Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG_20250715_112537.jpg
Merek beras Wilmar yang dijual di Pasar DargoSemarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Intinya sih...

  • Kenaikan harga beras dipicu oleh beras premium

  • Beras medium mengalami kenaikan yang lebih terkendali

  • Rebound harga di akhir tahun menandakan tantangan pasokan di awal 2026

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Cirebon, IDN Times - Kawasan Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning) mengalami kenaikan harga beras di tingkat penggilingan pada awal Januari 2026. Kenaikan ini terjadi baik secara bulanan maupun tahunan, dengan tekanan paling kuat berasal dari beras premium.

Berdasarkan Survei Harga Beras di Penggilingan (SHPBG), rata-rata harga total beras di Ciayumajakuning pada akhir Desember 2025 tercatat sebesar Rp13.199 per kilogram. Angka ini naik 0,87 persen dibandingkan November 2025, serta meningkat 1,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, Darwis Sitorus, menyatakan kenaikan harga beras di penghujung tahun masih berada dalam batas moderat, namun tetap perlu dicermati karena beras merupakan komoditas strategis dengan kontribusi besar terhadap inflasi pangan.

1. Premium jadi penekan utama harga

Agus, Pemilik Toko Beras 20 Dargo menunggu para pelanggannya. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Kenaikan harga paling tinggi terjadi pada beras premium. Pada Desember 2025, harga beras premium di tingkat penggilingan Ciayumajakuning mencapai Rp13.467 per kilogram. Secara bulanan, harga ini naik 1,38 persen, sementara secara tahunan melonjak 2,56 persen.

Menurut Darwis, beras premium lebih sensitif terhadap perubahan kualitas gabah dan preferensi pasar. “Permintaan beras premium relatif stabil bahkan cenderung meningkat, sementara pasokan sangat tergantung pada kualitas hasil panen. Ketika kualitas gabah menurun atau stok terbatas, harga premium lebih cepat naik,” ujarnya, Minggu (11/1/2026).

Sepanjang 2025, pergerakan harga beras premium menunjukkan tren fluktuatif dengan puncak kenaikan terjadi pada kuartal III. Kondisi ini mengindikasikan bahwa segmen premium menjadi indikator awal tekanan harga beras secara keseluruhan.

2. Beras medium masih relatif tertahan

Pedagang beras di Pasar Al Mahirah, Kota Banda Aceh, Aceh. (IDN Times/Mhd Saifullah)

Berbeda dengan premium, harga beras medium di Ciayumajakuning bergerak lebih landai. Pada Januari 2026, harga beras medium tercatat Rp12.937 per kilogram. Secara month-to-month, kenaikannya hanya 0,39 persen, sementara secara year-on-year naik 2,15 persen.

Darwis menjelaskan, beras medium cenderung lebih terkendali karena menjadi sasaran utama kebijakan stabilisasi pangan. “Beras medium adalah konsumsi mayoritas rumah tangga. Karena itu, baik distribusi maupun pasokannya lebih dijaga agar tidak bergejolak,” kata dia.

Meski demikian, kenaikan tahunan yang masih di atas dua persen menunjukkan adanya tekanan biaya produksi dan distribusi yang belum sepenuhnya mereda, terutama di tengah perubahan iklim dan biaya input pertanian.

3. Sinyal akhir tahun dan tantangan 2026

Ilustrasi beras putih (pexels.com/Suki Lee)

Secara keseluruhan, data Desember 2025 menunjukkan adanya rebound harga setelah sempat melemah pada November. Pola ini mengindikasikan efek musiman akhir tahun, ketika permintaan kembali menguat seiring meningkatnya aktivitas rumah tangga dan distribusi pangan.

Darwis menilai, tantangan ke depan terletak pada menjaga keseimbangan pasokan di awal 2026.

“Jika panen awal tahun berjalan baik, tekanan harga bisa diredam. Namun bila terjadi gangguan produksi atau distribusi, potensi kenaikan harga masih terbuka,” ujarnya.

Ia menegaskan pentingnya koordinasi antardaerah di Ciayumajakuning sebagai wilayah penyangga pangan Jawa Barat. Stabilitas harga beras di kawasan ini akan sangat menentukan pergerakan inflasi pangan regional pada 2026.

Editorial Team