Comscore Tracker

Konten Kreator, Cara Baru Millennial Meraup Rupiah dari Media Sosial

Dari hobi hingga jadi pekerjaan utama yang jadi penghasilan

Bandung, IDN Times - Proses tak pernah mengkhianati hasil. Mungkin kalimat ini cocok disematkan kepada para konten kreator yang terus berjuang dan berhasil memberikan manfaat untuk publik.

Sebab, untuk menciptakan kreativitas tentu membutuhkan perjuangan besar dengan kesabaran, ketelitian, dan kegigihan tersendiri. Butuh waktu dan hal berbeda agar konten yang dihasilkan bisa bermanfaat bagi masyarakat. 

Hasil akhir dari sebuah kreativitas tentu akan menjadi nilai ekonomi mahal. Tidak banyak orang yang bisa menghasilkan cuan dari kreativitas. Namun, kreativitas bisa dilakukan dengan belajar dan berusaha maksimal.

Di tengah perkembangan teknologi, banyak millennial dan Generasi Z di Tanah Air yang berhasil melakukan hal itu. Bahkan, banyak dari mereka mampu mendapatkan penghasilan dari bisnis model baru tersebut.

Pengaruh media sosial dinilai cukup berperan dalam membuka peluang untuk menjalankan bisnis yang masuk di kategori industri kreatif. Posting foto, video, membuat caption dan judul menarik dalam setiap unggahan akan mengundang banyak penonton (viewer) dan 'Like'. Tayangan yang kerap ditunggu dan dinantikan para netizen ini tentu akan mendatangkan cuan atau rupiah.

Belakangan ini banyak sekali konten kreator yang muncul di berbagai daerah. Bahkan, sebagian dari mereka menjadikan pekerjaan ini sebagai pendapatan utama. Penghasilan maksimal yang diperoleh membuat mereka fokus menggarap industri kreatif ini. Ada banyak media platform yang bisa dipilih, mulai dari media sosial, seperti Instagram, TikTok, Podcast, atau yang paling populer adalah Youtube.

Soal tema konten, para kreator ini juga sebenarnya cukup memberikan yang sederhana. Tentu saja kreativitas yang tidak terpikirkan oleh masyarakat pada umumnya. Bahkan, hanya sekadar memberikan tips, mengupas lokasi kuliner, menjalankan hobi seperti bernyanyi dengan cover lagu, membuat kalimat inspirasi, podcast, dan lainnya ternyata mampu mendulang penghasilan.

Sekali lagi, menjadi seorang content creator tidak melulu harus dari public figure atau selebritas terkenal. Kalian juga bisa menjadi konten kreator yang mampu menghasilkan konten bermanfaat bagi masyarakat. Namun, tentu ada sejumlah syarat yang perlu dilakukan untuk bisa menjadi konten kreator.

Nah, di bawah ini ada 12 konten kreator dari berbagai daerah di Indonesia yang mampu menghasilkan cuan. Mereka memberikan kreativitas dengan modal awal seadanya. Namun, dengan memanfaatkan media sosial, semakin banyak 'viewers' dan 'Like' yang berhasil didapatkan.

Tidak hanya itu, banyak juga pengalaman yang bisa diambil dan dipetik bagi kalian yang ingin memulai bisnis baru ini. Yuk, simak pengalaman 12 konten kreator lokal yang tak kalah menarik.

1. Urang Purwakarta, bukti konten cinta pada kampung halaman

Konten Kreator, Cara Baru Millennial Meraup Rupiah dari Media SosialInstagram Prawiraningrat

Salah satu konten kreator yang mampu menikmati hasil saat ini adalah akun Instagram Urang Purwakarta (@urangpurwakarta ). Akun ini dibuat pertama kali pada 2015 dengan misi sederhana: menyebarkan informasi baik dan menarik tentang Purwakarta. Isi kontennya mulai dari wisata kuliner, prestasi, hingga sejarah.

Tujuannya ialah menginsipirasi masyarakat lokal khususnya generasi muda agar merasa bangga dengan daerahnya. Penggagas Urang Purwakarta adalah Alpiadi Prawira Ningrat (28 tahun).

Alpiadi yang kini mengelola dua akun media sosial Urang Purwakarta sudah berhasil meraup cuan sebesar Rp4juta hingga Rp5 juta per bulan. Tentunya, pekerjaan ini hanya sebagai sampingan. Karena, Alpiadi merupakan salah seorang pekerja di suatu perusahaan.

Dari hasil itu, ia pun bisa mempekerjakan seorang videografer dan berinvestasi untuk membeli peralatan yang dibutuhkan untuk membuat konten. 

Lalu, kenapa Alpiadi memilih konten tentang Purwakarta? Konten yang dibagikannya banyak mengulas informasi terkait potensi pariwisata, kebudayaan dan kebanggaan masyarakat di Purwakarta. Alpiadi konsisten membuat konten-konten tersebut di sela-sela waktu bekerja di suatu perusahaan.

Dia menilai banyak potensi Purwakarta yang patut diketahui oleh masyarakat. "Kenapa pilih Purwakarta? Karena tempat kelahiran saya. Jadi, ingin berkontribusi terhadap kampung halaman," kata Alpiadi kepada IDN Times saat dihubungi, Jumat (26/11/2021). Dengan kata lain, Urang Purwakarta merupakan bentuk kecintaannya terhadap kampung halamannya.

Selain Alpiadi, millennial Kota Bandung yang memanfaatkan keberadaan media sosial adalah Azmy Zaidan. Perempuan kelahiran 18 Juli 2001 ini membuat konten yang berkaitan dengan hal budaya dan seni Sunda melalui platform TikTok. Mulai dari bahasa, musik, hingga menari khas warga Sunda dilakoninya.

Kepada IDN Times, Azmy bercerita, kedekatannya dengan berbagai hal tentang Sunda sudah dikenalkan dari kecil oleh ayah dan ibunya. Sang ayah dekat dengan kesenian mulai dari musik hingga tari tradisional. Sedangkan sang ibu lebih handal dalam bernyanyi.

"Jadi dari kecil saya memang senang ikut lomba, bermain di sanggar. Karena penasaran saya juga coba menggeluti sesuatu yang baru, termasuk kesenian," ujar Azmy, Jumat (26/11/2021).

