Kuningan, IDN Times - Pagi di Desa Manislor tidak pernah benar-benar riuh. Ia datang perlahan, dengan kabut tipis menggantung di sela kebun dan atap rumah, seperti nafas yang ditahan sebelum dihembuskan.
Di Manislor, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat ratusan pasang mata telah benar-benar pamit dari tubuh pemiliknya, namun bukan untuk hilang, melainkan untuk melanjutkan hidup di tubuh orang lain. Mata-mata itu tidak lagi memandang sawah, masjid, atau halaman rumah mereka sendiri. Mereka kini menjadi jendela bagi orang-orang yang sebelumnya hidup dalam gelap.
Di Manislor, kematian tidak selalu berarti akhir. Ia sering kali menjadi peralihan dari tubuh yang berhenti bernapas ke tubuh lain yang kembali melihat. Donor kornea mata, sebuah tindakan medis yang di banyak tempat masih diselimuti keraguan, namun di desa ini justru tumbuh sebagai kebiasaan sosial, diterima, dirawat, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sejak 2015 hingga awal 2026, sebanyak 123 warga Desa Manislor telah mendonorkan kornea mata mereka setelah meninggal dunia. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah nama, keluarga, duka, dan pada saat yang sama harapan. Tahun 2026 mencatat satu donor tambahan, menjadikan angka itu genap 123, sebuah bilangan yang bagi Manislor bukan sekadar capaian, melainkan penanda konsistensi.
Tak ada spanduk besar di pintu desa yang mengumumkan kebajikan ini. Tidak pula poster heroik yang memajang wajah para pendonor. Di Manislor, donor mata berjalan dalam diam, menyusup ke percakapan keluarga, menjadi bagian dari wasiat tak tertulis yang sering disampaikan orang tua kepada anak-anak mereka: jika kelak aku tak ada, biarkan mataku tetap hidup.
