Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi unfollow sosmed (unsplash.com/ dlxmedia.hu)
ilustrasi unfollow sosmed (unsplash.com/ dlxmedia.hu)

Intinya sih...

  • Kelelahan digital membuat media sosial terasa melelahkanPaparan konten yang berlebihan, perbandingan hidup tanpa henti, hingga tuntutan untuk selalu responsif membuat banyak anak muda mengalami kelelahan digital. Media sosial yang awalnya menghibur justru berubah menjadi sumber tekanan.

  • Prioritas hidup mulai bergeser ke pengalaman nyataGenerasi digital kini semakin menghargai pengalaman langsung, seperti quality time dengan orang terdekat, mengejar hobi, atau sekadar menikmati waktu tanpa gangguan notifikasi. Hal-hal ini dianggap lebih bermakna dibanding sekadar unggahan.

  • Media sosial tetap penting, tapi bukan pusat identitas diriBagi

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Media sosial sempat menjadi ruang utama bagi generasi digital untuk mengekspresikan diri, membangun relasi, hingga mencari validasi. Scroll tanpa henti, update setiap momentum, dan keinginan untuk selalu terlihat aktif pernah terasa seperti keharusan.

Namun memasuki 2026, pola itu mulai bergeser. Banyak anak muda justru mengurangi waktu layar dan lebih selektif dalam menggunakan media sosial, tanpa merasa tertinggal dari apa pun.

Fenomena ini bukan berarti generasi digital anti-teknologi. Sebaliknya, mereka mulai lebih sadar bahwa kehadiran digital tidak harus mengorbankan kesehatan mental dan kualitas hidup sehari-hari.

Media sosial pun perlahan bergeser fungsi: dari pusat kehidupan menjadi sekadar alat. Anak muda kini lebih berani menentukan kapan perlu online dan kapan memilih untuk benar-benar hadir di dunia nyata.

1. Kelelahan digital membuat media sosial terasa melelahkan

ilustrasi sedih membuka sosmed (pexels.com/Alex Green)

Paparan konten yang berlebihan, perbandingan hidup tanpa henti, hingga tuntutan untuk selalu responsif membuat banyak anak muda mengalami kelelahan digital. Media sosial yang awalnya menghibur justru berubah menjadi sumber tekanan.

Tak sedikit yang akhirnya memilih rehat, menghapus aplikasi tertentu, atau membatasi waktu penggunaan. Langkah ini diambil bukan karena ikut tren, melainkan sebagai bentuk menjaga kewarasan di tengah arus informasi yang tak pernah berhenti.

 

2. Prioritas hidup mulai bergeser ke pengalaman nyata

ilustrasi wanita yang mengecek mitos tentang pacaran di sosmed (Pexels.com/Mikhail Nilov)

Generasi digital kini semakin menghargai pengalaman langsung, seperti quality time dengan orang terdekat, mengejar hobi, atau sekadar menikmati waktu tanpa gangguan notifikasi. Hal-hal ini dianggap lebih bermakna dibanding sekadar unggahan.

Alih-alih membagikan setiap momentum, banyak anak muda memilih menyimpannya sebagai pengalaman personal. Kehidupan yang dijalani terasa lebih utuh saat tidak selalu diukur dari jumlah likes atau views.

3. Media sosial tetap penting, tapi bukan pusat identitas diri

ilustrasi mengunggah foto profesional di sosmed (Pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Bagi generasi digital, media sosial masih relevan untuk kerja, jejaring, dan aktualisasi diri. Namun, identitas pribadi tak lagi sepenuhnya dibangun dari citra online yang ditampilkan.

Anak muda mulai memisahkan siapa diri mereka di dunia nyata dan di dunia digital. Validasi eksternal tidak lagi menjadi tolok ukur utama rasa percaya diri dan kebahagiaan.

Perubahan ini menunjukkan kedewasaan dalam memaknai teknologi. Media sosial tidak ditinggalkan, tetapi ditempatkan pada porsi yang lebih sehat dan realistis.

Menurut kamu, apakah media sosial masih punya peran besar dalam hidupmu saat ini, atau justru mulai terasa biasa saja?

Editorial Team