Media sosial sempat menjadi ruang utama bagi generasi digital untuk mengekspresikan diri, membangun relasi, hingga mencari validasi. Scroll tanpa henti, update setiap momentum, dan keinginan untuk selalu terlihat aktif pernah terasa seperti keharusan.
Namun memasuki 2026, pola itu mulai bergeser. Banyak anak muda justru mengurangi waktu layar dan lebih selektif dalam menggunakan media sosial, tanpa merasa tertinggal dari apa pun.
Fenomena ini bukan berarti generasi digital anti-teknologi. Sebaliknya, mereka mulai lebih sadar bahwa kehadiran digital tidak harus mengorbankan kesehatan mental dan kualitas hidup sehari-hari.
Media sosial pun perlahan bergeser fungsi: dari pusat kehidupan menjadi sekadar alat. Anak muda kini lebih berani menentukan kapan perlu online dan kapan memilih untuk benar-benar hadir di dunia nyata.