Saat pandemik menyergap Indonesia, Azmy yang aktif melakukan sesuatu sempat kebingungan untuk beraktivitas. Tak ingin berdiam diri saja menerima kondisi tersebut, dia lantas memanfaatkan media sosial untuk berkreasi.

Azmy kemudian membuat konten edukasi berbahasa Sunda. Dari video pertama tersebut ternyata berkesan karena banyak tanggapan positif diberikan pada tuatan komentar.

"Banyak yang support minta lanjutin. Akhirnya sampai sekarang terus lanjut di Tiktok bikin konten semua kaitannya sama Sunda. Baik lagu, nari jaipong, main alat musik, hingga bikin drama Sunda," kata Azmy.

Kegigihan Azmy dalam memperkenalkan kebudayaan Sunda akhirnya membawa dia dalam berbagai kegiatan. Media sosial yang diramu sedemikian rupa berhasil memberikan penghasilan cukup untuknya.

Dalam sebulan, Azmy bisa mendapatkan penghasilan jutaan rupiah hanya dengan konten kesundaannya. Hasil ini memperlihatkan bahwa konten apapun yang dibuat sebenarnya bisa menghasilkan, asal pembuat konten tersebut bisa tekun. Pasar pun bisa terbentuk dengan sendirinya.

Sebagai kalangan millennial, Azmy mengajak anak muda lainnya untuk memanfaatkan berbagai platform media sosial. Jangan takut untuk membuat sesuatu yang dianggap bermanfaat karena semua itu ketika dilakukan dengan tekun maka bisa menghasilkan sesuatu.

"Anak muda jangan takut berkarya dan berekspresi. Semua memiliki kesempatan yang semaa dari Tuhan, tinggal kita manfaatkan. Yakin pada diri sendiri, kalau orang lain bisa kenapa kita enggak," ungkapnya.

Berbeda degan Azmy, kegigihan Rhyma untuk membangun keyakinan masyarakat pada pembuat konten memang tidak mudah. Rhyma bermain media sosial Instagram sejak 2013, dia mulai berkreasi membuat berbagai video untuk dinikmati di dunia maya.

Ketika Instagram baru muncul, Rhyma bersama teman-temannya mulai aktif menggunakan media sosial tersebut. Agar tidak asal menggunggah gambar, dari awal Rhyma coba memotret atau membuat video menggunakan peralatan profesional, sehingga hasil yang didapat bisa optimal ketika disajikan di Instagram.

Perlahan tapi pasti, berbagai unggahan Rhyma di Instagram mulai dilirik. Dia kemudian diminta sejumlah pihak membuatkan video hingga foto yang menarik di media sosial. Jangan tanya bayarannya. Karena di awal pembuatan konten ini, Rhyma hanya dibayar produk bahkan sekedar makan saja.

"Jadi mirip endorse gitu. Ya dibayarnya pakai produk yang kita tampilkan aja. Masih dikit yang kasih pekerjaan karena dulu dipikir masa iyah orang bisa bisa promosikan barang kan," ujarnya.

Sekarang sudah banyak pihak yang minta dibutkan video atau foto oleh Rhyma. Tak jarang dia pun diajak untuk mengulas berbagai produk atau tempat. Dari kerja kerasanya ini, Rhyma sekarang bisa mendapatkan penghasilan mencapai Rp20 juta per bulan.

Rhyma pun mengajak anak muda lainnya untuk bisa berkreasi termasuk memanfaatkan platform media sosial. Di tengah kemajuan jaman ini mudah untuk bisa melakukan hal apa saja termasuk membuat konten yang bisa bermanfaat, termasuk menghasilkan uang.

"Kami harus peka digital dan memanfaatkannya. Asalkan tetap buat konten yang baik dan ikuti aturan, apalagi sekarang kan ada UU ITE. Jadi media sosial ini luas tinggal kita bagaimana mau menyalurkan hobi yang bisa mendapatkan uang," kata dia.

Sebagai pembuat konten berbagai jenama (brand), Rhyma tetap ingin membantu para pelaku UMKM termasuk penjual barang daring (online shop) yang ingin produknya dipublikasikan atau diulas. Tak harus berbayar mahal, Rhyma bahkan bisa memberikan harga tergantung konsumen.

Ini dilakukan tak lain sebagai bentuk memabntu sesama. Uang yang didapat Rhyma pun tak serta merta masuk kantungnya. Nominal yang didapat nantinya disumbangkan kembali kepada mereka yang membutuhkan.

"Kita pakai setiap Jumat. Jadi istilahnya Jumat berkah ini," kata Rhyma.

Dia berharap ke depannya juga makin banyak UMKM baru bisa diajak kolaborasi. Semakin bertumbuhnya jumlah UMKM maka ekonomi di Bandung pun bisa semakin baik.

2. Berawal dari iseng kini hobi menghasilkan cuan

Konten Kreator, Cara Baru Millennial Meraup Rupiah dari Media SosialInstagram Ibaf_fabi

Di Lampung juga banyak konten kreator digital yang karyanya berhasil memikat pengikutnya. Dari awalnya hanya sekadar hobi, kini mereka menjadikan konten sebagai ladang penghasilan. Menariknya konten mereka bikin sangat berdampak bagi para pengikutnya. Jadi tak sekadar bikin konten tetapi hasil kreativitas ini juga mampu menghasilkan uang.

Salah satu konten kreator asal Lampung bermodalkan iseng adalah Ibaf Fabi. Millennial asal Kota Metro ini awalnya hanya iseng membagikan video lipsinc di media sosial Facebook.

"Dulu saya masih kelas 2 SMA penasaran gimana cara membuat video. Dulu kan saya anak pesantren jadi gak boleh bawa HP gitu. Jadi waktu ke warnet liat video lipsinc kok saya jadi tertarik juga gimana ya cara bikin video gitu,” ujarnya saat dihubungi, Rabu, (24/11/2021).

Semakin lama konten Ibaf semakin kreatif. Bahkan dia lebih banyak membuat konten sosial yang menggugah rasa empati orang lain. Seperti bertukar profesi pekerjaan dengan kuli ikan asin, pura-pura menjadi gelandangan dan masuk ke salah satu jaringan restoran fast food.

Salah satu konten membuat nama Ibaf Fabi semakin terkenal adalah konten social experiment gembel masuk restoran fast food vs gembel masuk warteg. Video empat tahun lalu itu kini sudah 14 juta kali di tonton.

