Di usia yang makin bertambah, banyak anak muda mulai menyadari bahwa berteman bukan lagi soal seberapa ramai lingkaran sosial yang dimiliki. Kuantitas perlahan kalah penting dibanding kualitas hubungan yang dijalani sehari-hari.
Perubahan ini terasa cukup kontras jika dibandingkan dengan masa sekolah atau awal kuliah, ketika punya banyak teman dianggap sebagai pencapaian sosial. Kini, sebagian anak muda justru merasa lelah jika harus terus menjaga relasi yang tidak memberi dampak positif.
Media sosial turut mempercepat kesadaran ini. Interaksi yang serbacepat, opini yang saling berbenturan, hingga drama kecil yang melelahkan membuat banyak orang mulai menyaring siapa saja yang layak diberi ruang lebih dekat.
Selektif dalam berteman pun bukan lagi dianggap sombong atau antisosial, melainkan bentuk kedewasaan emosional. Anak muda mulai belajar bahwa energi, waktu, dan kesehatan mental punya batas.
