Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG-20260123-WA0011.jpg
Seorang perempuan sedang berziarah di pemakaman Maqbarah Musian, Desa Manislor, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Sabtu (17/1/2026).

Intinya sih...

  • Desa Manislor, basis Jemaat Muslim Ahmadiyah, menjadi pusat donor kornea mata dengan etos kemanusiaan kokoh.

  • Lebih dari 2.100 warga Manislor tercatat sebagai calon pendonor kornea mata, dengan proses medis yang menuntut ketepatan dan kepercayaan.

  • Kornea-kornea dari Manislor tidak memilih penerima, melainkan ditujukan untuk kemanusiaan secara luas.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kuningan, IDN Times - Pagi di Desa Manislor tidak pernah benar-benar riuh. Ia datang perlahan, dengan kabut tipis menggantung di sela kebun dan atap rumah, seperti nafas yang ditahan sebelum dihembuskan.

Di Manislor, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat ratusan pasang mata telah benar-benar pamit dari tubuh pemiliknya, namun bukan untuk hilang, melainkan untuk melanjutkan hidup di tubuh orang lain. Mata-mata itu tidak lagi memandang sawah, masjid, atau halaman rumah mereka sendiri. Mereka kini menjadi jendela bagi orang-orang yang sebelumnya hidup dalam gelap.

Di Manislor, kematian tidak selalu berarti akhir. Ia sering kali menjadi peralihan dari tubuh yang berhenti bernapas ke tubuh lain yang kembali melihat. Donor kornea mata, sebuah tindakan medis yang di banyak tempat masih diselimuti keraguan, namun di desa ini justru tumbuh sebagai kebiasaan sosial, diterima, dirawat, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sejak 2015 hingga awal 2026, sebanyak 123 warga Desa Manislor telah mendonorkan kornea mata mereka setelah meninggal dunia. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah nama, keluarga, duka, dan pada saat yang sama harapan. Tahun 2026 mencatat satu donor tambahan, menjadikan angka itu genap 123, sebuah bilangan yang bagi Manislor bukan sekadar capaian, melainkan penanda konsistensi.

Tak ada spanduk besar di pintu desa yang mengumumkan kebajikan ini. Tidak pula poster heroik yang memajang wajah para pendonor. Di Manislor, donor mata berjalan dalam diam, menyusup ke percakapan keluarga, menjadi bagian dari wasiat tak tertulis yang sering disampaikan orang tua kepada anak-anak mereka: jika kelak aku tak ada, biarkan mataku tetap hidup.

1. Desa yang menyimpan wasiat

Seorang perempuan sedang berziarah di pemakaman Maqbarah Musian, Desa Manislor, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Sabtu (17/1/2026).

Manislor bukan desa biasa dalam peta sosial Jawa Barat. Ia dikenal sebagai salah satu basis Jemaat Muslim Ahmadiyah yang telah lama hidup berdampingan dengan dinamika sosial tak selalu ramah. Namun justru dari posisi sosial yang sering terpinggirkan itulah, lahir sebuah etos kemanusiaan kokoh, memberi tanpa bertanya kepada siapa.

Donor kornea mata di Manislor tidak dibangun dari kampanye sesaat. Ia tumbuh dari percakapan panjang, di ruang tamu, di beranda rumah, di sela pengajian, dan dalam suasana duka. Ketika seseorang meninggal, keluarga tidak hanya membicarakan prosesi pemakaman. Mereka juga membuka kembali satu pertanyaan yang telah lama disepakati: apakah almarhum atau almarhumah terdaftar sebagai pendonor mata?

Juru Bicara Kelompok Ahmadiyah Manislor, Agus Mulyana menyebutkan, hingga kini, lebih dari 2.100 warga Manislor tercatat sebagai calon pendonor kornea mata. Angka itu bahkan diyakini bisa lebih besar, mengingat sebagian warga mendaftar secara kolektif dalam kegiatan komunitas.

"Dari jumlah tersebut, 1.015 adalah perempuan dewasa, sekitar 900 laki-laki dewasa, dan sekitar 200 anak-anak yang telah menyatakan persetujuan melalui orang tua mereka," ujar Agus, Minggu (18/1/2026).

Menurut Agus, donor mata bukan urusan individu semata, melainkan keputusan keluarga, bahkan keputusan komunitas. Di Manislor, anak-anak pun tumbuh dengan kesadaran kalau tubuh manusia tidak sepenuhnya berhenti berguna ketika nyawa meninggalkannya.