Dalam video tersebut Ibaf menyamar sebagai seorang gembel dan minta makan di restoran fast food lalu membandingan ke warteg. Konten itu mendapat notice keren banget dari Ria Ricis. Hingga menghantarkannya mendapat program di tv nasional.

Dua tahun lalu, video Ibaf juga kolaborasi dengan Polres Lampung Utara berjudul nekat kabur ditilang polisi, parkour vs police ditonton 11 juta kali. Video itu menceritakan Ibaf yang ditilang polisi dan mencoba kabur dengan gaya parkour lalu akhirnya dia tertangkap dan diminta mengampanyekan berlalu lintas yang tertib pada millennial yang hadir di acara festival digelar Polres Lampung Utara.

Kegigihan Ibaf untuk terus berkreasi tentu membuahkan hasil. Kini, dirinya memiliki 2,49 juta subscriber dan terus berinovasi dengan membuat konten jelajah negeri, sebagai wujud keinginannya yang suka traveling mengunjungi berbagai daerah di Indonesia bahkan manca negara. Pada konten-konten ke pelosok negeri itu Ibaf mengenalkan budaya di sebuah daerah-daerah terpencil yang masih menjunjung tinggi adat istiadat.

Tak hanya menarik dari segi visual, kemampuan bercerita Ibaf juga sangat baik. Alhasil, penonton bisa menikmati bahkan mengambil hikmah dari konten-konten yang dibuat Ibaf.

Dari awalnya hanya mengenakan perlengkapan handphone dan belajar secara mandiri, kini Ibaf sudah memiliki tim dan perlengkapan memadai saat membuat konten. Bahkan banyak pemilik merk teknologi terkenal yang mendukung kontennya.

"Dulu mau buat video harus pinjem kamera temen dulu atau sewa. Alhamdulilah sekarang udah punya alat tempur sendiri," tuturnya. 

Menurutnya, untuk membuat konten menarik cukup menjalaninya sesuai hobi. Sehingga konten yang dihasilkan akan lebih berkualitas.

"Karena konten berkualitas itulah yang akan menggaet para penonton sekaligus sponsor," kata pemilik 131 ribu followers Instagram itu.

3. Memperkenalkan Bahasa Jasenglish yang berbuah manis

Konten Kreator, Cara Baru Millennial Meraup Rupiah dari Media SosialIDN Times/Istimewa

Sekali lagi, proses dalam membuat konten tak pernah mengkhianati hasil. Karya salah satu konten kreator asal Kota Serang, Banten bernama Bobby di media sosialnya telah mendapatkan pundi-pundi rupiah, bahkan, di Instagram dia telah mendapat penghasilan endors.

Kreator konten Bahasa Jasenglish (bahasa Jawa Serang dan Inggris) ini ternyata memiliki pasar tersendiri di kalangan millennial. Bahkan, tidak sedikit para netizen meminta Bobby untuk terus membuat konten dengan tema Jasenglish. Kini konten Jasenglish Bobby mulai digemari kaum millennial.

Sebelum menikmati hasil, Bobby hanya hobi bernyanyi kemudian meng-upload video ke YouTube dan Instagram. Namun tak disangka videonya ditonton banyak orang.

Semakin lama konten Bobby makin kreatif. Bahkan saat ini dia lebih banyak membuat konten cover lagu dan komedi pendek dengan menggunakan bahasa Jawa Serang dan Inggris.

Salah satu konten yang membuat nama Bobby makin terkenal adalah cover lagu hits kaula muda saat ini 'Its Only Me' menggunakan bahasa Jasenglish. Di Instagram bobby sudah mendapatkan centang biru dengan followers 34,1 ribu dan memiliki 7,94 ribu subscriber.

Bobby menjelaskan, alasan dia membuat konten Jasenglish adalah untuk mengajak millennial di Kota Serang untuk tidak malu berbahasa Jaseng di tempat tongkrongan. Sebab, kata Bobby, masih banyak milenial yang takut menggunakan Jaseng khawatir kena bully dan dianggap gak keren.

Hal itu pun pernah dirasakan oleh dirinya sendiri saat ditempat tongkrongan. "Padahal kan itu bahasa daerah orang Sunda aja gak malu pake bahasa Sunda," katanya.

4. Terinspirasi Kick Andy, jadikan isi konten edukasi dan inspiratif untuk masyarakat

Konten Kreator, Cara Baru Millennial Meraup Rupiah dari Media SosialSalah seorang konten Kreator Medan, Lisa Zhang (Instagram@lisazhang88)

Konten adalah hal terpenting dalam pemasaran di media sosial. Semakin kreatif, maka akan banyak yang meminta, menunggu, atau bahkan dicari para netizen. Karena itu, pekerjaan para konten kreator membutuhkan keseriusan untuk bisa memberikan yang terbaik. 

Salah satu konten kreator di Medan bernama Lisa Zhang memiliki ciri menyampaikan edukasi untuk memberikan hal positif dalam dunia digital. Saat ini subscribers YouTube-nya mencapai 1,01 ribu yang dimuali sejak Maret 2021, dan untuk Instagram 13 ribu followers.

Baginya, membuat konten sangat diperlukan konsistensi dalam pengerjaan atau memproduksi. Meski saat ini pesaing menjadi konten kreator cukup tinggi, namun baginya masing-masing telah memiliki bakat atau segmen tersendiri.

"Karena bagi aku semua punya keunikan masing-masing, aku ingin menaikkan analog Medan itu menjadi orang-orang inspiratif. Sebenarnya, aku sangat terinspirasi dengan konten-konten seperti kick Andy show yang mendatangkan orang-orang yang berkontribusi di masyrakat terus belajar sesuatu dari apa yang mereka sampaikan," tuturnya.

Lisa berharap para pengguna internet di sosial media dapat memanfaatkan momen ini dalam hal positif untuk konsumtif maupun produktif. "Pesannya, jadikan digital untuk anda membuat konten bukan hanya viral semata itu tidak ada artinya. Jadi, jangan mau ikut-ikutan, apa yang bisa disampaikan dan konsisten untuk bisa menjadi konten Kreator," jelasnya.

