Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
WhatsApp Image 2026-02-11 at 3.45.31 PM.jpeg
Sate Sineret Hadori di Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Intinya sih...

  • Hanya tersedia 40–50 tusuk per hari - Satu ekor kambing hanya menghasilkan sekitar 40–50 tusuk sate sineureut. - Pembeli harus memesan satu hingga dua hari sebelumnya.

  • Resep turun-temurun sejak era 1940 - Daging dipotong presisi, dimarinasi dengan bumbu racikan lama, lalu langsung dibakar setelah dipotong. - Pengolahan langsung di lokasi membuat daging tetap segar dan tidak berbau prengus.

  • Varian menu kambing terus ditambah - Selain sate sineureut, Sate Hadori juga menjual sate kambing polos, campur lemak, ayam, sapi, hingga gulai kambing.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times – Warung legendaris Sate Hadori di Jalan Naripan, Kota Bandung, masih mempertahankan salah satu menu andalannya sejak puluhan tahun lalu, yakni sate sineureut. Menu ini kembali jadi perbincangan karena jumlahnya sangat terbatas dan harus dipesan terlebih dahulu.

Owner Sate Hadori, Ita Sukamawati, mengatakan sate sineureut sudah ada sejak warung tersebut berdiri sekitar 1940. Berbeda dari sate kambing biasa, menu ini menggunakan daging kambing bagian has dalam atau bagian bawah punggung.

“Sineureut itu bagian has dalam, jadi dia bagian paling empuk,” kata Ita saat ditemui, Jumat (13/2/2026).

Keterbatasan bahan baku membuat tidak semua pengunjung bisa langsung membelinya. Dalam satu hari, satu ekor kambing hanya menghasilkan puluhan tusuk sate jenis ini.

1. Hanya tersedia 40–50 tusuk per hari

Sate Sineret Hadori di Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Ita menjelaskan, satu ekor kambing hanya bisa menghasilkan sekitar 40–50 tusuk sate sineureut. Karena itu, pembeli harus memesan satu hingga dua hari sebelumnya.

“Kalau mau harus waiting list dulu sehari atau dua hari sebelumnya,” ujarnya.

Tekstur dagingnya lebih empuk dibanding bagian lain karena berasal dari potongan premium kambing.

2. Resep turun-temurun sejak era 1940

Sate Sineret Hadori di Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Sate Hadori mempertahankan metode pengolahan tradisional keluarga. Daging dipotong presisi, dimarinasi dengan bumbu racikan lama, lalu langsung dibakar setelah dipotong.

Pengolahan langsung di lokasi membuat daging tetap segar dan tidak berbau prengus. Ita menyebut resep yang dipakai masih mengikuti racikan pendiri warung.

“Kami tetap mempertahankan resep dan bumbu yang digunakan kakek,” katanya.

3. Varian menu kambing terus ditambah

Sate Sineret Hadori di Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Selain sate sineureut, Sate Hadori juga menjual sate kambing polos, campur lemak, ayam, sapi, hingga gulai kambing. Di cabang Jalan Natuna, mereka menambah menu baru seperti gulai kepala kambing dan nasi goreng kambing.

Cabang tersebut ditargetkan mampu menghabiskan sekitar 80 kilogram daging kambing setiap hari, dengan tetap menjaga kualitas daging dari bagian paha belakang yang dianggap paling empuk.

Sate sineureut sendiri tetap menjadi menu paling dicari pengunjung, meski jumlahnya terbatas setiap hari.

Editorial Team