"Anak-anak di sini mendengar cerita tentang kalau mata yang pergi untuk melihat dunia lain. Bagi mereka, kematian tidak sepenuhnya gelap. Ada cahaya yang bisa dititipkan," tutur Agus.

Yang menarik, hampir tak pernah terdengar perdebatan teologis panjang di Manislor soal donor mata. Warga lebih sering berbicara tentang manfaat. Tentang seseorang yang bisa kembali membaca, bekerja, atau melihat wajah anaknya. Logika kemanusiaan bekerja lebih cepat daripada keraguan metafisik.

2. Tiga tangan, satu ketelitian

Warga kelompok Ahmadiyah di Desa Manislor, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, mengikuti siaran televisi secara bersama. Aktivitas ini menjadi bagian dari keseharian komunitas dalam menjaga ikatan sosial dan spiritual.

Di balik angka dan niat baik, donor kornea mata adalah proses medis yang menuntut ketepatan, ketenangan, dan kepercayaan. Di Manislor, proses ini ditopang oleh tiga tenaga teknisi bersertifikat yang menjadi simpul penting antara kematian dan kehidupan.

Mereka adalah Bidan Leni, Bidan Latifa, dan Rusdi—Kepala Desa Manislor yang juga menjabat sebagai Kepala Bank Mata Kuningan. Ketiganya bukan hanya tenaga medis atau administratif. Mereka adalah penjaga etika. Orang-orang yang masuk ke rumah duka dengan langkah perlahan, membawa instrumen medis sekaligus empati.

Proses pengambilan kornea dilakukan dalam waktu yang terbatas setelah kematian. Ia menuntut kesiapan teknis sekaligus kesiapan emosional keluarga. Tidak semua keluarga berada dalam kondisi stabil ketika keputusan itu harus diambil. Di sinilah peran para teknisi menjadi krusial, bukan untuk memaksa, melainkan mengingatkan kembali pada niat yang pernah diucapkan almarhum semasa hidup.

Agus sering menyebut proses ini sebagai “kerja sunyi.” Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorotan. Setelah kornea diambil, tubuh almarhum dikembalikan dalam kondisi terhormat, siap dimakamkan. Tidak ada perubahan mencolok.

"Tidak ada tanda heroik. Yang berubah hanyalah satu hal di tempat lain, seseorang mungkin akan kembali melihat," terangnya.

Di Manislor, profesionalisme medis berjalan berdampingan dengan kedekatan sosial. Para teknisi mengenal hampir semua warga. Mereka tahu silsilah keluarga, riwayat kesehatan, dan latar belakang sosial calon donor. Kepercayaan inilah yang membuat proses donor berjalan konsisten selama lebih dari satu dekade.

Masjid An Nur di Desa Manislor, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan

3. Cahaya yang tidak memilih

Kornea-kornea dari Manislor tidak pernah bertanya siapa yang akan menerimanya. Ia tidak memilih agama, suku, atau latar belakang ekonomi. Begitu dilepaskan dari tubuh pendonor, ia menjadi milik siapa pun yang membutuhkan.

Agus menyebut, di sinilah makna terdalam dari gerakan donor mata di Manislor: universalitas manfaat. Sebuah tindakan yang lahir dari komunitas minoritas, tetapi ditujukan untuk kemanusiaan secara luas. Dalam dunia yang kerap membangun sekat identitas, Manislor justru melepasnya.

Menurutnya, bagi warga desa, donor mata bukan tentang pengakuan. Bukan pula tentang citra. Ia adalah cara sederhana untuk tetap berguna setelah hidup selesai. Sebuah gagasan yang mungkin terdengar filosofis, tetapi dijalani dengan praktik yang sangat konkret.

Ketika malam turun di Manislor, lampu-lampu rumah menyala satu per satu. Di balik cahaya itu, ada kesadaran kolektif kalau sebagian dari mereka kelak akan memadamkan lampu terakhirnya, namun menyalakan cahaya di tempat lain. Mungkin di kota yang jauh. Mungkin di wajah seseorang yang tak pernah mereka kenal.

Desa ini mengajarkan kalau kemanusiaan tidak selalu hadir dalam gebrakan besar. Kadang ia hadir dalam keputusan kecil yang konsisten. "Kami bersedia menyerahkan sesuatu yang paling personal yaitu penglihatan untuk masa depan orang lain," tutupnya.

Editorial Team