Standar sukses selama ini kerap digambarkan seragam: karier mapan di usia muda, penghasilan tinggi, aset bertambah, dan hidup terlihat “jadi”. Gambaran ini terus berulang di media sosial, obrolan keluarga, hingga lingkungan kerja.
Bagi banyak anak muda, mungkin termasuk kita, standar tersebut awalnya memicu semangat. Namun seiring waktu, tuntutan untuk selalu mencapai lebih cepat justru berubah menjadi beban mental yang melelahkan.
Memasuki 2026, semakin banyak generasi muda yang mulai mempertanyakan: apakah standar sukses itu benar-benar milik mereka, atau sekadar warisan ekspektasi sosial?
Rasa lelah ini bukan tanda menyerah. Justru, ini menjadi momentum refleksi ketika anak muda mulai menyusun ulang definisi sukses yang lebih manusiawi dan relevan dengan kondisi hidup mereka.