Lisa menilai, konten kreator harus tahu tujuan membuat konten dan tak hanya mengejar popularitas dengan cara sendiri mengembangkan kreatifitas diri. "Kalau kamu pemula coba berpikir ngapain membuat koten Why? Ketika sudah tahu Why lalu kamu bisa buat How jadi kamu bisa tahu itu bisa tercapai, ada tujuan yang jelas dan ada role model jadi ada gambarannya," ungkap perempuan berusia 33 tahun ini.

Berbicara soal penghasilan atau cuan yang didapat oleh Lisa pada konten di sosial media diakuinya tidak terlalu berdampak terutama pada sisi adsanse (seperti iklan). Namun, di luar adsanse tersebut ia mendapatkan cuan yang berdampak dari kontennya.

"Mungkin aku gak dapat iklan dari YouTube. Tapi ada orang lihat aku "ih aku mau dong acara kamu yang jadi MC". Secara langsung berdampak dengan yang lain karena aku fokusnya branding diri. Jadi basically aku ngekontennya bukan untuk uang, karena uangnya dari yang lain," jelas Lisa yang menurutnya, dunia digital telah membangun kepercayaan.

5. Ngerik, konten kreator asal Kota Minyak yang menghibur dengan komedinya

Konten Kreator, Cara Baru Millennial Meraup Rupiah dari Media SosialSi Ngerik, kreator konten yang terkenal di Balikpapan, (IDN Times/Dok. Si Ngerik)

Di Kota Balikpapan Kalimantan Timur (Kaltim), salah seorang konten kreator yang cukup terkenal adalah Si Ngerik. Pria yang aktif mengunggah video lucu ini bahkan memiliki pengikut di Instagram mencapai 30,8 ribu orang. Tentunya mereka adalah penikmat konten yang ditawarkan oleh Si Ngerik ini.

Kepada IDN Times, Ngerik mengungkapkan, awal dirinya membuat konten itu pun tanpa sengaja. Sekitar tahun 2019, saat dirinya masih bekerja di salah satu stasiun televisi lokal di Balikpapan, dirinya diminta untuk menjadi talenta di salah satu video edukasi tentang waktu yang diperkenankan untuk membuang sampah.

"Saya itu sebenarnya malu di depan kamera, tapi karena tidak ada talent-nya maka terpaksa dilakukan. Akhirnya buatlah konten itu, mengenai pasal-pasal buang sampah, karena di Balikpapan itu gak sembarangan kalau buang sampah, kan," tutur dia melalui sambungan telepon, Jumat (26/11/2021).

Rupanya konten pertama yang diunggahnya mendapat sambutan positif dari warga Balikpapan. Dirinya pun tak menyangka jika video tersebut justru mendulang peminat yang cukup banyak atas aksinya tersebut. Dari sanalah, dirinya pun akhirnya terus mencoba mengunggah video dengan kesan yang sama namun dengan berbagai tema.

Melihat animo masyarakat inilah yang membawanya kini menjadi konten kreator aktif sampai sekarang ini. "Dari video itu akhirnya banyak yang tahu, banyak yang suka. Sempat gak upload kemudian post lagi, kok responsnya bagus akhirnya candu deh buat sampai sekarang," kata dia.

Setelah dua tahun berkecimpung dalam dunia kreator video, Si Ngerik saat ini sudah bisa merasakan hasilnya. Dari sana, dirinya bisa membeli peralatan yang jauh lebih bagus dan canggih. Tak hanya itu, meski enggan menyebutkan nilai pendapatannya, dirinya saat ini sudah bisa membeli barang-barang yang didambakan sejak dulu. Semua itu berasal dari kegiatannya yang suka membuat video dan menarik banyak orang yang ingin produknya bisa dipromosikan oleh Ngerik.

Bahkan dirinya sampai terlibat kontrak kerja sama dengan salah satu brand kendaraan roda dua yang cukup terkenal di Indonesia, yakni Yamaha.

"Iya sampai ada kerja sama dengan ACS juga. Itu bakal launching bulan depan. Alhamdulillah, terasa hasilnya," ujar Ngerik.

Sebagai informasi, nama si Ngerik ini kini menjadi brand yang membentuk karakternya sebagai seorang konten kreator. Saat ditanya soal nama aslinya, Ngerik mengatakan, dirinya ingin dikenal dengan namanya saat ini, sebagai bentuk representatif dirinya.

6. Konten ibu dan anak hasil dari ketidaksengajaan

Konten Kreator, Cara Baru Millennial Meraup Rupiah dari Media SosialContent Creator TIkTok, Herma Prabayanti. Dok. pribadi.

Saat ini, menjadi konten kreator tak melulu harus dari kalangan seorang public figure atau selebritas terkenal. Mereka yang mampu membuat konten positif dan menarik akan dengan sendirinya menjadi terkenal.

Seperti yang terjadi pada konten kreator ibu dan anak asal Kota Surabaya ini. Herma Prabayanti (38) content creator TiktTok dan Vania Winola (15) content creator Podcast, keduanya berhasil memikat audiens melalui konten-kontennya.

Keduanya kerap kali membagikan cerita di media sosial dan mendapatkan respons positif dari para followers-nya. Kepada IDN Times, Herma dan Vania menceritakan bagaimana awal mula membuat konten hingga menjadi viral.

Menurut Herma, pandemik COVID-19 menjadi salah satu titik keberhasilannya dalam membuat konten. Pada Juli 2021 saat musim vaksinasi COVID-19, ia sering kali membuat potongan video yang rutin dibagikan di instastory. Seiring perjalanan, kemudian ia mengenal TikTok dan berfikir untuk mengembangkan kontennya melalui TikTok. Tak sengaja, konten itu langsung viral.

“Bikin konten di Tiktok tidak sengaja, awalnya sering share konten di IG. Story di IG. Karena aku gak bisa nge-dance. Maka, story di IG itu aku kumpulin terus digabungin. Ternyata di TikTok bisa dabbing, terus aku ngedit video disertai dabbing, terus aku kasih backsound, dan aku upload begitu saja. Paginya anakku bilangin kalau ternyata konten itu banyak yang nonton,” kata Herma.

Setelah mendapatkan respons baik dari netizen, maka Herma mulai tertarik untuk kembali membuat konten lanjutan. Kali ini dia kemas lebih terstruktur dan penuh perencanaan, meskipun sederhana.

