Comscore Tracker

Ini Alasan di Balik Rumitnya Prosedur Tes Virus Corona

Kegiatan peliputan virus corona mejadi momok tersendiri

Jakarta, IDN Times - Beberapa waktu lalu salah seorang pewarta kantor berita ANTARA dibikin kaget bukan kepalang. Bagaimana tidak, dia yang belum lama bertemu Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (BKS) dengan jarak dekat, mendapat kabar bahwa sang menteri positif terinfeksi virus corona (COVID-19).

Muhammad Adimaja, nama sang pewarta, mengatakan bahwa dia bertemu dengan BKS saat berada di Bandara Kertajati, Kabupaten Majalengka, untuk menjemput WNI ABK Diamond Princess pada 2 Maret 2020.

"Di Kertajati itu kan abis motret tiba-tiba ada Pak Budi Karya, berusaha samperin tiba-tiba dia batuk," kata Adi saat dihubungi oleh IDN Times, Senin (16/3).

Karena itu, dia bergegas menjalani serangkaian tes di rumah sakit rujukan di Jakarta untuk memastikan kondisinya.

1. Ditolak di RSPAD Gatot Soebroto

Ini Alasan di Balik Rumitnya Prosedur Tes Virus CoronaIDN Times/Gregorius Aryodamar P

Pada Minggu (15/3), Adi dan rekannya segera bergegas ke RSPAD Gatot Soebroto. Belum sampai di ruang IGD, dia langsung dicegah oleh salah seorang satpam. Menanggapi hal itu, dia lantas bercerita ingin melakukan tes corona dan menceritakan kronologi bahwa dia memiliki kontak dengan BKS.

"Sudah cerita kronologis ke satpam, dia koordinasi ke dokter, dokter bilang gak perlu, dia (dokter) gak ngomong ke saya tapi ke satpamnya," kata Adi.

Menanggapi penolakan dari satpam, Adi sempat kecewa karena bukan dokter sendiri yang menyampaikan alasan tidak adanya pemeriksaan pada akhir pekan, padahal sejumlah menteri juga melakukan tes.

Setelah itu ia langsung memutuskan untuk beralih ke RSPI Sulianti Saroso, Jakarta Utara, saat itu sedang ramai wartawan istana yang juga melakukan tes setelah BKS dinyatakan positif virus corona. Setibanya di sana, Adi mengisi formulir berisi pertanyaan yang mengarah apakah dia merasakan gejala virus corona dan lain-lainnya.

"Gue ceritain semua, gue cek panas, yang tadinya biasa 36 tiba-tiba naik jadi 37,3," ujar dia.

Baca Juga: [BREAKING] Pemerintah Sediakan 10.000 Alat Pemeriksaan Virus Corona

2. Diberi status ODP dan harus mengisolasi diri 14 hari

Ini Alasan di Balik Rumitnya Prosedur Tes Virus CoronaIlustrasi (IDN Times/Aji)

Adi bukanlah bagian dari wartawan istana yang sengaja melakukan tes setelah mendapat arahan dari pihak istana, dia melakukan pemeriksaan atas inisiatif sendiri karena mengingat pernah kontak dengan BKS di Bandara Kertajati. 

Akhirnya, ia mendapatkan status bahwa dirinya adalah orang dalam pemantauan (ODP) dan disarankan untuk mengisolasi diri selama 14 hari. Status ODP inilah yang membuat Adi agak bingung karena dia hanya disarankan menjaga jarak dan khawatir dengan lingkungan di sekitarnya. Hingga Senin sore dia belum mendapati petugas kesehatan yang mendatangi atau menghubunginya.

"Ini saya masih mengisolasi diri, saya sudah dari minggu lalu belum ada apa-apa," ujarnya.

3. Status ODP yang tidak jelas penanganannya

Ini Alasan di Balik Rumitnya Prosedur Tes Virus CoronaIDN Times/Aji

Adi cukup menyayangkan karena status ODP ini tidak jelas penanganannya, jadi dia menyarankan agar pemerintah baiknya memberikan fasilitas tempat bagi mereka yang dinyatakan ODP agar tidak membuat keluarga, tetangga, bahkan kerabat menjadi punya risiko lebih besar terkena atau tertular virus corona.

Hal ini berkaitan dengan mereka yang dinyatakan ODP memiliki tingkat imunitas yang rendah serta adanya tracing status berinteraksi dengan pasien atau lingkungan yang terjangkit virus corona, seperti wartawan yang melakukan peliputan di rumah sakit atau kegiatan dengan isu virus corona.

"Jadi yang disayangkan, statusku saat ini baik-baik saja, dua tiga hari ini tidak mengalami peningkatan status cuma yang jadi masalah bahwa saya sangat khawatir," kata dia.

4. Swab hanya dari rekomendasi dokter

Ini Alasan di Balik Rumitnya Prosedur Tes Virus CoronaDok. PLN UID Jateng dan DIY

Dia memang belum bisa melakukan prosedur tes corona dan hal ini telah dijelaskan oleh juru bicara penanganan virus corona atau COVID-19 Achmad Yurianto, yang mengatakan bahwa masyarakat tidak bisa melakukan tes virus corona jika tidak ada permintaan dokter.

"Pemeriksaan swab harus ada indikasi dan harus atas permintaan dokter. Tidak bisa masing-masing diperiksa sendiri," ujar Yuri di Graha BNPB, Jakarta Timur, Selasa (17/3).

Namun, lagi-lagi hal inilah yang membuat Adi agak sedikit terenyuh karena kesempatan yang berbeda dirasakan oleh para pejabat.

"Tenyata semua pejabat cepat sekali diperiksa hasilnya negatif corona, so what's the different?," kata dia.

Baca Juga: Pemeriksaan Spesimen Virus Corona Sekarang Bisa di 12 Laboratorium 

Topic:

  • Galih Persiana

Berita Terkini Lainnya