Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi media sosial (unsplash.com/RobHampson)
ilustrasi media sosial (unsplash.com/RobHampson)

Intinya sih...

  • Kelelahan mental akibat paparan tanpa hentiArus informasi yang tak pernah berhenti membuat banyak anak muda merasa lelah secara mental. Timeline dipenuhi berita negatif, perbandingan hidup, hingga tuntutan untuk selalu responsif.

  • Kesadaran baru soal kesehatan mental dan fokusKesadaran akan pentingnya kesehatan mental semakin menguat. Banyak anak muda menyadari bahwa fokus dan kualitas hidup mereka membaik saat waktu layar berkurang.

  • Media sosial tak lagi jadi satu-satunya validasiDi awal 2026, validasi sosial mulai bergeser. Likes, views, dan komentar tak lagi sepenting dulu bagi sebagian anak muda.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Awal 2026 ditandai dengan satu kebiasaan baru di kalangan anak muda: mengurangi penggunaan media sosial. Bukan karena teknologi ditinggalkan, melainkan karena relasi dengan dunia digital mulai dievaluasi ulang.

Bagi milenial dan Gen Z, media sosial sempat menjadi ruang utama untuk berekspresi, mencari informasi, hingga membangun relasi. Namun, intensitas yang berlebihan justru memunculkan kelelahan mental yang tak selalu disadari.

Fenomena ini terlihat dari semakin populernya fitur pembatas waktu layar, detox digital, hingga keputusan sadar untuk tidak selalu aktif di platform tertentu. Banyak yang mulai memilih hadir seperlunya, bukan terus-menerus.

Lalu, apa sebenarnya alasan di balik tren mengurangi media sosial di awal 2026 ini?

1. Kelelahan mental akibat paparan tanpa henti

ilustrasi seseorang sedang bermain media sosial (pexels.com/cottonbro studio)

Arus informasi yang tak pernah berhenti membuat banyak anak muda merasa lelah secara mental. Timeline dipenuhi berita negatif, perbandingan hidup, hingga tuntutan untuk selalu responsif.

Alih-alih merasa terhubung, sebagian justru merasa cemas dan tertekan. Mengurangi media sosial menjadi cara paling realistis untuk memberi jeda bagi pikiran tanpa harus benar-benar menghilang dari dunia digital.

2. Kesadaran baru soal kesehatan mental dan fokus

ilustrasi detox media sosial (pexels.com/GustavoFring)

Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental semakin menguat. Banyak anak muda menyadari bahwa fokus dan kualitas hidup mereka membaik saat waktu layar berkurang.

Media sosial sering kali mencuri perhatian secara halus namun konsisten. Dengan membatasi penggunaannya, anak muda merasa lebih hadir di dunia nyata, lebih fokus bekerja, dan punya waktu untuk diri sendiri.

3. Media sosial tak lagi jadi satu-satunya validasi

ilustrasi bermain media sosial (freepik.com/marymar)

Di awal 2026, validasi sosial mulai bergeser. Likes, views, dan komentar tak lagi sepenting dulu bagi sebagian anak muda.

Banyak yang memilih membangun koneksi lebih intim di dunia nyata atau lingkaran kecil digital. Sukses, bahagia, dan produktif tak harus selalu diumumkan ke publik.

Mengurangi media sosial bukan berarti anti-teknologi, melainkan bentuk adaptasi yang lebih sehat. Anak muda tetap online, tapi dengan kontrol yang lebih sadar.

Pada akhirnya, keputusan untuk mengurangi media sosial adalah upaya menjaga diri di tengah dunia yang serba cepat. Kalau kamu sendiri, apakah masih nyaman dengan intensitas media sosial saat ini, atau justru mulai ingin menguranginya?

Editorial Team