Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi pengelolaan keuangan (pexels.com/Ahsanjaya)
ilustrasi pengelolaan keuangan (pexels.com/Ahsanjaya)

Intinya sih...

  • Healing tetap penting, tapi perlu batas yang jelasHealing kini tak lagi dipandang sebagai kemewahan, melainkan kebutuhan. Namun, masalah muncul ketika healing dijadikan pembenaran untuk pengeluaran impulsif. Di 2026, healing idealnya ditempatkan sebagai pos terencana.

  • Menabung bukan soal besar kecilnya nominalMenabung di 2026 perlu dimaknai sebagai bentuk perlindungan diri. Dengan konsistensi, nominal kecil yang disimpan rutin bisa memberi rasa aman dan mengurangi kecemasan finansial.

  • Investasi sebagai langkah jangka panjang yang sadar risikoMinat terhadap investasi terus meningkat, terutama di kalangan anak muda. Di

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Awal 2026 menjadi momen refleksi bagi banyak orang, terutama milenial dan Gen Z, soal cara mengelola keuangan dengan lebih realistis. Setelah melewati berbagai tekanan ekonomi dan sosial di tahun-tahun sebelumnya, uang tak lagi sekadar alat bertahan hidup, tapi juga sarana menjaga kewarasan.

Di satu sisi, kebutuhan akan healing makin terasa penting. Di sisi lain, kesadaran untuk menabung dan berinvestasi juga terus digaungkan. Masalahnya, tak sedikit yang merasa ketiganya sulit berjalan bersamaan.

Banyak anak muda akhirnya terjebak pada dua ekstrem: terlalu menikmati hidup hingga lupa masa depan, atau terlalu ketat mengatur uang sampai kehilangan ruang untuk menikmati hasil kerja keras. Padahal, pengelolaan keuangan yang sehat justru berada di tengah-tengah.

Tahun 2026 bisa menjadi titik balik untuk membangun pola keuangan yang lebih seimbang. Bukan soal menekan diri, tapi soal membuat uang bekerja sesuai prioritas hidup.

1. Healing tetap penting, tapi perlu batas yang jelas

ilustrasi evaluasi keuangan (unsplash.com/GlennCarstens-Peters)

Healing kini tak lagi dipandang sebagai kemewahan, melainkan kebutuhan. Liburan singkat, nongkrong bersama teman, atau sekadar memanjakan diri sering dianggap sebagai cara menjaga kesehatan mental di tengah rutinitas yang padat.

Namun, masalah muncul ketika healing dijadikan pembenaran untuk pengeluaran impulsif. Tanpa disadari, kebiasaan “self-reward” yang terlalu sering justru menggerus kondisi finansial secara perlahan.

Di 2026, healing idealnya ditempatkan sebagai pos terencana. Menentukan anggaran khusus untuk hiburan atau liburan membantu menjaga keseimbangan, tanpa harus mengorbankan tujuan keuangan lain.

2. Menabung bukan soal besar kecilnya nominal

ilustrasi indikator keuangan sehat (freepik.com/rawpixel)

Banyak orang menunda menabung karena merasa penghasilannya belum cukup. Padahal, kebiasaan menabung lebih penting daripada jumlah yang disisihkan di awal.

Menabung di 2026 perlu dimaknai sebagai bentuk perlindungan diri. Dana darurat, tabungan jangka pendek, hingga tabungan tujuan khusus menjadi fondasi penting sebelum melangkah lebih jauh.

Dengan konsistensi, nominal kecil yang disimpan rutin bisa memberi rasa aman dan mengurangi kecemasan finansial. Dari sini, kontrol terhadap uang pun terasa lebih nyata.

3. Investasi sebagai langkah jangka panjang yang sadar risiko

Ilustrasi grafik keuangan (unsplash.com/Kanchanara)

Minat terhadap investasi terus meningkat, terutama di kalangan anak muda. Namun, investasi bukan soal ikut tren, melainkan soal kesiapan mental dan pemahaman risiko.

Di 2026, pendekatan investasi yang lebih rasional semakin dibutuhkan. Memulai dari instrumen yang dipahami, menyesuaikan dengan profil risiko, serta tidak mengorbankan kebutuhan harian adalah kunci agar investasi tetap sehat.

Pada akhirnya, mengelola keuangan bukan soal memilih antara healing, nabung, atau investasi, melainkan menyusun prioritas yang paling masuk akal untuk hidupmu.

Kamu sendiri, di 2026 ini lebih condong ke mana—menikmati hidup, mengamankan masa depan, atau mencoba menyeimbangkan keduanya?

Editorial Team