“Yang pasti, aku ingin punya akun media sosial itu berisi tentang library-ku, yaitu konten yang tentu isinya bukan keluh kesah saja, tapi langsung ada solusinya. Karena itu harus jadi library-ku, maka aku buat konten yang fun dan ada pesan baik,” katanya.

Selain konten yang memiliki pesan baik, Herma juga mulai memasang target kalau konten yang diupload tidak boleh di bawah 100 ribu viewer. Kemudian target itu dinaikkan sampai 1 juta viewer.

“Karena konten-konten aku selama ini jarang di bawah 100 ribu viewer. Kalau dalam ilmu komunikasi, broadcasting itu harus punya target, awalnya 100 ribu, sekarang 1 juta. Kita rapat redaksi rutin lo sama Vania. Kalau viewer lagi turun, kita harus mainin apa, kadang kolaborasi berdua supaya naik lagi,” katanya.

Herma mengatakan, dia dan Vania sudah punya jadwal dan disiplin untuk menelorkan konten. Bahkan, kalau ada konten yang responsnya gak bagus maka diturunkan.

“Kalau di dunia TV itu kan wajar, ada suatu konten yang gak bagus ya diturunkan. Kami juga membuat perencanaan harian untuk membuat konten. Kalau buntu libatkan engagement netizen. Mengenali segment, karena algoritma udah tersistem. Pastikan itu audience kalian,” katanya.

Sementara sang anak, Vania juga mengaku bersyukur bisa menelorkan karya dalam bentuk podcast di little talks. Sebab, menurutnya para remaja yang gak bisa terbuka tentang masalahnya dan butuh teman bercerita, bisa berkomunikasi dengannya melalui kanal ini. Dia bisa membantu teman-temannya lewat podcast.

“Dua episode awal tentang diri sendiri, tentang cinta,” katanya.

Selama ini, Vania juga membuat skrip sendiri. Menurutnya, podcast memiliki value speak up untuk banyak orang. Ini mewakili orang-orang seumurannya yang butuh jalan keluar atas masalah yang dihadapi.

“Dari membuat konten ini, aku mendapat hal positif karena banyak yang percaya kepadaku dan menceritakan kepadaku. Membantu mereka buat aku tersenyum kembali itu buat aku senang,” katanya.

Vania sekarang menjadi remaja yang diperhitungkan dalam dunia podcaster. Bahkan, dia sempat dihubungi platform podcast agar konsisten memproduksi konten-konten yang mewakili generasi Z.

“Karena belum ada orang usia 13-16 tahun yang bikin podcast gini. Jadi, anak umur smp sampai kuliah belum ada. Sehingga saya juga diminta sering-sering buat konten agar generasi Z itu banyak yang download platform itu,” katanya.

Berbicara soal finansial yang dihasilkan dari konten kreator, Herma mengakui hal tersebut. Tetapi, bagi Herma dan Vania, value bisa berkumpul dengan keluarga adalah keuntungan tak ternominalkan dibandingkan hasil finansial dari sebuah konten.

“Keuntungan finansial ada. Tapi value yang utama, saya bersyukur sekarang memaksakan diri untuk quality time karena ngonten bareng anak saya. Aku bisa rapat redaksi sama anakku, bahkan suamiku kadang juga bantuin,” katanya.

7. Berkah kaum rebahan dari hasil Tiktokan, satu video berdurasi 15 detik dibayar Rp200 ribu

Konten Kreator, Cara Baru Millennial Meraup Rupiah dari Media SosialOctaliongni Sun Hatami, seorang talent TikTok yang kini dapat pekerjaan menjadi seorang MC di Semarang. (Dok pribadi)

Wanita bernama lengkap Octaliongni Sun Hatami asal Kota Semarang ini benar-benar menuai berkah selama wabah virus Corona melanda seluruh Indonesia. 

Octa yang menjadi mahasiswi semester 7 di jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang bisa dikatakan menjadi salah satu kaum rebahan yang ketiban pulung selama pandemik. Betapa tidak, dari hobi main TikTokan di rumah selama pandemik justru dilirik oleh kampusnya.

"Saya sebenarnya sudah suka ngonten di YouTube sejak 2017 silam. Tapi karena sejak 2020 ada wabah virus Corona, saya malah hobi main TikTokan di rumah. Dari situlah mungkin membutuhkan sosok yang kreatif di bidang komunikasi, jadinya saya direkrut sekalian jadi talent TikToknya Udinus," kata perempuan berusia 21 tahun itu ketika berbincang dengan IDN Times, Jumat (26/11/2021).

Octa menyadari bahwa kegiatannya yang aktif ngonten di TikTok tak bisa dilepaskan dari proses belajarnya di bangku kuliah. Sebagai seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi, Octa kerap mendapat segala jenis pelajaran yang berhubungan dengan pembuatan konten.

Udinus yang notabene sebagai kampus yang punya corak teknologi yang sangat kuat sering membebankan tugas pembuatan konten kepada para mahasiswi seperti Octa dan teman-temannya di dalam kelas.

"Soalnya di jurusan Ilmu Komunikasi Udinus, saya sering ditugasi bikin konten juga. Jadi, sejujurnya setiap saya ngonten gak cuma mengejar follower tapi saya berusaha dapat teman-teman yang baru untuk memperluas relasi," kata dia.

Soal penghasilan, mahasiswi Udinus yang hidup di era digital tentunya mampu meraih cuan tambahan. Octa mengatakan dari hobinya main TikTokan, kini dirinya bisa mendapatkan fee Rp200 ribu untuk satu video berdurasi 15 detik.

"Setiap TikTokan sama Udinus, saya dapat fee Rp200 ribu. Itu untuk pembuatan tiga video TikTok dengan durasi waktu masing-masing video 15 detik. Ya, ini kesempatan yang gak boleh dilewatin. Apalagi kita bikinnya cuma di rumah, gak keluar modal," katanya.

Tidak hanya itu, cuan lainnya pun muncul dari netizen yang kerap kali melihat Octa main TikTokan. Pekerjaan MC dalam sejumlah event pun kian banyak tawaran. Setidaknya dari hasil TikTokan, Octa pernah nge-MC dalam acara start-up yang diikuti peserta seluruh Jawa Tengah. 

