Comscore Tracker

Hampir Dua Pekan Ditangani, Penyebab Gempa Cianjur Belum Jelas

Ada perbedaan data dari BMKG dan sejumlah ahli

Bandung, IDN Times - Peristiwa gempa magnitudo 5,6 Cianjur yang mengakibatkan ratusan korban jiwa kini masih belum diketahui penyebabnya. Banyak yang berpendapat bahwa peristiwa ini terjadi karena sesar Ciamandiri.

Namun, sebagaian ahli berpendapat bahwa penyebab gempa bukan dari sesar Ciamandiri, tetapi dari sesar lain yang kini masih belum diketahui. Salah satu instansi yang menyebut ini bukan sesar Ciamandiri yaitu Peniliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mudrik Rahmawan Daryono.

1. Peneliti BRIN sebut gempa bukan dari sesar Ciamandiri

Hampir Dua Pekan Ditangani, Penyebab Gempa Cianjur Belum JelasPosko korban terdampak gempa Cianjur di RSUD Sayang (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Mudrik Rahmawan Daryono mengatakan, peristiwa gempa Cianjur bukan dari sesar Cimandiri. Hal ini diketahui berdasarkan peta gempa, menurut dia.

"Jadi gempa bumi yang kemarin Cianjur itu sumbernya setelah di-plot secara parsial, itu posisinya ada di utara sesar Cimandiri. Jadi dia jelas bukan dari sesar Cimandiri tapi dari suatu sesar yang untuk sampai saat ini belum diketahui," ujar Mudrik saat dikonfirmasi, Rabu (30/11/2022).

Mudrik melanjutkan, berdasarkan catatan sejarah Belanda, terdapat katalog fiser yang menunjukkan bahwa di Cianjur pernah terjadi gempa bumi tahun 1800 dan 1900-an. Sehingga, secara jelas di lokasi titik gempa pernah terjadi gempa bumi dan ada sesar aktif.

"Jadi belum diketahui secara pasti secara sains kemudian disepakati bersama itu juga belum ada," ungkapnya.

2. Peneliti Unpad juga sebut ini bukan sesar Cimandiri

Hampir Dua Pekan Ditangani, Penyebab Gempa Cianjur Belum JelasPosko korban terdampak gempa Cianjur di RSUD Sayang (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Selain itu, Dosen Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran Dr. Ir. Ismawan juga mengatakan, penyebab gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6 di Cianjur yang diduga dipicu pergerakan sesar Cimandiri patut diragukan.

Salah satu yang mendukung hipotesis tersebut adalah lokasi episenter gempa yang berada jauh dari bentangan Sesar Cimandiri. "Yang jelas, saya yakin ini bukan bagian dari sesar Cimandiri, meskipun arahnya sama," kata Ismawan berdasarkan keterangan resmi, Rabu (23/11/2022).

Ismawan mengatakan, kawasan Cugenang yang menjadi episenter gempa Cianjur berjarak sekira 10 kilometer di sebelah utara jalur patahan Cimandiri. Sedangkan, jalur sesar Cimandiri sendiri bermula dari Pelabuhan Ratu lalu membentang ke arah timur dan berbelok ke utara di sekitar kawasan episenter gempa kemarin.

Dugaan ini juga diperkuat dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa lebar dari sesar Cimandiri adalah berkisar 8–10 meter. Selain itu, kontur dari sesar Cimandiri memiliki kemiringan ke arah selatan, sehingga lokasi episenter gempa dengan kedalaman 10 kilometer dipastikan berada di luar jalur sesar tersebut.

Lebih lanjut Ismawan menganalisis, kemungkinan gempa ini diakibatkan oleh pergerakan sesar baru yang belum banyak diketahui orang. Ia menjelaskan bahwa hal tersebut belum banyak diketahui orang, karena bisa jadi jejak-jejak pelurusan sesar tersebut tertutupi.

Jika melihat lokasi episenter yang berada dekat dengan Gunung Gede, maka kemungkinan jejak-jejak sesar tersebut tertutupi oleh endapan gunung api.

"Ini dimungkinkan karena kalau sesar lama biasanya ada jejak-jejak pelurusan yang menunjukkan bahwa di situ ada sesar. Di sana karena batuan vulkanik, jejak pelurusannya itu kelihatan tidak ada," ungkapnya.

Ismawan mengatakan, dilihat dari vocal mechanism gempa Cianjur, ada dua kemungkinan jalur sesar yang belum teridentifikasi tersebut, yaitu: barat-timur atau utara-selatan. Namun, kemungkinan besar, jalur sesar tersebut mengarah barat-timur.

Ismawan pun menyanggah bahwa gempa bumi tersebut diakibatkan oleh aktivitas gunung api. "Justru sebaliknya, dikhawatirkan aktivitas sesar tersebut apakah akan memicu aktivitas vulkanik atau tidak," katanya.

Ismawan mengatakan, gempa Cianjur memiliki kekuatan yang cukup besar. Ini diperparah dengan lokasi episenter yang berada di daratan serta kedalaman gempa yang cukup dangkal, yaitu 10 kilometer.

Hal ini menyebabkan banyak bangunan di atasnya menjadi rusak parah.

