Hamish Daud dan Ridwan Kamil Kerja Sama Pilah Sampah di Jabar 

Jumlah sampah di Jabar capai 35 ribu ton per hari

IDN Times/Tangkapan layar Youtube Pemprov Jabar

Bandung, IDN Times - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menggandeng artis Hamish Daud selaku pencetus Octopus, aplikasi untuk mengumpulkan sampah plastik yang bisa didaur ulang. Kerja sama ini dilakukan untuk menekan jumlah sampah khususnya dari rumah tangga masuk ke tempat pembuangan sampah akhir (TPSA).

Ridwan Kamil menuturkan, salah satu problema dalam sebuah pembangunan berkelanjutan adalah populasi manusia yang kian bertambah dan berpengaruh pada produksi sampah.

Meski program menekan laju pertumbuhan penduduk dilakukan, tapi penurunannya tidak signifikan. Kondisi ini kemudian berdampak ada volume sampah. Dengan gaya hidup yang kian modern, masyarakat kemudian lebih mudah menghasilkan sampah dibanding jaman dulu.

"Sekarang kalau ada pengajian saja langsung pakai air mineral. Kemudian sampah yang ada di rumah dibuang saja yang penting tidak ada di halamannya. Hasilnya sampah ini masuk ke sungai, masuk ke laut," ujar Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, dalam diskusi Kelola Sampah Berbasis Digital Menuju Jabar Juara di Gedung Sate, Rabu (5/5/2021).

1. Lewat aplikasi pengumpulan sampah bisa lebih mudah

Ilustrasi sampah (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

Saat ini Emil sangat berharap penyelesaian sampah bisa lebih optimal khususnya ketika memafaatkan aplikasi digital. Melalui Octopus hasil sampah yang dipilah masyarakat, nantinya bisa diambil oleh para pelestasi, sebutan bagi para pemulung yang dipekerjakan.

Masyarakat tinggal mengunduh aplikasi ini kemudian bisa memberikan sampah yang telah didaur ulang untuk dijadikan rupiah. Saking mudahnya, pengguna tidak repot bepergian ke luar rumah, karena ada pelestasi sampah yang akan datang dan mengambil sampah rumah tangga yang telah dipisahkan tersebut.

"Aplikasi menyederhanakan proses sehingga ibu-ibu di rumah sambil main handphone tinggal panggil pelestasi terdekat. Ini (octopus) sangat revolusioner dan user friendly, makanya enak," kata Emil.

Dengan adanya aplikasi ini, maka sistem sircular ekonomi akhirnya berjalan. Mulai dari produsen kemudian ke konsumen, sampah bisa dipilah dan didaur ulang untuk kemudian dijual kembali ke produsen produk. Cara ini membuat produksi plastik baru untuk produk tertentu bisa diminimalisir.

2. Keresek dan diappers juga bisa didaur ulang

IDN Times/Tangkapan layar Youtube Pemprov Jabar

Hamish Daud selaku founder Octopus menuturkan, melalui aplikasi ini masyarakat bisa bergotong-royong tanpa harus terikat dengan komunitas atau pegiat lingkungan apapun. Cara ini lebih mudah bagi mayoritas penduduk yang hanya ingin mencoba memilih sampah rumah tangganya.

Dia menuturkan, nantinya bukan hanya sampah plastik botol yang bisa diambil para pelestasi, bahkan keresek dan pampers pun akan coba didaur ulang agar tidak menjadi limbah di TPSA.

"Untuk diappers ini kita pilot project di Bandung. Jadi ibu rumah tangga ini nanti bisa dapat insentif untuk olah diappers-nya ke kita," ujar Hamish

3. Bank sampah Jabar harap dilibatkan dalam pemilihan sampah ini

Ilustrasi daur ulang sampah (ANTARA FOTO/Syaiful Arif)

Ketua bank sampah Jabar Satori mengatakan, di era digital ini pemanfaatan berbagai aplikasi untuk mengumpulkan sampah daur ulang memang penting dan harus dimanfaatkan. Salah satu persoalan yang selama ini terjadi di bank sampah adalah menghubungkan masyarakat dengan para pemulung atau pengumpul sampah.

Dengan kerja sama ini, Satori berharap ada poin strategis yang bisa dimafaatkan bersama. Apalagi sekarang di Jabar sudah ada 1.800 bank sampah yang tersebar di seluruh daerah.

"Sudah ada 4 juta pemulung di Jabar dar sekitar 4.000 ada di Bandung, ini jadi sumber daya yang bisa dimaksimalkan ketika memanfaatkan akses digital," ujar Satori.

Khusus untuk daur ulang keresek, Satori menyebut ada sebuah pabrik yang baru dibangun dan bisa menampung 100 ton per hari. Harapannya pabrik ini, bank sampah Jabar, dan Octopus bisa bekerjsama memanfaatkannya.

Berita Terkini Lainnya