Selain itu tawaran nge-MC juga terus berdatangan dari kantor-kantor dinas seperti Disperindag. "Bagi saya, ngonten itu gak cuma sekedar nyari follower dan uang. Tapi belajar banyak bagaimana membangun relasi lebih luas. Pada akhirnya dapat kepercayaan dari Udinus. Ketika bertemu dengan para konten kreator lainnya, saya jadi sering sharing ilmu, kenal banyak profesi. Makanya sekarang saya juga sering dapat job jadi MC di kantor dinas," kata warga Jalan Arteri Soekarno-Hatta, Pedurungan tersebut.

8. Informasi kuliner yang cukup dicari di Yogyakarta

Konten Kreator, Cara Baru Millennial Meraup Rupiah dari Media SosialDadad Sesa (dok.istimewa)

Bagi sebagian netizen khususnya di daerah Yogyakarta mungkin sudah tidak asing dengan konten yang ditayangkan Javafoodie. Konten kreator, Dadad Sesa adalah sosok di balik kejenakaan tayangan makanan tersebut.

Dadad Sesa bukanlah pemain baru, malah bisa dibilang pionir dalam dunia konten kreator kuliner. Walau kini banyak yang pembuat tayangan dengan tema yang sama, Dadad justru makin moncer dan berkembang dengan ide uniknya.

Namun, sebelum sukses menghadirkan konten menarik, Dadad Sesa sudah memulai debutnya sebagai pengulas makanan melalui blog yang dimilikinya, sejak tahun 2010. Berjalannya waktu, ternyata banyak pembaca memintanya untuk membuat Instagram.

"Sampai akhirnya pada tahun 2015, saya coba untuk full time di bidang konten kreator ini", ujar Dadad saat wawancara dengan IDN Times pada Rabu, 24 November 2021.

Dari ketekunannya, kini Javafoodie sudah memiliki 203 ribu pengikut di Instagram dan 400 ribu pengikut di TikTok. Meskipun laris dengan konten kuliner dan mempunyai banyak follower, tak membuat hdup Dadad santai.

Rasa haus akan ilmu membuatnya ingin belajar dan improvisasi, salah satunya belajar TikTok. Ia mulai menggali dan mencari tahu mengenai apa yang disukai oleh penontonnya. “Biasanya justru street food atau kuliner tradisional yang khas.” ujar Dadad saat ditanya tentang tema yang paling ramai disukai oleh penonton.

Dalam mengelola Javafoodie, Dadad ternyata tak sendiri. Ia dibantu Mas Gondrong, lawan mainnya yang selalu bernasib sial dan Meika, yang berperan menjadi pacarnya.

Kenaikan jumlah penonton, pengikut dan endorsement di media sosial miliknya, tak dipungkiri menambah pundi-pundi kantongnya. Namun ia mengaku tak hanya mengejar rupiah, lantaran menjadi konten kreator makanan sudah menjadi keinginannya. 

“Sukanya sih banyak teman. Dukanya waktu kerjanya cukup rancu, dan harus bisa bekerja di mana pun. Bisa dibilang, lingkaran pertemanannya jadi lebih luas karena mendatangi berbagai jenis tempat makan, baik restoran mewah, warteg, atau sekadar penjaja kaki lima." 

"Menjadi seorang konten kreator makanan harus dimulai dari minat yang timbul dari diri sendiri. Sia-sia kalau dari awal memang tidak memiliki ketertarikan pada dunia kuliner karena minat inilah yang menjadi modal awal untuk bisa berhasil," papar Dadad.  

9. Saling dukung konten kreator dan ajak millennial manfaatkan peluang

Konten Kreator, Cara Baru Millennial Meraup Rupiah dari Media Sosialinstagram.com/haipuja

Perkembangan teknologi dan kecanggihan alat membuat para kreator konten dituntut untuk kian kreatif dan produktif dalam menciptakan karya. Sehingga konten yang dihasilkan bisa diterima publik dan tentunya mendapat sumber penghasilan. 

Seperti halnya yang dilakukan seorang kreator konten asal Bali, Puja Astawa, yang dikenal publik dengan panggilan Hai Puja. Saat ini Puja Astawa, melalui akun instagramnya sudah memiliki 399 ribu pengikut. Sementara channel YouTubenya, heipuja memiliki 107 ribu subscriber.

Pria bernama lengkap I Kadek Puja Astawa ini semula dikenal sebagai seorang fotografer. Namun pada tahun 2014, ia mulai menggeluti dunia videografi dengan membuat berbagai video yang diunggahnya di berbagai platform jejaring sosial.

Usahanya ternyata tidaklah sia-sia. Pada tahun 2018, karya-karyanya mulai dikenal publik. Puja Astawa membuat video dengan tema komedi.

"Awalnya kami berkeinginan untuk menyampaikan keresahan dan edukasi masyarakat melalui media komedi," ungkap Puja Astawa, Jumat (26/11/2021). Menurutnya, komedi biasanya bisa diterima oleh berbagai kalangan di masyarakat.

Terkait ide atau kreativitas, Puja Astawa mengaku, mengalir mengikuti waktu. Sehingga, dirinya tidak memiliki kapan waktu yang pas untuk menggarap konten. "Apabila ada ide, langsung digarap," ujar dia.

Dia mengaku, untuk hasil di YouTube saat ini sebenarnya tidak terlalu besar. Ia memperkirakan videonya banyak ditonton melalui grup WhatApps, bukan melalui YouTube.

"Orang-orang download, kemudian dibagikan di group WA. Banyak yang seperti itu," ungkapnya.

Puja Astawa berharap, para millennial khususnya anak muda di Bali semakin bisa menangkap peluang menjadi seorang kreator konten. Namun yang harus ditekankan, konten yang dibuat tidak semata-mata berorientasi pada uang. Namun lebih pada edukasi yang diberikan ke masyarakat dalam setiap karya yang dibuat.

"Tetap berkarya sesuai bakat yang dimiliki dan dunia konten kreatif ke depan semoga ada perubahan ke arah yang lebih baik, yakni konten tidak hanya berorientasi uang. Tapi lebih kepada bentuk edukasi," harapnya.

10. Dokter umum yang doyan kuliner kaki lima

Konten Kreator, Cara Baru Millennial Meraup Rupiah dari Media SosialHalaman akun Instagram @kakilimasemarang. (Instagram/@kakilimasemarang)

Konten kreator kuliner asal Kota Semarang, Eko Deskurniawan berhasil mengulas berbagai macam hidangan karena pengalaman saat menjadi anak kos. Bagi mereka yang pernah merasakan menjadi anak kos tentu mencari makanan murah, banyak, dan enak adalah sebuah idaman.

