Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
3 Mahasiswa Artherapy Center Pemeran Kriya untuk Tarik Pelaku Industri
Tiga Mahasiswa Artherapy Center Pemerkan Produk Kriya untuk Tarik Pelaku Industri. IDN Times/Debbie Sutrisno
  • Tiga mahasiswa ATC Widyatama memamerkan karya kriya terbaik mereka sebagai bagian dari evaluasi akademik dan langkah awal menuju kemandirian finansial.
  • Pameran menjadi wadah kolaborasi antara mahasiswa, alumni, dan industri seperti Darmakara serta Trans Studio untuk mendukung magang dan proyek berkelanjutan berbasis 3R.
  • Pameran Salur 4 berlangsung hingga 20 Mei 2026, menampilkan karya dengan teknik Arashi Shibori dan lukisan manual bertema ghotic yang berpadu dengan budaya lokal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Tiga mahasiswa tingkat akhir dari jurusan kriya ATC Widyatama yaitu Muhammad Naufal Fadhil, Audriane Sheyla Firdaus, dan Bayu Anggara Putra, memamerkan karya terbaik mereka dalam sebuah pameran yang menjadi bagian dari evaluasi akademik. Pameran ini bukan sekadar ajang unjuk kreativitas, tetapi juga langkah awal menuju dunia kerja dan kemandirian finansial.

Koordinator LPK Kriya ATC Widyatama, Anunsiata Srisabda, menjelaskan bahwa pameran ini merupakan bagian dari agenda rutin tahunan yang dikenal sebagai “pameran salur”. Ini merupakan hasil integrasi dari beberapa mata kuliah yang ditempuh mahasiswa, seperti perancangan foto studio, tata kelompok kamera, studio kriya, hingga prakerja praktik.

“Salur itu artinya satu alur, karena ini gabungan dari beberapa mata kuliah. Jadi karya yang dipamerkan adalah hasil evaluasi dari proses pembelajaran tersebut,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Ia menjelaskan, dalam mata kuliah studio kriya, mahasiswa diberi kebebasan untuk memproduksi karya sesuai minat dan bakat mereka. Jurusan kriya sendiri memiliki dua spesifikasi utama, yakni tekstil dan elemen interior sebagai penunjang estetika.

Mahasiswa juga lebih banyak didorong untuk menggunakan teknik manual dalam berkarya. Hal ini bukan tanpa alasan.

“Pekerjaan manual yang berulang itu melatih fokus mereka. Ini sangat cocok untuk siswa di sini, karena mereka bisa lebih konsisten dalam mengerjakan sesuatu,” kata Anunsiata.

1. Fokus pada keterampilan mahasiswa

Tiga Mahasiswa Artherapy Center Pemerkan Produk Kriya untuk Tarik Pelaku Industri. IDN Times/Debbie Sutrisno

Lebih dari sekadar menghasilkan karya, pendidikan di ATC Widyatama juga diarahkan untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis yang bisa menunjang kehidupan setelah lulus. Anunsiata menegaskan, tujuan utama dari pembelajaran kriya adalah menciptakan lulusan yang mandiri secara ekonomi.

“Selain ilmu, mereka juga dibekali keterampilan, termasuk bagaimana mengelola produk agar layak jual. Harapannya, setelah lulus mereka bisa mandiri secara finansial,” jelasnya.

Pendidikan di ATC Widyatama sendiri berlangsung selama tiga tahun. Karya yang dipamerkan merupakan hasil dari mahasiswa semester lima yang akan segera lulus dan memasuki tahap akhir pendidikan.

2. Kolaborasi dengan industri jadi jembatan ke dunia kerja

Tiga Mahasiswa Artherapy Center Pemerkan Produk Kriya untuk Tarik Pelaku Industri. IDN Times/Debbie Sutrisno

Pameran ini juga menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak industri. Pada semester enam, mahasiswa akan menjalani magang sekaligus mengerjakan tugas akhir berbasis kolaborasi.

Beberapa mitra yang telah bekerja sama dengan ATC Widyatama antara lain Darmakara, Kim Plastik, hingga Trans Studio. Bahkan, kerja sama ini tidak hanya berhenti pada mahasiswa aktif, tetapi juga melibatkan alumni.

“Darmakara sudah lama bekerja sama dengan kami. Bahkan alumni juga diajak untuk kolaborasi,” ungkap Anunsiata.

Ke depan, kolaborasi ini juga diarahkan pada isu keberlanjutan, seperti pemanfaatan limbah industri. Salah satunya adalah mengolah limbah kain dari hotel menjadi produk baru yang bernilai guna.

“Misalnya kain sprei yang sudah tidak terpakai, itu cukup banyak. Kami mencoba mengolahnya kembali. Ini juga bagian dari misi kami, yaitu 3R—reduce, reuse, recycle,” pungkasnya.

3. Pameran diselenggarakan hingga 20 Mei

Tiga Mahasiswa Artherapy Center Pemerkan Produk Kriya untuk Tarik Pelaku Industri. IDN Times/Debbie Sutrisno

Sementara itu salah satu pameris, Fadhil menuturkan bahwa dia membuat dua desain untuk pameran ini dengan teknik Arashi Shibori (teknik pewarnaan kain tradisional khas Jepang). Dengan cara ini kain yang dibuat bisa menghasilkan pola garis-garis diagonal menyerupai hujan badai. Dia kemudian memodifikasi dengan teknik cabut warna untuk memujudkan kreasinya.

"Karya fadhil ini adalah pake teknik Arashi Shibori sehingga bisa ada motif ini. Motif ini dipakai karena bagus dan menarik. Biru sendiri ini karena agar ada motifnya keluar," kata Fadhil.

Pameris lainnya, Bayu, menuturkan bahwa dia tertarik dan terampil menggambar secara manual. Alhasil karya yang dibuat menggunakan teknik melukis di atas denim dengan cara cabut warna.

Secara keseluruhan karyanya memiliki tema ghotic yang dipadukan dengan kearifan lokal (budaya Jawa). Motif ghotic bulan, bintang, dan matahari dipadukan dengan motif mega mendung Cirebon sehingga tampak padi dan tetap serasi saat disandingkan.

"Jadi ini produknya ini semacam kaya beskap seperti baju Jawa kuno gitu. Untuk buat desain ga terlalu lama, dan harapannya bisa buat produk sendiri," kata dia.

Pameran Salur 4 diselenggarakan mulai hari ini hingga 20 Mei 2026. Masyarakat bisa datang dari pukul 10.00 WIB hingga 15.00 WIB.

Editorial Team