Comscore Tracker

Deretan Restoran Sate Maranggi Purwakarta dan Sejarahnya yang Unik

Kapan lagi makan sate maranggi dengan sensasi berbeda

Purwakarta, IDN Times - Sate maranggi menjadi kuliner khas di beberapa daerah seperti di Kabupaten Purwakarta dan Cianjur, Jawa Barat. Setiap daerah memiliki ciri khas rasa dan tampilan sate yang berbeda, meskipun tidak terlalu kentara.

Secara umum, sate maranggi memiliki tampilan yang sederhana: daging bakar yang dibalut bumbu kecap. Namun, proses pembuatannya dan rasanya ternyata tidak sesederhana itu.

Sebenarnya, tidak ada yang tahu pasti daerah asal kemunculan sate maranggi. Di Purwakarta saja, masyarakat mengenal beberapa wilayah yang disebut-sebut sebagai tempat kelahiran sate maranggi seperti dari sekitar wilayah Kecamatan Wanayasa dan Plered.

1. Sejarah sate maranggi Purwakarta: dari nama pedagang hingga perpaduan rasa

Deretan Restoran Sate Maranggi Purwakarta dan Sejarahnya yang UnikAbdul Halim/IDN Times

Menurut penelusuran ke sejumlah destinasi kuliner sate maranggi di Purwakarta, diketahui setidaknya dua versi sejarah yang berbeda. Cerita itu disampaikan secara turun temurun di antara warga lokal.

"Nama sate maranggi yang kita tahu sekarang konon katanya berasal dari nama Mak Ranggi itu," kata Endang (62 tahun), salah seorang pedagang sate maranggi di Kampung Maranggi Plered, Jumat (13/8/2021). Namun, maranggi yang ada saat itu diketahui tidak ditusuk dan dimasak dengan cara diasap.

Namun kisah itu tak berlaku bagi warga Kecamatan Wanayasa dan Kiarapedes, Purwakarta. Sejak dahulu, penduduk lokal di sana disebut-sebut telah memasak sate dengan cara ditusuk seperti yang ada sekarang, namun awalnya dinamakan panggang.

"Ciri khasnya dari dulu itu dagingnya (yang telah ditusuk) direndam di bumbu rempah-rempah sebelum dibakar," kata Eneng, seorang pedagang sate maranggi di Kecamatan Kiarapedes.

Meskipun belum bisa dibuktikan, tidak menutup kemungkinan, sate maranggi khas Purwakarta yang ada saat ini merupakan perpaduan dari dua jenis masakan di dua wilayah tersebut.

2. Menyantap maranggi dan durian kuning mas di Sate Pareang Kiarapedes

Deretan Restoran Sate Maranggi Purwakarta dan Sejarahnya yang UnikAbdul Halim/IDN Times

Sate maranggi yang ada sejak lama di Purwakarta semakin dipopulerkan oleh Dedi Mulyadi saat menjabat sebagai bupati selama dua periode (2008-2018). Promosi yang dilakukannya membuat restoran sate maranggi diserbu wisatawan dari luar daerah.

Rumah makan yang paling dikenal masyarakat luas mungkin adalah Sate Maranggi Hj. Yetti di Kecamatan Bungursari. Namun, sebenarnya ada banyak pedagang sate maranggi lain yang tak kalah lezat dan populer di Purwakarta.

Salah satunya ialah Sate Pareang di Kecamatan Kiarapedes. Untuk menjangkau rumah makan tradisional tersebut memang tidak mudah karena berada di tengah hutan dan perkebunan yang cukup jauh dari Jalan Kapten Halim.

Soal rasa tidak perlu diragukan lantaran Sate Pareang sempat menjadi juara pertama Festival Sate Maranggi Purwakarta pada 2020. Selain itu, keunikan tempat itu ialah durian lokal dari pohon yang ada di halaman rumah warga sekitar.

"Kalau mau durian sebaiknya datang waktu musim panennya. Itu sekitar bulan Oktober," kata sang pemilik rumah makan Sate Pareang, Endang. Salah satu varian durian yang menjadi serbuan pembeli di sana ialah durian kuning mas yang diklaim rendah kolesterol.

3. Kampung Maranggi Plered menyajikan sensasi makan sate sambil melihat proses pembakarannya

Deretan Restoran Sate Maranggi Purwakarta dan Sejarahnya yang UnikAbdul Halim/IDN Times

Sensasi menyantap sate maranggi sambil melihat proses pembuatannya juga menarik untuk dicoba saat berkunjung Kabupaten Purwakarta, tepatnya di Kampung Maranggi, Kecamatan Plered. Letak dari area ini berada di sebelah Stasiun Kereta Api Plered.

Di kawasan tersebut terdapat sekitar 50 pedagang sate maranggi. Setiap pedagang dikelilingi meja dan bangku untuk pembeli sehingga proses pembakaran sate yang dipesannya bisa dilihat secara langsung.

Hempasan asap pembakaran daging sambil makan justru menimbulkan sensasi tersendiri. Pengalaman itu tidak akan dirasakan di restoran-restoran sate maranggi yang besar di Purwakarta.

Menurut Betty, salah seorang pedagang sate di Kampung Maranggi, harga setiap tusuk sate di sana rata-rata Rp1.500 hingga Rp2.000. "Dulunya para pedagang sate di sini berjualan di pinggir jalan, tapi direlokasi sama pak Dedi Mulyadi ke sini," ujarnya.

4. Sate maranggi khas Purwakarta dijual dalam kemasan dan bisa dipesan di e-commerce

Deretan Restoran Sate Maranggi Purwakarta dan Sejarahnya yang UnikIstimewa

Membuat sate maranggi khas Purwakarta menjadi semakin mudah dengan bumbu racikan maranggi dalam kemasan. Produk bernama Samarina itu dibuat oleh Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Purwakarta.

Produk tersebut merupakan inovasi seorang ibu tunggal bernama Raden Roro Ati Rinawati (48). Setelah menggeluti bisnis rumah makan sate maranggi sejak 2013, ia akhirnya membuat produk sate maranggi yang dapat diawetkan yang telah dikirim ke luar daerah.

Setelah sukses membuat produk sate maranggi yang dapat dijadikan oleh-oleh dari Purwakarta, Rinawati membuat inovasi lainnya. Ia memproduksi bumbu racikan maranggi dalam kemasan yang dinamakan Samarina.

"Pada 2015 tidak sengaja dikenalkan ke pak Dedi Mulyadi dan Bondan Winarno saat ada acara. Dari sana booming lah," kata Rinawati. Produk sate vakum dan bumbu maranggi buatannya bisa dipesan di aplikasi jual-beli elektronik (e-commerce).

Baca Juga: Sensasi Makan Sate Maranggi Murah Meriah di Plered Purwakarta

Baca Juga: Resep Sate Maranggi yang Gurih, Bikin Lidah Bergoyang

Baca Juga: Suka yang Mana? Sate Madura, Ponorogo, Lilit, atau Maranggi

Topic:

  • Galih Persiana

Berita Terkini Lainnya