"Sesar-sesar yang di darat memang tidak akan menimbulkan tsunami, tetapi akibat primernya itu gedung-gedung banyak yang roboh. Kalau kedalamannya cukup dangkal, gempa kecil pun bisa merusak," katanya

3. Ada beberapa retakan yang memicu peristiwa gempa Cianjur

Hampir Dua Pekan Ditangani, Penyebab Gempa Cianjur Belum JelasSituasi RSUD Sayang Cianjur pasca gempa mag 5.6 dipenuhi oleh korban gempa. (IDN Times/Yogi Pasha)

Analisis mengenai gempa dipicu pergerakan sesar baru menandakan bahwa bisa jadi ada banyak sesar baru yang belum teridentifikasi dan dapat memicu gempa cukup serius.

"Kemarin kejadian satu daerah yang selama ini tidak disinggung ada patahan ternyata menghasilkan gempa bumi cukup besar. Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran," katanya.

Selain itu, dampak peristiwa gempa bumi tidak hanya dilihat dari besaran magnitudonya, tetapi juga kedalamannya. Gempa dengan magnitudo tidak besar, tetapi dengan kedalaman yang dangkal, akan menimbulkan efek besar.

"Meskipun di daerah kita disebutkan jauh dari patahan, kita tidak tahu ternyata ada beberapa retakan yang mungkin kita belum tahu," kata dia.

4. PVMBG juga memastikan penyebab bukan dari sesar Ciamandiri

Hampir Dua Pekan Ditangani, Penyebab Gempa Cianjur Belum JelasSituasi RSUD Sayang Cianjur pasca gempa mag 5.6 dipenuhi oleh korban gempa. (IDN Times/Yogi Pasha)

Sedangkan, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi mencatat, gempa yang terjadi pada hari Senin, tanggal 21 November 2022, pukul 13:21:10 WIB, itu terletak di darat pada koordinat 107,05 BT dan 6,84 LS, berjarak sekitar 9,65 kilometer barat daya Kota Cianjur atau 16,8 kilometer timur laut Kota Sukabumi.

Berdasarkan informasi dari The United States Geological Survey (USGS) Amerika Serikat, lokasi pusat gempa bumi terletak pada koordinat 107,095 BT dan 6,853 LS dengan magnitudo M5,6 pada kedalaman 10 kilometer.

"Menurut data Geo Forschungs Zentrum (GFZ), Jerman, lokasi pusat gempa bumi berada pada koordinat 107,05 BT dan 6,89 LS, dengan magnitudo M5,5 pada kedalaman 10 kilometer," ujar Ketua PVMBG Badan Geologi, Hendra Gunawan melalui keterangan resminya, Senin (30/11/2022).

Menurutnya, Morfologi wilayah tersebut pada umumnya berupa dataran hingga dataran bergelombang, perbukitan bergelombang hingga terjal, yang terletak pada bagian tenggara gunung api Gede.

Kemudian, wilayah ini secara umum tersusun oleh endapan Kuarter berupa batuan rombakan gunung api muda (breksi gunung api, lava, tuff) dan aluvial sungai. Sebagian batuan rombakan gunung api muda tersebut telah mengalami pelapukan.

Hendra menambahkan, endapa kuarter tersebut pada umumnya bersifat lunak, lepas, belum kompak (unconsolidated) yang memperkuat efek guncangan, sehingga rawan gempa bumi.

Pada morfologi perbukitan juga terlihat bergelombang hingga terjal yang tersusun oleh batuan yang telah mengalami pelapukan, berpotensi terjadi gerakan tanah yang dapat dipicu oleh guncangan gempa bumi kuat dan curah hujan tinggi.

"Berdasarkan posisi lokasi pusat gempa bumi, kedalaman dan data mekanisme sumber dari BMKG dan GFZ Jerman, maka kejadian gempa bumi ini diakibatkan oleh aktivitas sesar aktif. Keberadaan sesar aktif tersebut hingga kini belum diketahui dengan baik karakteristiknya," kata dia.

5. BMKG akui belum ada data lengkap soal penyebab peristiwa ini

Hampir Dua Pekan Ditangani, Penyebab Gempa Cianjur Belum JelasMahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Nusantara melakukan doa bersama untuk Cianjur di Titik Nol KM, Yogyakarta, Rabu (23/11/2022). Doa bersama yang diikuti oleh sejumlah perwakilan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia tersebut menjadi wujud kepedulian dan bentuk empati Mahasiswa Nusantara atas peristiwa gempa bumi di Kabupaten Cianjur pada Senin, 21 November 2022 (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

Meski begitu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengakui belum memiliki data lengkap soal penyebab terjadinya gempa bumi magnitudo 5,6 di Kabupaten Cianjur.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawat mengatakan, pada saat peristiwa ini terjadi, ia bersama jajaran belum bisa memastikan bencana gempa ini dipicu bagian sesar mana. Hal ini dikarenakan belum ada data yang lengkap.

"Karena belum ada data yang tepat. Kalau tidak Cimandiri, ya Padalarang. Episenter fokus mengarah ke arah sistem sesar Cimandiri. Kenapa pake kata sistem? Karena sesar itu tidak sendirian," ujar Dwikora di Pendopo Cianjur, Kamis (24/11/2022).

Menurutnya, pusat gempa itu tidak di pusat patahan. BMKG juga mencocokkan dengan vocal mechanism dengan kemiringan bidang, yang ada pada beberapa sesar yang ada di pusat gempa.

"Diproyeksikan ke atas, ini agak nyimpang beberpa kilometer. Namun sekali lagi kami masih mengumpulkan data," kata dia.

Baca Juga: BMKG Belum Keluarkan Rekomendasi Titik Rutilahu Korban Gempa Cianjur

Baca Juga: Kapolres Cianjur Pastikan Tak Ada Penolakan Bantuan Pengungsi Gempa

Topic:

  • Galih Persiana

Berita Terkini Lainnya