Nah, pengalaman itu terjadi dijadikan tema bagi Eko untuk membahas hidangan kaki lima di Kota Semarang. Melalui akun Instagram @kakilimasemarang. Eko menjadi salah satu konten kreator yang berhasil meraup cuan.

’Kisah awal merintis nggak sengaja karena pada tahun 2011 pindah dari Kudus dan tinggal di Semarang untuk kuliah. Saat itu sedang ramai-ramainya orang bikin konten di Instagram. Saya pun ikut-ikut membuat konten di media sosial itu. Saya memilih konten kuliner dengan mengunggah foto-foto makanan beserta informasi,’’ tuturnya kepada IDN Times, Jumat (26/11/2021).

Pilihan kuliner menjadi tema dalam setiap kontennya. Eko menginginkan kuliner yang selalu up to date bisa menjadi bahan konten. Konten makanan kaki lima yang unik, menarik, nikmat dengan harga yang terjangkau dijadikannya sebagai pembeda dengan akun kuliner lain. Lambat laun konten berisi informasi makanan yang merakyat itu berhasil mencuri perhatian netizen dan mendulang jumlah pengikut. Kini follower akun @kakilimasemarang itu sudah mencapai 210 ribu.

‘’Tapi untuk meraih 210 ribu pengikut itu juga tidak mudah. Saya harus terus berkreasi dan berinovasi, selain mengunggah foto saya juga mulai membuat video. Ternyata dengan membuat video mengulas makanan followers jadi cepet banget bertambah. Mungkin karena visualisasinya dapat dan lebih komunikatif juga dalam menyampaikan informasi, sehingga bisa menarik perhatian netizen,’’ jelas kreator konten yang juga berprofesi sebagai dokter umum itu.

Dalam proses kreasi itu, Eko hanya memakai saluran media sosial Instagram. Sehingga cuan yang mengalir tidak dari adsense melainkan dari sponsor, iklan, endorsement. Bagi pelaku usaha kuliner yang berminat dipromosikan di Kaki Lima Semarang ada tarif tertentu. Kini pendapatan Eko bisa mencapai belasan sampai puluhan juta rupiah per bulan.

Seiring berjalannya waktu, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sultan Agung Semarang itu pun tidak menggarap akun kuliner Kaki Lima Semarang sendiri. Ia sudah memiliki tim terdiri atas empat orang mulai dari yang bertugas sebagai videografer dan fotografer hingga editor dan admin.

‘’Kami sudah punya tim dari dua tahun lalu. Setiap hari kami bisa menghasilkan 2--3 konten kuliner untuk diposting di Instagram. Namun, jika tidak ada endorsement atau iklan kami juga inisiatif membuat konten pribadi tanpa sponsor dengan mendatangi pedagang kuliner kaki lima atau ke UMKM untuk dijadikan konten,’’ katanya.

11. Berhenti jadi karyawan dan fokus menggarap konten kreatif

Konten Kreator, Cara Baru Millennial Meraup Rupiah dari Media SosialChannel YouTube Cerita Puisi

Sepuluh tahun yang lalu mungkin tidak banyak yang menyangka bahwa perkembangan teknologi bisa berkembang pesat seperti saat ini. Tidak sedikit pula yang memanfaatkan teknologi itu untuk memaksimalkan kreativitas yang dimiliki. Salah satunya menjadi konten kreator di berbagai platform.

Salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki banyak anak muda berbakat adalah Nusa Tenggara Barat (NTB). Lulu Walmarjan misalnya. Dirinya memilih menjadi YouTuber di usianya yang ke 29 tahun. Perempuan dua anak ini juga memutuskan berhenti dari pekerjaannya di salah satu perusahaan di Provinsi NTB dan memilih untuk memaksimalkan potensinya di bidang konten. Dia membuka channel YouTube dengan nama Cerita Puisi.

Channel YouTube Cerita Puisi membagikan konten tentang review alur film India. Saat ini, channel itu sudah memiliki 97,4 ribu subscribers. Ini menjadikannya sebagai channel YouTube khusus review film India dengan urutan ke-4 subscribers terbanyak di Indonesia. Video yang diunggah sudah ditonton jutaan kali. Salah satu video yang paling banyak ditonton adalah review Film Sulthan 2021. Video ini sudah ditonton sebanyak 5,8 juta kali dan masih tetap ditonton hingga saat ini.

Pendapatannya saat ini sudah mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan. Dalam sepekan, Lulu bisa menggunggah dua hingga tiga video. Ini rutin dilakukan untuk menjaga performa channelnya tetap baik. Meski demikian, pendapatannya tidak menentu, tergantung jumlah video dan penonton unggahannya.

“Kalau pendapatan itu beda-beda tiap bulan, yang jelas di angka puluhan juta. Alhamdulillah dari hasil itu bisa beli kendaraan juga,” kata Lulu.

Sebelum memiliki dua balita, Lulu memproduksi videonya sendiri. Dia melakukan editing, dubbing hingga menggunggah dilakukannya sendiri. Namun kini dia disibukkan dengan dua buah hatinya. Sehingga dia mempekerjakan satu orang editor untuk melakukan editing video yang akan diunggah.

Channel Cerita Puisi bisa mendapatkan banyak dukungan dari penonton bukan tanpa usaha. Awalnya Lulu membuat channel YouTube pada tahun 2012 lalu. Tidak banyak video yang diunggah. Sempat vakum, namun pada tahun 2014 channelnya kembali diisi dengan konten kehidupan sehari-hari. Alat yang digunakan juga cukup sederhana hanya bermodalkan HP. Apalagi saat itu dia tidak memiliki laptop untuk melakukan editing yang lebih baik.

“Kadang yang nonton cuma lima, kadang 10. Subscriber juga cuma 22 orang,” kata Lulu.

Lulu tetap mengunggah berbagai video untuk mengisi channelnya. Dia yakin dari semua video yang diunggah akan ada waktunya salah satu video itu memiliki banyak penonton. Hingga akhirnya dia berinisiatif untuk membuat review alur cerita film India yang mengantarkannya menjadi salah satu YouTuber sukses dari NTB.

