Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Atap SDN di Sukabumi Ambruk, Siswa Belajar di Perpustakaan
Atap kelas SDN Batununggal Sukabumi ambruk (dok IDN Times)
  • Atap ruang kelas SDN Batununggul di Sukabumi ambruk akibat struktur bangunan lapuk dan terakhir diperbaiki pada 2007, memicu kekhawatiran soal keamanan sekolah tua.
  • Pihak kepolisian memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka karena insiden terjadi saat kelas kosong, serta menekankan pentingnya keselamatan siswa dan guru.
  • Kegiatan belajar sementara dialihkan ke ruang perpustakaan karena beberapa ruang kelas rusak, sementara perbaikan sebelumnya hanya mencakup sebagian kecil bangunan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sukabumi, IDN Times - Ambruknya atap ruang kelas di SDN Batununggul, Desa Karangmekar, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Sukabumi, memaksa 18 siswa menghentikan aktivitas belajar di ruang utama. Insiden ini kembali menyoroti kondisi bangunan sekolah tua yang belum tersentuh perbaikan.

Cep Mawandi (30) warga setempat mengatakan, atap bangunan itu ambruk pada akhir pekan lalu saat tak ada kegiatan belajar mengajar. Ia mendengar suara gemuruh sebelum mengetahui sumbernya dari atap bangunan kelas.

"Suaranya keras sekali. Begitu dicek, ternyata atap ruang kelas sudah ambruk ke lantai," kata Cep kepada IDN Times, Senin (6/4/2026).

1. Bangunan di sekolah diduga sudah lapuk

Atap kelas SDN Batununggal Sukabumi ambruk (dok IDN Times)

Berdasarkan hasil asessment petugas di lapangan, ambruknya atap bangunan sekolah itu diduga kuat karena kerusakan struktur bangunan. Bagian atap dan penyangga kayu sudah dalam kondisi lapuk dimakan usia. Ironisnya, gedung sekolah itu tercatat terakhir kali mendapatkan pemeliharaan pada tahun 2007 lalu atau hampir dua dekade.

Perangkat Desa Karangmekar, Asep Kuswandi (58), menyebut kondisi bangunan memang sudah lama mengkhawatirkan.

"Kejadian ini diharapkan menjadi sinyal mendesak bagi otoritas pendidikan untuk segera melakukan audit kelayakan fisik bangunan sekolah-sekolah tua di wilayah pelosok agar kejadian serupa tidak berakibat fatal saat jam pelajaran berlangsung," kata Asep.

2. Polisi pastikan tak ada korban

Atap kelas SDN Batununggal Sukabumi ambruk (dok IDN Times)

Kapolsek Jampangkulon AKP Muhlis membenarkan kejadian tersebut. Ia memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka dalam insiden ini.

"Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka. Saat kejadian kelas dalam kondisi kosong," kata Muhlis.

Ia juga menegaskan pentingnya keselamatan dalam kegiatan belajar. "Namun, kami menekankan agar faktor keselamatan siswa dan pengajar menjadi prioritas utama ke depannya," lanjutnya.

3. KBM dialihkan sementara ke ruang perpustakaan

Atap kelas SDN Batununggal Sukabumi ambruk (dok IDN Times)

Kepala SDN Batununggul, Maryati mengungkapkan, bahwa ruang kelas yang ambruk sebenarnya sudah lama mengalami kerusakan. Ia menyebut, tidak hanya satu, ada beberapa ruang kelas di sekolah tersebut yang kondisinya telah tidak layak digunakan sejak beberapa tahun terakhir.

“Di sekolah kami ada tiga ruang kelas yang kondisinya rusak. Kami sudah beberapa kali mengajukan perbaikan ke dinas terkait,” ujar Maryati.

Maryati menjelaskan, pada 2019 sempat ada tim yang datang ke sekolah untuk melakukan peninjauan kondisi bangunan. Tim tersebut bahkan melibatkan konsultan untuk melakukan survei. Namun, setelah proses tersebut, belum ada tindak lanjut perbaikan dalam waktu dekat.

“Waktu itu ada tim survei datang, termasuk konsultan. Tapi setelah itu belum ada tindak lanjut perbaikan dalam waktu dekat,” katanya.

Ia menambahkan, bantuan rehabilitasi baru terealisasi pada 2024. Meski begitu, perbaikan yang dilakukan saat itu hanya menyasar dua ruang kelas.

“Yang diperbaiki hanya dua ruang belajar, sedangkan ruang kelas yang sekarang roboh tidak termasuk dalam program rehabilitasi tersebut,” jelasnya.

Saat ini, SDN Batununggul memiliki sekitar 170 siswa dengan 11 tenaga pengajar. Kegiatan belajar mengajar tetap berjalan di ruang perpustakaan meskipun fasilitas sekolah masih dalam kondisi terbatas.

Editorial Team