Comscore Tracker

Pakar Epidemiolo UI: Indonesia Belum Masuk Puncak Gelombang I COVID-19

Kenaikan kasus usai Lebaran disebabkan aktivitas mudik

Jakarta, IDN Times - Kasus penyebaran virus corona di Indonesia terus terjadi. Bahkan, jumlah kasus pasien positif COVID-19 di Tanah Air semakin bertambah tiap harinya.

Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono menyebutkan, harus ada antisipasi yang dilakukan ketika melakukan pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan mengadopsi kebiasaan normal baru. Ia menyarankan setidaknya pemerintah dan warga bisa melakukan dua cara. 

Pertama, warga harus bisa mematuhi protokol kesehatan dan kedua, contact tracing serta testing yang masif. Pandu mengatakan, kenaikan kasus positif COVID-19 paska Lebaran merupakan dampak dari warga yang tetap pulang kampung saat Idulfitri kemarin.

Ia menilai, dampak pelonggaran PSBB belum terlihat. Sebab, virus Sars-CoV-2 tetap membutuhkan waktu untuk menginfeksi manusia. 

"Tapi kita tanyakan, itu (peningkatan kasus) hasil aktif atau pasif?" tanya Pandu dalam Ngobrol Seru 100 Hari Pandemik Global yang ditayangkan secara daring di akun YouTube IDN Times pada Sabtu (20/6).

"Kalau aktif (karena dilakukan tes) itu bagus, bukan buruk," katanya lagi. 

Lalu, apakah kenaikan drastis kasus positif COVID-19 menandakan Indonesia akan memasuki gelombang kedua?

1. Pemerintah harus memastikan penduduk taati protokol kesehatan selama pandemik COVID-19

Pakar Epidemiolo UI: Indonesia Belum Masuk Puncak Gelombang I COVID-19Ilustrasi posyandu. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

Salah satu langkah untuk mengantisipasi munculnya kenaikan kasus COVID-19 secara drastis kata Pandu bisa dipraktikan dengan cara sederhana oleh masyarakat. 

"Pastikan penduduk atau banyak orang atau publik melakukan perilaku yang mengurangi risiko penularan," ungkap Pandu. 

Artinya publik diharapkan mematuhi protokol kesehatan. Mulai dari menggunakan masker menjaga jarak, rajin cuci tangan atau menggunakan hand sanitizer secara berkala.

Baca Juga: Jokowi Larang Mudik, Tapi Kemenhub Bakal Izinkan Mudik dengan Syarat

2. Testing dan contact tracing harus lebih agresif

Pakar Epidemiolo UI: Indonesia Belum Masuk Puncak Gelombang I COVID-19Suasana Rapid Test IDN Times oleh ANTARA (IDN Times/Panji Galih)

Cara kedua yang dapat dilakukan sebagai bentuk antisipasi di masa pelonggaran PSBB menurut Pandu bisa dilakukan oleh pemerintah daerah. "Pemerintah daerah harus memperkuat surveillance," kata Pandu dalam paparannya.

Ia menggaris bawahi ketika pelonggaran PSBB nya dilakukan maka pemerintah harus lebih masif lagi melakukan contact tracing. Setelah itu, pemda harus mengisolasi orang-orang yang sudah dinyatakan positif COVID-19. 

Bila kebijakan itu dipraktikan secara konsisten oleh masyarakat dan pemerintah, maka diprediksi Indonesia bisa melewati pandemik. 

3. Indonesia belum memasuki masa puncak gelombang pertama pandemik COVID-19

Pakar Epidemiolo UI: Indonesia Belum Masuk Puncak Gelombang I COVID-19Infografis new normal (IDN Times/Arief Rahmat)

Di dalam program itu, Pandu juga menegaskan saat ini Indonesia belum memasuki puncak gelombang pertama pandemik COVID-19. Sebab, bila melihat kurva yang ada, kasusnya masih mengalami naik-turun. 

Sementara, mengenai gelombang kedua pandemik, bisa dicegah oleh pemerintah. Caranya, masyarakat dan pemerintah sama-sama bekerja untuk mempraktikan perilaku hidup sehat serta melakukan contact tracing

"Dengan dua cara itu kita bisa mencegah terjadinya eskalasi peningkatan kasus yang besar atau yang kemungkinan menjadi the second wave, kalau ada the second wave," kata Pandu.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap catatan kasus COVID-19 selama ini sebagai statistik belaka. Sebab, apa yang disampaikan oleh pemerintah menandakan pandemik ini memang benar adanya. 

https://www.youtube.com/embed/CLcqcOR1I6Q

Baca Juga: 49 Pedagang Pasar Induk Kramat Jati Positif COVID-19, Pasar Ditutup?

Topic:

  • Yogi Pasha

Berita Terkini Lainnya