“Dari banyak video yang diunggah, benar saja ada satu video yang memiliki banyak views. Suami saya menyarankan untuk konsisten membuat review alur cerita film India dan ternyata banyak yang suka,” ujarnya.

Dia juga berpesan kepada konten kreator pemula agar tetap konsisten membuat konten. Jangan cepat menyerah meski view-nya belum banyak. Konsistensi dalam membuat konten adalah kunci untuk mendatangkan banyak penonton dan subscribers.

“Sekarang sudah banyak orang yang beralih ke YouTube. Bahkan artis juga ramai bikin channel YouTube. Nggak satu atau dua, tapi banyak. Tapi bagaimanapun dan berapapun banyaknya channel youtube, nggak banyak yang bisa berkembang dan sukses. Intinya jangan gampang nyerah,” ujar Lulu.

Dia meyakinkan semua konten kreator pemula untuk tetap semangat dan jangan putus asa. Sebab akan selalu ada waktunya kerja keras akan dibayar, meski tidak sekarang.

“Misalnya baru upload video terus nggak ada yang nonton atau subscriber-nya nggak nambah, jangan nyerah. Terus saja upload dan buat video semampu kita. Karena kita nggak tahu video mana yang akan viral dan menghasilkan,” ujarnya.

Bulan Maret tahun 2021 Lulu mendapatkan gaji pertamanya dari YouTube. Dia berhasil monetasi sebanyak 4.000 jam tayang dengan 1.000 subscribers. Belum setahun sejak mendapatkan gaji pertamanya, channelnya mendapatkan hampir 100.000 subscribers.

Selain Lulu, ada pula Salim Raharja. Dia merupakan konten kreator di platform Instagram dan Facebook. Dia membuat akun Hai Lotim untuk memberikan informasi terkini bagi warganet. Kini akunnya sudah banyak diikuti dan sudah dijadikan sabagai pilihan pemilik usaha untuk melakukan promosi.

Akun Hai Lotim yang saat ini memiliki 31,8K followers aktif memberikan informasi seputar Kabupaten Lombok Timur. Akun ini menjadi akun informasi nomor satu saat ini di daerah itu, padahal belum genap berusia dua tahun.

Founder sekaligus admin akun Hai Lotim Salim Raharja mengatakan bahwa ide untuk membuat akun informasi itu berasal dari keinginannya untuk memberikan kemudahan kepada pengguna medsos. Harapannya warganet bisa mendapatkan informasi terkini tentang Lombok Timur.

“Merintis Hai Lotim ini sebenernya insidental ya, waktu itu bulan Ramadhan plus pandemi, hampir nggak produktif sama sekali di tempat kerja. Iseng cek-cek instagram, kepikiran, kok belum ada ya akun warganet yang khusus mengulas tentang Lombok Timur,” ujar Raharja.

12. Kenalkan keindahan alam daerah dan dibalas pundi-pundi rupiah

Konten Kreator, Cara Baru Millennial Meraup Rupiah dari Media SosialKonten kreator asal Pagar Alam Sumatra Selatan, Rahmad Zilhakim (IDN Times/istimewa)

Menjadi konten kreator artinya dituntut menghasilkan karya-karya kreatif dan konsisten. Tuntutan itu telah dijalani pemuda asal Pagar Alam, Sumatra Selatan (Sumsel) bernama Rahmad Zilhakim selama tiga tahun terakhir.

Hakim sapaan akrabnya mengaku, mulai menjadi konten kreator sejak 2018 silam. Saat itu, dirinya merasa memiliki ekspektasi yang tinggi untuk terjun dalam dunia kreatif.

"Awal saya merintis YouTube 2018 awal. Saat itu saya tahu kalau di YouTube menjadi salah satu cara berbagi pengalaman yang sangat mudah, dan bisa menjangkau ke penonton seluruh dunia," ungkap Hakim kepada IDN Times, Jumat (26/11/2021).

Kini, kanal YouTube - nya sudah hampir mencapai 10 juta view. Per bulan, Hakim dapat menghasilkan uang Rp8 juta hingga Rp14,5 juta. Jika sebelumnya Hakim hanya menggunakan kamera seadanya melalui handphone, sekarang semua kebutuhan untuk membuat konten kreatif sudah terpenuhi dengan membeli dari hasil kreativitasnya.

"Alhamdulillah dari penghasilan YouTube saya bisa bantu keluarga," jelas dia.

Membuat sesuatu yang informatif dan berbeda tentu menjadi tantangan bagi para konten kreator. Sama halnya yang dilakukan Hakim. Dalam kanal YouTube miliknya, tema-tema perjalanan menuju lokasi wisata di Sumsel akan hadir dan dinantikan netizen.

Bahkan, konten perjalanan ini secara langsung bisa mengenalkan kekayaan alam di bumi Sriwijaya. Tak jarang, dirinya pergi untuk membuat konten perjalanan ke tempat wisata yang belum atau jarang dijamah banyak orang.

"Hitung-hitung memperkenalkan pariwisata Sumsel, saya suka jalan-jalan ke sana. Seminggu bisa dua tempat saya singgahi," beber dia.

Hampir sama dengan konten kreator lainnya, bagi Hakim semakin banyaknya pembuat konten kreatif yang bermunculan tidak membuatnya takut dan tersaingi. Justru, kehadiran konten kreator baru membuat bangga karena banyak anak Indonesia bisa berkarya.

"Lebih kreatif di YouTube, jadi mengurangi pengangguran di Indonesia dan angka kemiskinan," yakin dia.

Hakim mengajak generasi milenial dan generasi Z di Sumsel untuk berkarya dengan keahlian yang mereka miliki. Menurutnya, berkarya akan mengasah kemampuan dan kreativitas.

"Jangan hanya diam dan menjadi penonton. Asal ada kemauan, percaya diri, semangat, sabar dan konsisten," tutup dia.

Tim penulis: Abdul Halim, Debbie sutrisno, Silviana, Khaerul Anwar, Indah Permatasari, Riani Rahayu, Zumrotul Abidin, Fariz Fardianto, Dyar Ayu, Wayan Antara, Anggun Puspitoningrum, Linggauni, Rangga Erfizal.

 

Topic:

  • Yogi Pasha

Berita Terkini Lainnya