Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi pria yang sukses (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi pria yang sukses (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Intinya sih...

  • Tekanan sosial membuat sukses terasa seperti perlombaan

  • Realitas hidup tak selalu sejalan dengan ekspektasi ideal

  • Definisi sukses mulai bergeser ke arah yang lebih personal

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Standar sukses selama ini kerap digambarkan seragam: karier mapan di usia muda, penghasilan tinggi, aset bertambah, dan hidup terlihat “jadi”. Gambaran ini terus berulang di media sosial, obrolan keluarga, hingga lingkungan kerja.

Bagi banyak anak muda, mungkin termasuk kita, standar tersebut awalnya memicu semangat. Namun seiring waktu, tuntutan untuk selalu mencapai lebih cepat justru berubah menjadi beban mental yang melelahkan.

Memasuki 2026, semakin banyak generasi muda yang mulai mempertanyakan: apakah standar sukses itu benar-benar milik mereka, atau sekadar warisan ekspektasi sosial?

Rasa lelah ini bukan tanda menyerah. Justru, ini menjadi momentum refleksi ketika anak muda mulai menyusun ulang definisi sukses yang lebih manusiawi dan relevan dengan kondisi hidup mereka.

 

1. Tekanan sosial membuat sukses terasa seperti perlombaan

ilustrasi meraih sukses (unsplash.com/Brice Cooper)

Lingkungan sekitar sering kali tanpa sadar membandingkan pencapaian satu orang dengan yang lain. Siapa yang lebih cepat naik jabatan, menikah, atau punya aset, kerap dijadikan tolok ukur keberhasilan.

Perbandingan ini membuat sukses terasa seperti lomba tanpa garis finis. Banyak anak muda akhirnya merasa tertinggal, meski sebenarnya sedang berjalan di jalur hidupnya sendiri.

2. Realitas hidup tak selalu sejalan dengan ekspektasi ideal

ilustrasi pengusaha sukses (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Kenaikan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, hingga dinamika dunia kerja membuat jalan menuju “sukses versi lama” tidak semudah yang dibayangkan. Usaha keras tidak selalu langsung berbanding lurus dengan hasil.

Ketika realitas tak sesuai ekspektasi, rasa lelah dan frustrasi muncul. Di titik ini, anak muda mulai menyadari bahwa memaksakan standar lama justru berisiko mengorbankan kesehatan mental.

3. Definisi sukses mulai bergeser ke arah yang lebih personal

ilustrasi pengusaha sukses (pexels.com/Malte Luk)

Alih-alih mengejar simbol, banyak anak muda kini menilai sukses dari keseimbangan hidup, kebebasan waktu, dan ketenangan batin. Stabil secara emosional dan finansial secukupnya dianggap lebih realistis.

Sukses tak lagi harus selalu terlihat. Menjalani hidup dengan sadar, punya ruang untuk berkembang, dan tetap waras di tengah tekanan kini menjadi pencapaian tersendiri.

Perubahan cara pandang ini menunjukkan kedewasaan generasi muda dalam memahami diri dan kebutuhannya. Mereka tidak berhenti bermimpi, tetapi lebih selektif menentukan mimpi mana yang layak diperjuangkan.

Menurut kamu, apakah standar sukses yang selama ini dikejar masih relevan dengan hidupmu sekarang?

Editorial Team