Bandung, IDN Times — Indonesia sejatinya berada di posisi sangat strategis dalam peta industri nikel global. Dengan penguasaan 42 persen cadangan nikel dunia dan kontribusi lebih dari 60 persen pasokan global, Indonesia memiliki daya tawar kuat untuk mengendalikan harga. Namun, laporan terbaru justru menyebut Indonesia masih terjebak sebagai price taker, bukan price maker.
Laporan Transisi Bersih berjudul Strategi Mengontrol Nikel: dari Price Taker ke Price Maker mengungkapkan, derasnya investasi dan ekspansi produksi nikel yang tak terkendali justru menekan harga dunia, memangkas nilai ekspor, dan memicu kerusakan lingkungan di kawasan tambang.
