Ilustrasi pengeroyokan (Meta AI/Rochmanudin)
Salah satu korban, Mahfudin, mengaku masih mengingat situasi saat insiden terjadi. Awalnya ia hanya berniat mengawal teman-temannya pulang usai nobar di kawasan PCNU.
Rombongan kemudian berpencar menuju arah rumah masing-masing. Mahfudin yang hendak pulang ke Ciheulangtonggoh sempat mengikuti rekannya ke arah Cicurug dan Cibadak. Namun saat melintas di sekitar rel kereta Karangtengah, suasana mulai berubah tegang.
“Nggak menghiraukan dia teriak-teriak,” kata Mahfudin.
Ia mengaku sempat tetap melaju, tetapi situasi mendadak ricuh ketika beberapa orang berlari dan terlibat keributan. Saat menoleh ke belakang, ia melihat saudara dan temannya dipukuli.
Mahfudin lalu turun dari kendaraan dengan maksud melerai. Namun nahas, ia justru ikut menjadi sasaran pengeroyokan.
“Ya awalnya sih mau melerai tapi malah saya yang kena,” ujarnya.
Dalam kondisi gelap dan panik, Mahfudin mengaku tidak mengetahui benda apa yang mengenai kepalanya. Ia hanya merasakan sakit dan darah mulai mengucur.
Keributan berlangsung singkat sebelum teman dan saudaranya membawa Mahfudin meninggalkan lokasi. "‘Udah pulang aja, ini berdarah,’ kata saudara saya,” tuturnya.