Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Orang dengan penyakit kusta
Orang dengan penyakit kusta

Intinya sih...

  • Sebaran kasus kusta didominasi wilayah pesisir dan padat penduduk

  • Kusta penyakit menular kronis, tapi tidak mudah menyebar

  • Pengobatan gratis, stigma masih jadi tantangan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Cirebon, IDN Times - Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon mencatat sebanyak 177 kasus kusta sepanjang tahun 2025. Temuan ini menempatkan Kabupaten Cirebon sebagai salah satu daerah dengan beban kusta yang masih signifikan di Jawa Barat.

Dari pemetaan wilayah, Kecamatan Talun dan Pangenan menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi, masing-masing sebelas kasus, disusul sejumlah kecamatan lain dengan angka hampir merata.

Data tersebut berasal dari rekapitulasi laporan Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan yang dihimpun Dinkes Kabupaten Cirebon melalui sistem surveilans penyakit menular.

Meski beberapa kecamatan dilaporkan nihil kasus, Dinkes menegaskan angka nol tidak serta-merta mencerminkan kondisi bebas kusta, melainkan bisa dipengaruhi oleh faktor penemuan kasus dan pelaporan.

1. Sebaran kasus didominasi wilayah pesisir dan padat penduduk

ilustrasi tanda-tanda penderita kusta. pexels.com/NEOSiAM 2024+

Berdasarkan distribusi wilayah, setelah Talun dan Pangenan, Kecamatan Losari, Gunungjati, dan Gegesik masing-masing mencatat sembilan kasus. Kapetakan dan Babakan berada di posisi berikutnya dengan delapan kasus, sementara Greged dan Mundu melaporkan tujuh kasus.

Adapun beberapa kecamatan dilaporkan tidak menemukan kasus kusta sepanjang 2025, di antaranya Kaliwedi dan Kedawung. Namun, Dinkes mengingatkan bahwa data ini bersifat dinamis dan sangat bergantung pada keaktifan skrining serta kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri.

“Pola sebaran ini menunjukkan bahwa kusta masih ditemukan di wilayah dengan mobilitas tinggi dan kepadatan penduduk yang cukup besar,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Eni Suhaeni, Senin (2/2/2026).

2. Kusta penyakit menular kronis, tapi tidak mudah menyebar

Ilustrasi pasien kusta (Dok.IDNTimes/Istimewa)

Eni menjelaskan, kusta atau lepra merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini menyerang kulit, saraf tepi, mata, serta saluran pernapasan bagian atas.

Namun, ia menegaskan kusta bukan penyakit yang mudah menular. Penularan membutuhkan kontak erat dan berlangsung lama dengan penderita yang belum menjalani pengobatan.

“Kusta tidak menular lewat bersalaman, duduk berdampingan, atau interaksi sosial sehari-hari. Ini penting dipahami agar tidak muncul ketakutan berlebihan di masyarakat,” ujarnya.

Gejala awal kusta kerap tidak disadari, seperti bercak putih atau kemerahan pada kulit yang mati rasa, tidak gatal, dan tidak berkeringat. Dalam kondisi lanjut, penderita dapat mengalami penebalan saraf, nyeri, kelemahan otot, hingga cacat permanen bila tidak ditangani sedini mungkin.

3. Pengobatan gratis, stigma masih jadi tantangan

ilustrasi pengobatan kusta (pixabay.com/marionbrun)

Dinkes Kabupaten Cirebon menegaskan bahwa kusta dapat disembuhkan secara total melalui Multi-Drug Therapy (MDT) yang tersedia gratis di seluruh Puskesmas. Pasien yang telah menjalani pengobatan secara teratur dinyatakan tidak lagi menularkan penyakit.

Meski demikian, Subhan mengakui bahwa stigma sosial masih menjadi tantangan besar dalam penanggulangan kusta. Banyak penderita enggan berobat karena takut dikucilkan, sehingga kasus baru sering ditemukan dalam kondisi sudah lanjut.

“Kusta bukan penyakit keturunan, bukan kutukan, dan bukan aib. Ini murni penyakit medis yang bisa disembuhkan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berobat dan dukungan lingkungan,” katanya.

Dinkes pun mendorong masyarakat agar aktif melapor dan memeriksakan diri jika menemukan gejala mencurigakan, sekaligus mengajak lingkungan sekitar untuk tidak menjauhi penderita.

Upaya edukasi dan penemuan kasus dini akan terus diperkuat guna menekan angka kusta dan mencegah kecacatan di Kabupaten Cirebon.

Editorial Team