Comscore Tracker

Kok Bisa? Menteri Nadiem Sebut PJJ Selama Pandemik Merusak Anak

Ada 3 efek negatif yang menghantui anak nih selama pandemik

Jakarta, IDN Times - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mengizinkan sekolah yang berada di zona hijau dan kuning di Tanah Air selama pandemik COVID-19 untuk melakukan kegiatan belajar tatap muka. Meskipun, pembelajaran tatap muka ini diserahkan kembali kepada kebijakan pemerintah daerah dan satuan tugas (Satgas) COVID-19 di masing-masing wilayah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim mengakui Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) memiliki dampak negatif dan permanen terhadap anak. Ada tiga dampak besar yang mengancam jam anak dan masa depannya dengan pemberlakuan PJJ.

Mulai dari ancaman putus sekolah, penurunan capaian belajar, dan juga peningkatan kekerasan terhadap anak serta risiko psikososial.

"Efek daripada melakukan pembelajaran jarak jauh secara berkepanjangan itu bagi siswa adalah efek yang bisa sangat negatif dan permanen," kata Mendikbud dalam Pengumuman Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19 yang disiarkan di kanal YouTube KEMENDIKBUD RI, Jumat (7/8/2020).

1. Dampak putus sekolah mengintai anak

Kok Bisa? Menteri Nadiem Sebut PJJ Selama Pandemik Merusak AnakPriyo Handoko mengajak anaknya yang masih duduk kelas dua sekolah dasar saat beraktivitas mengatur lalu lintas, agar selalu dapat membimbingnya selama melakukan kegiatan belajar di rumah (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

Dampak negatif pertama yang mengintai anak menurut Mendikbud adalah ancaman putus sekolah. Salah satu wujud yang mungkin terjadi adalah anak terpaksa bekerja lantaran tak bisa pula mengikuti pembelajaran jarak jauh yang berlangsung dari sehingga akhirnya putus sekolah.

"Persepsi orang tua juga berubah mengenai peran sekolah dalam proses pembelajaran yang tidak optimal," kata Nadiem.

Ancaman putus sekolah ini sesuatu yang real dan berdampak seumur hidup," sambung dia.

Baca Juga: Nadiem Izinkan Belajar Tatap Muka di Zona Kuning, Siap-siap Sekolah! 

2. Ancaman penurunan capaian belajar dan kesenjangan

Kok Bisa? Menteri Nadiem Sebut PJJ Selama Pandemik Merusak AnakSejumlah siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Karya Utama memanfaatkan akses internet gratis di Taman I Love Karawang, Nagasari, Karawang, Jawa Barat, Kamis (6/8/2020) (ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar)

Nadiem menegaskan PJJ tidak optimal dari sisi pencapaian belajar. Hal ini menjadi ancaman dampak negatif kedua bagi seluruh siswa.

"Kesenjangan kualitas antara yang punya akses teknologi dengan yang tidak itu menjadi semakin besar," ucap Mas Menteri, begitu Nadiem akrab disapa.

"Kita berisiko mempunyai generasi yang learning looss. Lost generation, di mana akan ada dampak permanen terhadap generasi kita terutama bagi yang jenjang-jenjang lebih muda," sambung dia.

3. Anak terancam mengalami kekerasan dan ada risiko psikososial

Kok Bisa? Menteri Nadiem Sebut PJJ Selama Pandemik Merusak AnakMenteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarin (IDN Times/Margith Juita Damanik)

Penerapan PJJ berkepanjangan menurut Nadiem juga akan memberikan dampak peningkatan kekerasan terhadap anak. Selain itu anak juga menurut dia punya risiko psikososial.

"Dengan stres dalam rumah, tidak bisa keluar, tidak bertemu temannya dan lain-lain jadi dampak psikologis," kata Nadiem.

"Dampak masa depan anak-anak kita untuk melakukan PJJ secara berkepanjangan ini real," sambung dia.

Baca Juga: Menteri Nadiem: Kurikulum Darurat Berlaku Sampai Akhir Tahun Ajaran

Topic:

  • Yogi Pasha

Berita Terkini Lainnya