Bandung, IDN Times - Bandara Huseinsastranegara terus meningkatkan jumlah penerbangan yang masuk dari Yogyakarta. Penerbangan itu bukan hanya untuk masyarakat yang melakukan perjalanan langsung, tapi juga yang harus transit sebelum sampai di Bandung.
Penambahan jumlah penerbangan menjadi optimisme untuk para pelaku usaha pariwisata di Kota Bandung termasuk Jawa Barat. Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Daniel Guna Nugraha mengatakan, keterbatasan konektivitas penerbangan udara ke Kota Bandung selama ini menjadi salah satu penghambat utama arus wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Padahal, sebagai kota besar ketiga di Indonesia, Bandung memiliki potensi dan permintaan perjalanan udara yang sangat tinggi.
Londisi ini sudah tidak relevan dengan kebutuhan mobilitas masyarakat dan wisatawan saat ini. Ia menegaskan, penutupan dan terbatasnya penerbangan ke Bandung justru berbanding terbalik dengan tingginya minat kunjungan ke kota wisata tersebut.
"Sudah seharusnya sebagai kota besar ketiga di Indonesia, Bandung layak diterbangi banyak maskapai ke beberapa kota besar lainnya, baik di Pulau Jawa maupun luar Jawa. Kendala lalu lintas wisatawan dari luar Jawa ke Kota Bandung adalah konektivitas penerbangan udara yang bisa dibilang tertutup atau dipaksakan tutup. Padahal, permintaannya sangat tinggi. Jangankan penerbangan mancanegara, penerbangan domestik pun sangat sulit," kata Daniel kepada IDN Times Minggu (1/2/2026).
