Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG_20260209_155831.jpg
(IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Intinya sih...

  • Anak-anak Barongsai Long Wang sibuk menyusun panggung di trotoar jalan untuk latihan perayaan Imlek tahun ini.

  • Tim Barongsai Long Wang latihan tiga kali seminggu di atas trotoar karena tidak memiliki tempat lain yang lebih luas.

  • Barongsai Long Wang akan mewakili Indonesia pada kejuaraan dunia Barongsai di Makau dan memiliki anggota dari kelas anak-anak hingga dewasa.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Suasana sore pada Senin (9/2/2026) di Jalan Pagarsih, Cibadak, Kecamatan Astanaanyar, tampak berbeda dari wilayah lain di Kota Bandung. Anak-anak dari berbagai usia terlihat sibuk menyusun panggung di trotoar jalan depan sebuah ruko percetakan.

Lalu lintas jalan tidak membuat mereka berhenti dalam menyusun panggung tersebut. Gerakannya pun cukup cakap dan mengetahui secara pasti susunan panggung itu. Para bocah ini merupakan anggota dari tim Barongsai Long Wang.

Panggung yang mereka susun itu digunakan untuk latihan perayaan Imlek tahun ini. Mereka akan tampil di beberapa kegiatan untuk membuat suasana Imlek semakin meriah.

"Kami harus memberikan penampilan yang terbaik untuk yang memanggil kami. Jadi, kami tidak akan asal-asalan, kami di sini menghibur masyarakat luas, dan Barongsai sekarang ditunggu oleh masyarakat," ujar founder sekaligus pelatih tim Barongsai Long Wang, Agus Hendrik Priatna.

1. Keterbatasan tempat bukan alasan

(IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Waktu latihan diagendakan tiga kali dalam satu pekan, dengan lokasi di atas trotoar jalan karena Barongsai Long Wang belum memiliki tempat lain yang lebih luas. Agus pun menyadari tempat latihan ini memang cukup membahayakan, namun tidak ada pilihan lain.

"Kebetulan ini terus terang saya salut ke anak-anak Long Wang sendiri. Di mana kita keterbatasan tempat atau sarana untuk latihan, tapi semangat mereka itu menggebu-gebu untuk mengejar prestasi," ucapnya.

Keterbatasan tempat ini tidak membuat para pemain Barongsai patah arang untuk mengejar penampilan yang sempurna ketiga tampil. Selain untuk penampilan undangan, mereka juga sudah banyak menotehkan prestasi selama sepuluh tahun berdiri.

"Kami sering mengikuti kejuaraan-kejuaraan baik di Jawa Barat sendiri, Jawa Tengah, DKI. Malah kalau tidak ada halangan, bulan 10 tahun ini kami akan mewakili Indonesia untuk berangkat ke Makau (Republik Rakyat Tiongkok) pada kejuaraan dunia Barongsai," jelas Agus.

2. Kelas junior menjadi andalan tim Barongsai Long Wang

(IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Barongsai Long Wang tidak hanya memiliki kelas anak-anak saja, melainkan ada juga dari usia dewasa. Untuk tim usia anak satu Barongsai dipegang oleh dua orang, selebihnya ada tim musik pengiringnya, jika ditotal secara keseluruhan ada delapan orang.

Dari seluruh anggota tim Barongsai junior ini terdapat satu bocah yang diberikan perang penting dalam menggerakkan kepala barong. Dia adalah Faizal Alivianra Sujana, bocah kelas lima SD yang sudah diberikan pelatihan selama satu bulan itu cukup menguasai gerakan dari Barongsai.

"Dia sudah ikut di Long Wang ini satu tahun tapi dalam latihan satu bulan dia sudah turun show. Kemauan anaknya tinggi dan dia mau memperhatikan apa instruksi-instruksi pelatih berikan," kata Agus.

3. Orangtua memberikan dukungan penuh

(IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Faizal Alivianra Sujana juga menceritakan alasan mengapa dirinya lebih memilih menghabiskan waktu menjadi bagian tim Barongsai junior Long Wang, ketimbang menggeluti bidang lain di seusianya. Dia memang sudah menyukai penampilan Barongsai sejak usia dini.

"Awalnya lagi pas mau konvoi Persib, ada yang latihan barongsai. Saya suka dari dulu lah, dari kecil. Nah, lihat, dan saya tanya boleh ikutan? Boleh, katanya. Ditanyain latihannya hari apa aja jawabannya hari Senin, Rabu, sama Jumat," kata Faizal.

Sebagai penggerak kepala Barongsai, Faizal mengakui pernah jatuh karena gerkan yang harus diterapkan dalam satu penampilan cukup banyak tidak hanya satu atau dua pola saja.

Dengan latihan yang intens, dia merasa sudah hapal semua pola pergerakannya dan tidak ada lagi insiden jatuh. Namun, rasa takut diakuinya memang ada.

"Tidak kapok, karena memang suka dari kecil. Kalau belum jatuh belum bisa. Kebetulan orantua mendukung, dan saya pengen jadi juara internasional," kata dia.

Editorial Team