Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi longsor (IDN Times/Sukma Shakti)
Ilustrasi longsor (IDN Times/Sukma Shakti)

Intinya sih...

  • Kondisi tanah dan air berubah perlahan, memicu pergerakan lapisan tanah dan longsor secara tiba-tiba.

  • Aktivitas manusia seperti pembangunan dan penebangan pohon mengganggu keseimbangan alam, meningkatkan risiko longsor.

  • Minimnya drainase dan pengelolaan lingkungan menyebabkan tekanan air di dalam tanah, memperparah risiko longsor.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang mengira longsor hanya terjadi di lereng curam atau wilayah pegunungan ekstrem. Padahal, beberapa kasus longsor justru muncul di daerah yang tampak landai dan selama ini dianggap aman. Persepsi ini sering membuat warga lengah.

Wilayah yang terlihat stabil belum tentu bebas dari ancaman longsor. Faktor alam dan aktivitas manusia dapat mengubah kondisi tanah secara perlahan tanpa disadari. Akibatnya, longsor bisa terjadi secara tiba-tiba.

Kurangnya pemahaman soal penyebab longsor membuat risiko sering kali terabaikan. Padahal, mengenali faktor-faktor pemicunya bisa membantu masyarakat lebih waspada dan siap menghadapi potensi bencana.

Lalu, apa yang membuat longsor bisa terjadi di daerah yang terlihat aman? Berikut beberapa penjelasan pentingnya.

 

1. Kondisi tanah dan air yang berubah perlahan

Ilustrasi tanah longsor. (IDN Times/Aditya Pratama)

Tanah yang tampak kokoh di permukaan bisa saja rapuh di lapisan bawahnya. Struktur tanah tertentu, seperti tanah lempung, mudah menyerap air dan kehilangan daya ikat saat jenuh air, terutama setelah hujan berkepanjangan.

Air yang terus meresap ke dalam tanah akan menambah beban dan memicu pergerakan lapisan tanah. Proses ini sering berlangsung perlahan sehingga sulit terdeteksi hingga akhirnya terjadi longsor.

2. Aktivitas manusia yang mengganggu keseimbangan alam

Ilustrasi longsor. (Dok. Polres Musi Rawas)

Pembangunan rumah, jalan, atau saluran air tanpa perhitungan matang dapat mengganggu kestabilan tanah. Penebangan pohon, pemotongan lereng, hingga penimbunan tanah menjadi faktor yang kerap diabaikan.

Akar pohon berfungsi menahan tanah agar tetap stabil. Saat vegetasi berkurang, tanah kehilangan penopangnya dan lebih mudah bergerak, meski wilayah tersebut sebelumnya tidak pernah mengalami longsor.

3. Minimnya drainase dan pengelolaan lingkungan

ilustrasi tanah longsor (pexels.com/Franklin Peña Gutierrez)

Sistem drainase yang buruk membuat air hujan menggenang dan meresap berlebihan ke dalam tanah. Kondisi ini meningkatkan tekanan air di dalam tanah dan memicu longsor, bahkan di area yang terlihat datar.

Selain itu, kurangnya perawatan lingkungan seperti saluran air tersumbat dan sampah yang menumpuk turut memperparah risiko. Lingkungan yang tidak terkelola dengan baik bisa berubah menjadi titik rawan longsor tanpa disadari.

Longsor bukan hanya soal kemiringan lereng, tetapi juga tentang keseimbangan alam yang terus berubah. Daerah yang terlihat aman tetap perlu diwaspadai jika tanda-tanda risikonya mulai muncul.

Menurut kamu, faktor apa yang paling sering diabaikan di lingkungan sekitar?

Editorial Team