kejadian bencana. Tim di lapangan sudah berhasil menyelesaikan penanganan di 18 titik, sementara sisanya masih dalam proses dan pemantauan," ujar Dimas Tiko, Senin (4/5/2026) malam.

Bencana tanah longsor menjadi kejadian yang paling mendominasi dengan total 14 laporan. Wilayah Bogor Barat dan Bogor Selatan menjadi daerah terdampak paling parah, di antaranya meliputi Kelurahan Bubulak, Pasir Jaya, Ranggamekar, hingga Pasir Kuda. Salah satu titik longsor di Sukasari, Bogor Timur, bahkan dilaporkan sempat menghambat akses dan merusak bangunan warga.

"Dari 14 laporan tanah longsor, sebagian besar sudah berhasil ditangani oleh personel TRC-PB. Namun, ada beberapa titik seperti di Kayumanis dan Pasir Jaya yang masih dalam status pemantauan atau menunggu penanganan lanjutan," jelas Dimas.

Editorial Team