Bandung, IDN Times - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat memastikan telah menerima 34 kantong jenazah korban bencana longsor di Dusun Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Dari jumlah tersebut ada sebanyak 20 orang yang sudah teridentifikasi.
"Saat ini kami di Pos DVI Polda Jawa Barat menerima sejumlah 34 kantong jenazah. Jadi dari 34 kantong jenazah ini, terdapat delapan jenazah dan satu bagian tubuh," ujar Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Pol Hendra Rochmawan saat memberikan keterangan pers di Pos DVI Polda Jawa Barat, Senin (26/1/2026) pukul 16.57 WIB.
Dalam pencarian hari ketiga ini, Hendra mengatakan, berdasarkan hasil tes antimortem dengan keluarga korban ditemukan kecocokan sebanyak 20 jenazah, kini sudah diserahkan kepada keluarga.
"Dari 34 kantong jenazah ini kami sampaikan bahwa ada 20 yang sudah teridentifikasi. Sebagian juga sudah diserahkan kepada keluarganya yang berada dalam posisi standby di Pos DVI ini," ucapnya.
Sementara, sisanya kata Hendra, saat ini masih dalam proses identifikas di beberapa titik Rumah Sakit Daerah dan RS Sartika Asih. Adapun total korban hilang berdasarkan data sementara ada 84 orang.
"Dari 14 tersebut, kami sampaikan ada empat di RSUD Cibabat, kemudian ada empat lagi di RS Sartika Asih. Sisanya masih berada di sini untuk dilakukan identifikasi," katanya.
Dengan begitu, Hendra memastikan berdasarkan data sampa hari ketiga sore hari ada sebanyak 34 jenazah dan yang teridentifikasi sebanyak 20 orang.
"Ya, betul sekali. Jadi ada 34 kantong jenazah yang diterima oleh Pos DVI di sini dan 20 sudah teridentifikasi. Ini memang agak menyulitkan, termasuk kemarin ada beberapa potongan yang cukup menyulitkan, termasuk korban anak-anak," katanya.
Mengenai data korban hilang, Hendra menyebutkan Pos DVI telah mengumpulkan data antemortem dari 108 orang yang dilaporkan hilang. Data tersebut dihimpun melalui Pos Pengumpulan Informasi (PPI) dan berasal dari keluarga korban maupun laporan masyarakat.
"Data antemortem kami kumpulkan dalam berbagai bentuk, mulai dari data medis, data elektronik, foto, hingga data keluarga sebagai pembanding untuk mempermudah proses identifikasi," ujarnya.
